You're My Antidote

You're My Antidote
Ngidam



Raja sedang meeting dengan klien anak cabang perusahaan Amerika. Ada kendala dalam produksi iklan yang perusahaan periklanan di bawah Shand corp kerjakan. Tema iklan yang mereka kerjaan bocor pada kompetitor. Hingga mereka harus merombak produksi iklan yang sudah setengah jalan.


Klien mereka marah besar bahkan hingga pimpinannya turun langsung. Membuat Raja mau tidak mau harus ikut turun tangan langsung karena Om Rafi tengah dinas ke luar negeri.


Ponselnya bergetar di tengah meeting. Raja paling anti mengangkat telepon di saat-saat seperti itu. Tapi karena nama pemanggil adalah sang istri yang sangat jarang menghubunginya lebih dulu, membuat Raja meminta break. Kebetulan mereka juga belum makan siang. Meski mereka meeting di restoran.


Koki langsung di panggil untuk menyiapkan makan siang mereka. Sementara Raja sudah menyingkir untuk mengangkat panggilan dari sang istri. Ia takut ada sesuatu hal yang penting hingga istrinya sampai menghubunginya lebih dulu padahal Rani tahu ia tengah ada meeting.


Benar saja. Raja di buat panik mendengar suara istrinya yang terdengar sedih. Ia takut ada karyawan yang kembali mengusik istrinya.


Raja baru bisa bernapas lega ketika tahu penyebab sesungguhnya sang istri bersedih. Meskipun ia juga bingung harus membeli apa. Sedangkan Rani sendiri saja tidak tahu apa yang diinginkan.


Raja memijit dahinya ketika ikut bergabung dengan yang lain. "Apa ada masalah, pak?" tanya Musa yang juga baru duduk di sebelahnya entah darimana.


"Kamu tahu sebenarnya istri saya mengidam apa?"


Musa hanya menatapnya bingung. Mungkin Musa tengah mengumpat padanya dalam hati. Karena ia yang jelas-jelas suaminya saja tidak tahu, apa lagi Musa yang tidak mengenal Rani.


Raja berdecak dan mengibaskan tangannya. "Sudahlah. Jomlo mana tahu."


Musa menggaruk tengkuknya aneh. Bekerja bertahun-tahun dengan Raja, meski tidak setiap hari bertemu. Musa baru menyadari jika bosnya bisa seaneh itu. Lebih tepatnya menyebalkan.


Meeting berjalan lancar dengan kesepakatan yang mereka peroleh. Raja mengajukan tema baru yang langsung di setujui oleh klien. Raja bisa bernapas lega ketika satu masalah terselesaikan. Meskipun perusahaannya tetap harus menanggung kerugian produksi yang sudah mulai berjalan. Juga ia yang masih memiliki PR mencari tahu siapa mata-mata yang ada di diperusahaanya.


Tidak harus Raja memang. Ada direktur di tiap anak perusahaan Shand corp. Raja hanya harus menekan mereka untuk bertindak tegas dan memusnahkan tikus-tikus yang ada dalam perusahaan.


Raja yang merasa steak wagyu yang ia makan tadi enak pun memesan untuk ia take away. Ditambah sushi platter dengan isian lengkap. Juga beberapa desserts dan jus.


"Anda yakin nona Rani akan menghabiskan semuanya, pak?"


Raja mengedik tak yakin. Membiarkan Musa kerepotan membawa beberapa paper bag berisi makanan yang ia pesan. Makanan yang cukup untuk empat hingga lima orang.


Ia cukup antusia meski sedikit pusing untuk ngidam pertama sang istri. Untuk itu ia membeli semua yang dirasa enak.


"Carikan kursi kantor khusu untuk ibu hamil." titah Raja pada sang asisten yang duduk di sebelah supir. "Cari yang paling nyaman berapa pun harganya." imbuhnya ketika Musa menoleh padanya.


Jika Rani bersikeras untuk tetap bekerja hingga usia kandungannya tujuh bulan. Maka Raja akan membuat suasana yang nyaman untuk Rani di kantor.


Sebagian besar tugas yang biasanya Rani pegang, kini sudah beralih pada Musa. Raja hanya memberi tugas ringan untuk sang istri.


"Baik, pak."


"Usahakan besok pagi sudah ada di kantor."


***


"Rani kan sedang hamil. Dilarang makan makanan mentah!"


Padahal ada beberapa makanan yang Raja request untuk tingkat kematangan sempurnya karena ingat pesan dokter Fani. Kecuali beberapa sushi yang memang menggunakan ikan mentah.


"Steaknya matang sempurna sayang." bujuknya mengingat istrinya yang belum makan siang padahal jam sudah menunjukan pukul setengah tiga.


Rani menggeleng. Melipat tangan didada dan menolak makanan yang ada. "Rani mau makan gurame asam manis buatan mas saja."


Raja menarik napasnya dan menghembuskannya sembari mengulas senyum. "Nanti mas masakin untuk makan malam. Mas minta mbak Eni untuk belanja. Tapi sekarang kamu makan dulu. Kasihan anak kita sayang." bujuk Raja.


"Janji?"


Raja mengangguk dan senyumnya lebih lebar ketika berhasil membujuk istrinya yang masih memasang wajah cemberut.


"Mas janji." sahutnya cepat sebelum istrinya berubah pikirkan. "Sekarang kamu makan. Mas lanjut kerja biar bisa pulang tepat waktu."


Pekerjaan yang Raja tinggalkan lebih dari dua minggu masih menumpuk di atas meja. Musa sudah memperingatkannya untuk segera memeriksa dokumen-dokumen itu dan menandatanganinya agar operasional perusahaan berjalan lancar. Karena banyak berkas penting yang menunggu persetujuanya.


"Baiklah. Mas kerja saja." ujar Rani mulai menyuap steak kedalam mulut. "Dini juga sudah menggerutu karena di rong-rong bagian produksi yang menunggu acc mas tentang acara baru untuk RR.TV. Juga acara kartun yang berhasil kita menangkan untuk tayang di SS.Tv."


Raja langsung kembali ke meja kerjanya untuk memeriksa berkas yang Rani sebutkan. Sepertinya akan sulit untuknya pulang tepat waktu. Kecuali ia membawa berkas-berkas itu pulang dan mengerjakannya tengah malam nanti setelah istrinya tidur.


Raja baru merasa sulit membagi waktunya untuk bekerja. Karena semakin hari semakin banyak tanggung jawab yang diberikan padanya setelah posisi wakil direktur utama kosong dan Om Rafi tidak di kantor.


Padahal dulu sepulang kerja, ia masih memiliki waktu bermain di club bersama teman-temannya tanpa memikirkan pekerjaan. Tapi sekarang untuk mendekap istrinya lebih lama di atas ranjang saja rasanya sulit ia lakukan.


Puluhan anak cabang yang di naungi Shand corp belum mampu Raja kendalikan seorang diri. Bahkan Maira-direktur keuangan di kantor pusat yang juga menjabat sebagai CEO di Shand Financial services yang membawahi beberapa asurasi, bank dan uang elektronik-juga sempat mengeluh padanya dengan beban tugas yang di emban.


Hanya Maina yang cukup santai hanya memegang bagian legal. Karena anak itu lebih senang bermain dengan teman-temannya dari pada mengurus perusahaan keluarga.


Satu jam kemudian.... "Kamu yakin perutmu tidak akan sakit, sayang?" Raja kembali mendekati sang istri yang bersandar kepayahan dan menyodorkan segelas air minum.


"Ternyata enak mas." jawab Rani tersenyum hingga semua giginya terlihat.


Raja dibuat menggeleng dengan kelakuan istrinya yang tadi menolak dengan tegas makanan yang ia bawa tapi sekarang hampir separuh makanan yang ada di atas meja berpindah ke perut Rani yang kecil.


"Dua kali lipat porsi makan lho sayang? kamu yakin perutmu tidak bermasalah?" Raja sedikit khawatir. Meski dokter Fani sudah menjelaskan bahwa nanti porsi makan Rani mungkin akan bertambah dua kali lipat bahkan lebih. Hanya saja Raja tidak percaya akan secepat ini perubahan istrinya. Padahal anak mereka masih begitu kecil. Apa napsu makannya bisa sebesar itu?


*


*


*