You're My Antidote

You're My Antidote
Berhenti Berdetak



"I-ini apa, bun?" tanya Rani dengan gemetar. Jangankan memakainya, memegangnya saja ia tak berani.


Bunda Adit menyerahkan kotak perhiasan dengan kondisi terbuka yang diletakan diatas meja tepat didepannya. Rani tak berani mengambil dan hanya menatap dengan bingung.


Didalamnya terdapat satu set perhiasan yang Rani sangat yakin ia harus menabung puluhan tahun-dengan kondisinya saat ini-hingga mampu untuk membelinya. Ia bisa tahu harga perhiasan itu karena saat lamaran kemarin, keluarga Raja juga membawa satu set serupa meski dengan model yang berbeda. Dari surat-surat didalam kotak itulah ia tahu.


Bahkan pemberian dari keluarga Raja hanya ia simpan didalam lemari tanpa berani ia pakai.


"Untuk kamu." ucap bunda Adit. "Hadiah untuk pernikahan kalian." wanita paruh baya itu tersenyum padanya dan Raja bergantian.


Rani bingung dan tak percaya. Mereka bahkan baru mengenal hitungan hari. Tapi kenapa bunda Adit memberinya hadiah bernilai tinggi seperti ini?


Ia menoleh ke arah Raja. Menatapnya meminta bantuan untuk menolak hadiah karena merasa tak pantas. Tapi Raja hanya mengedik acuh, seolah berkata itu bukan urusannya.


"I-ini terlalu berlebihan bun. Kita bahkan baru saling mengenal." tolaknya memberanikan diri.


Bunda Adit tersenyum lembut. Mengusap punggung tangannya yang ada diatas meja. "Raja sudah seperti anak bunda sendiri." mengusap tangan Raja juga dengan tangan yang lainnya. "Bahkan perhiasan ini tidak sebanding dengan rasa terimakasih bunda untuk kamu yang sudah mau menerima anak nakal ini."


Tatapan bunda Adit memang selalu menghangat ketika menatap Raja. Layaknya seorang ibu menatap anaknya sendiri. Entah hanya perasaannya saja atau memang bunda Adit orang yang penyayang seperti itu.


"Ta-tapi.."


"Terima saja. Jangan membuat bunda sedih dengan menolaknya."


Raja mendorongnya dengan kata-kata untuk menerima. Semakin menambah beban untuknya.


Ia merasa tidak nyaman setiap mendapat hadiah berlebihan seperti ini. Ia merasa dirinya tak pantas.


"Benar kata Raja. Bunda akan sedih kalau kamu menolak hadiah ini."


Dengan berat Rani menerima hadiah itu dan menyimpannya dalam tas.


Bunda Adit bahkan sampai memeluknya merasa senang pemberiannya diterima.


"Saya akan menyimpan baik-baik hadiah dari bunda ini. Sekali lagi terimakasih bun. Meskipun saya tidak tahu harus membalas dengan apa nantinya."


Bunda Adit menggeleng. "Cukup dengan kamu memakainya, bunda sudah senang."


Mereka berpisah setelah makan selesai.


Masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan sebelum ia cuti. Begitu juga dengan Raja yang sudah ditunggu rapat, membuat mereka tak bisa berlama-lama untuk tinggal.


***


Rani meregangkan otot-otot tubuhnya.


Akhirnya pekerjaannya sudah selesai semua. Ia bisa dengan tenang menjalani cuti tanpa memikirkan pekerjaan.


Ketika ia berjalan pulang, banyak ruangan yang sudah gelap ditinggal karyawan. Jam pulang memang sudah berlalu dua jam yang lalu. Jadi tak heran banyak ruangan yang sudah kosong. Berbeda dengan lantai-lantai dibawah yang pasti masih ramai.


Berbelok dikoridor menuju lift, ia melihat Raja tengah memarahi beberapa karyawan wanita.


"Bukannya kak Raja ada meeting?" gumamnya.


Ia memang tidak menemani Raja untuk meeting karena pekerjaannya masih banyak. Sebagai gantinya, Lura yang menemani atasannya itu.


Semakin mendekat, semakin jelas suara Raja dan apa yang mereka ributkan.


"Seberapa baik kalian, hingga menganggap wanita lain lebih rendah?!" belum pernah Rani melihat Raja semarah itu. "Apa kalian merasa lebih cantik? lebih hebat?!"


Empat karyawati yang dimarahi Raja hanya menunduk takut.


Jika ia yang ada di posisi mereka, ia juga pasti akan takut melihat kemarahan Raja seperti itu.


Rani menggeleng melihat Raja mengancam seperti itu.


Raja jarang berbicara panjang lebar kecuali saat rapat atau membahas pekerjaan. Bahkan Rani yakin Raja tidak pernah berbicara dengan karyawan yang tidak bekerja langdung dengan pria itu selama ini. Jadi Rani yakin para perempuan itu pasti syok mendengarnya.


Tatapan mereka beradu ketika Raja berbalik kearahnya. Rani masih berdiri ditempat ketika Raja berjalan kearahnya dan menarik menuju arah berlawanan.


Langkahnya terseret tak dapat mengikuti langkah lebar dan cepat Raja yang menariknya tiba-tiba.


Mereka turun dengan lift yang hanya digunakan oleh para petinggi perusahaan.


Belum sempat Rani bertanya disaat kondisinya masih linglung tak paham dengan apa yang tengah terjadi, Raja sudah berkata dengan tegas. "Kamu pulang dengan saya!"


"Saya bawa motor, pak." ucapnya menolak. Tapi Raja seakan menulikan telinga dan kembali menariknya keluar disaat lift berhenti di basement.


"Mulai besok kamu tidak perlu berangkat kerja." suara Raja lebih tenang ketika mereka sudah duduk didalam mobil.


"Ke-kenapa, pak?" Rani kira ia dipecat dari pekerjaannya. "Maksud bapak saya dipecat? salah saya apa?" tanyanya dengan panik.


Rani mengusap dahinya yang disentil oleh atasannya itu.


"Bodoh!" ejek Raja dengan menyebalkan seperti biasa. Rani mengerucutkan bibirnya kesal. "Kamu cuti lebih cepat untuk persiapan...." ucapan Raja menggantung dan tak dilanjutkan.


Tapi Rani tahu persiapan apa yang Raja maksud. Mungkin Raja masih berat mengatakan jika mereka akan menikah. Seperti dirinya yang masih tak percaya.


Menutupi ketidaknyamanan Raja, Rani membalas. "Salah kak Raja ngomongnya tidak jelas."


Raja langsung menjalankan mobilnya keluar dari basement, berbaur dengan kendaraan lain dijalan raya yang masih padat dijam yang sudah malam.


Belum sampai panti, Raja berbelok memasuki sebuah restoran. "Saya lapar. Kita makan dulu."


Tak ingin menolak atau pun membantah, Rani mengikuti pria itu turun. Tahu betul jika Raja tidak suka di bantah.


Makan malam hanya diisi dengan celotehannya yang tak ditanggapi satu pun oleh Raja. Tapi Rani sudah terbiasa dengan hal itu. Raja masih mau duduk didekatnya dan mendengarkan segala ucapannya saja sudah hal yang luar biasa.


Rani tahu Raja sering kesal mendengarkan ia berbicara tanpa henti. Tapi ia tak pernah peduli. Ia suka menceritakan kesehariannya atau keluhan-keluhan yang ia rasakan pada Raja.


Meski Raja tak pernah merespon atau menenangkan hatinya ketika tengah gundah atau sedih, setidaknya ia merasa nyaman yang tak bisa ia lukiskan setelah menceritakan apa yang terjadi dalam dirinya.


Raja sudah seperti diary hidup untuknya. Hanya mendengarkan tanpa memberi tanggapan.


"Rani." Raja memanggilnya ketika ia akan membuka pintu mobil setelah sampai didepan panti.


"Iya, kak?"


Pria itu terlihat ragu. Tapi tatap matanya tak pernah kehilangan ketenangan.


"Sampai bertemu dihari... pernikahan."


Jantung Rani seakan berhenti berdetak untuk beberapa detik. Ia terpaku tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


Benarkah yang ada disebelahnya itu Raja?


Raja yang tidak pernah berbicara selain hal penting padanya?


Raja yang selalu menganggap keberadaannya sebagai pengganggu?


*


*


*