
"Mama baik-baik saja, Raja." sudah tak terhitung lagi berapa kali mama mengatakan hal seperti itu padanya. Dari mulai ia yang panik dan tergesa mendekati mama saat membuka pintu ruang rawat VIP tempat mama dirawat. Panik saat mama terlihat tersengal saat batuk. Dan sekarang saat ia melarang mama untuk beranjak duduk.
Selain ia, papa juga setia mendampingi mama. Pria paruh baya itu tak sedetikpun meninggalkan tempat duduk disamping brangkar mama dengan raut khawatir yang sama seperti dirinya.
Segala keperluan dan urusan rumah sakit, papa serahkan semuanya pada Om Rafi dan Tante Selina.
"Lebih baik kamu pulang. Ajak istri kamu istirahat dirumah. Kalian pasti lelah." Raja menoleh menatap sang istri yang tengah berbincang dengan Tante Selina. Membicarakan perjalanan bulan madu mereka. Tak sekalipun Raja melihat wajah lelah, yang ada perasaan menggebu yang tersalurkan lewat cerita. "Lagi pula mama sudah cukup pusing menghadapi keposesifan papa kamu. Jangan semakin membuat mama pusing dengan kamu bertingkah sama." imbuh mama kembali menarik perhatiannya.
"Mama pusing? mau Raja panggilkan dokter?"
"Biar aku panggilkan dokter."
Raja dan sang papa berucap bersamaan. Sama-sama terlihat panik dan berlebihan. Padahal mama baik-baik saja, menatap ia dan papa dengan helaan napas panjang.
"Sepertinya percuma menyuruh kalian pergi. Lebih baik mama tidur saja." mama mengalah dan memejamkan mata.
Disofa Tante Selina dan Rani menertawakan mereka. Tak ketinggalan juga gelengan kepala dari keduanya.
"Kalau Selin jadi mama. Selin juga kesel sih pah." ejek Tante Selina pada papa yang bersikap acuh tak menanggapi. Tapi pria yang duduk diseberangnya itu beranjak dan duduk disamping Tante Selin. Terlihat wajah lelah diraut senjanya. Entah hanya berapa jam papa tidur selama mama masuk rumah sakit.
Mama memang hanya kelelahan. Tapi sempat demam dan tidak sadarkan diri. Meskipun dokter sudah membolehkan mama untuk pulang begitu infus pertama habis, tapi papa bersikeras menahan mama di rumah sakit hingga mama benar-benar sembuh dan tidak ada yang dikeluhkan lagi.
Jangankan sampai pingsan. Mama hanya sakit flu saja, papa selalu berlebihan menanggapinya. Secinta itu papa pada mama. Pada wanita yang konon adalah mantan pacar yang pernah diselingkuhi. Wanita senja yang kini kesehatannya mulai terganggu dan membuat ia dan keluarga khawatir.
Ternyata papa pindah duduk karena mengantuk dan ingin tidur.
Mungkin merasa ada ia yang bisa diandalkan sebagai laki-laki hingga papa bisa sejenak memejamkan mata ketika mama juga mulai tidur.
"Kamu mau pulang? biar nanti aku minta sopir buat antar kamu pulang?" tanya Raja ketika Rani duduk disebelahnya. Dengan menarik kursi yang sebelumnya digunakan papa.
Rani menggeleng dan menyandarkan kepala di bahunya. Tante Selin izin keluar untuk membeli makan siang untuk mereka. "Rani disini saja menemani kak Raja."
"Bukan menjaga mama?"
"Itu yang utama. Tapi karena mama sudah memiliki pejaga super sigap seperti Kak Raja dan papa. Jadi Rani disini menemani Kak Raja saja."
Rani menggenggam dan mengusap punggung tangan milik Raja dengan ibu jari. Hal yang sama dilakukan wanitanya itu ketika didalam mobil. Seakan mencoba menenangkannya dari rasa gelisah yang tak sanggup ia ungkapkan pada siapa pun.
Dan entah didetik keberapa, Raja terlelap dengan menumpukan kepalanya diatas kepala sang istri. Mungkin karena semalaman ia tidak bisa tidur, hingga perasaan nyaman yang istrinya berikan mampu membuatnya begitu cepat terlelap.
***
Dalam tidur, Raja kembali pada ruangan gelap mencekam yang selama ini coba ia lupakan. Membuatnya mendesah, kapan mimpi-mimpi seperti ini akan berakhir.
Ruang gelap yang membuat tubuhnya menggigil ketakutan. Bau anyir seperti perpaduan garam dan karat yang berasal dari darah yang bersimbah dihadapannya terasa sangat nyata di indra penciumannya. Meski hanya sebuah mimpi, tapi Raja ingat betul suasana dan aroma diruang tamu rumah masa kecilnya itu.
Kali ini, Raja melihat bagaimana papi membuat mami meninggal. Mata mami melebar. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang keluar dari sana. Dulu saat Raja harus memberikan kesaksian pada polisi, ia mendengar mami meninggal dengan dua luka tusukan. Paru-paru dan jantung. Sedangkan papi satu tusukan dibagian perut.
Ya. Papi membunuh mami dan memilih mengakhiri hidup setelahnya. Keduanya bertengkar hebat setelah makan malam. Bahkan saat Raja belum selesai dengan makanan miliknya.
Raja tak begitu yakin dengan penyebab pertengkaran mereka. Seakan sudah menjadi makanan wajib untuknya setiap hari, semakin besar Raja semakin tidak peduli. Ia lebih memilih menyumpal telinganya dengan earpod dari pada ia harus sakit hati mendengar mami yang selalu membawa namanya menjadi alasan mereka bertengakar. Karena kelahirannya yang membuat ibunya itu harus merelakan karir yang tengah menanjak.
Padahal Raja juga tidak pernah meminta untuk lahir dari rahim maminya. Meski ia tetap mengucapkan terimakasih dengan tulus karena mami sudah mengizinkannya mendiami rahim wanita itu selama kurang lebih sembilan bulan. Dan sudah berjuang melahirkanya meskipun mami membencinya. Dan masih membencinya sebaik apa pun ia berusaha untuk tumbuh menjadi anak yang baik dan membanggakan bagi mami.
"Raja.. Anak kebanggaan papi.." suara papi terdengar melirih dengan darah yang merembes semakin banyak dari area perut.
Sungguh Raja benci papi mengatakan itu.
Kalau papi bangga padanya. Harusnya papi bertahan menemaninya tumbuh dewasa. Bukan malah meninggalkannya dengan cara seperti itu.
Atau papi terlalu pengecut telah membunuh mami. Karena papi yang paling tahu hukum apa yang didapat untuk orang-orang seperti papi.
"Cukup! CUKUP!" pertama kalinya Raja melawan dalam mimpi. Ia tidak ingin lagi mendengar papi memohon maaf dan sebagainya. Raja lelah. Sungguh ia lelah.
"Kak.. Kak Raja."
"Raja."
"Nak, bangun."
"Raja."
Raja mendengar suara saling bersahutan mencoba menariknya dari mimpi mengerikan itu. Membuat bayang-bayang mami dan papi yang bersimbah darah memudar berganti cahaya putih menyilaukan.
Raja membuka matanya perlahan. Menatap satu persatu orang yang mengelilinginya yang masih tertidur dengan posisi duduk. Bedanya ia sudah tak lagi berbantal kepala Rani, melainkan bahu istrinya itu.
Wajah Rani satu-satunya yang tak terlihat terkejut diantara wajah-wajah panik disekelilingnya. Terutama mama yang menatapnya dengan khawatir.
"Kamu mimpi buruk lagi, Nak?" tanya mama langsung ketika ia sudah mulai bisa membedakan mana mimpi dan mana kenyataan.
Raja berdeham untuk meringankan tenggorokannya yang terasa kering. Disaat yang sama Tante Selina menyodorkan gelas berisi air putih yang langsung ia minum sampai habis.
"Hanya mimpi biasa. Mam tidak perlu khawatir." ucapnya berusaha setenang mungkin. Meski Raja yakin mereka tidak akan percaya dan akan menyelidikinya nanti.
Bagaimana mereka bisa percaya jika wajahnya ketika bermimpi selalu pucat. Berkeringat dingin dan nafas tersengal.
Tapi selama mereka tidak memperpanjang. Raja tidak akan menceritakanya. Ia tidak ingin membuat mama khawatir dan menambah pikiran hingga semakin sakit. Mungkin itu juga alasan papa dan tante Selin tidak mendesaknya.
*
*
*