You're My Antidote

You're My Antidote
Bujukan Menyayat



Raja mengirim Musa dan dokter Fani ke apartemen Rere. Mengirim bantuan sebisa yang ia lakukan. Demi rasa kemanusiaan dan persahabatan yang terjalin lama antara mereka dulu.


Beberapa saat setelah Musa datang ke ruangannya dan pergi sesuai interuksi yang ia berikan, Rani kembali mencecar jawaban atas pertanyaan yang belum sempat ia jawab.


Sebenarnya Raja sengaja tak menjawab. Dan terselamatkan dengan kedatangan Musa ke ruangannya. Berharap Rani akan melupakan pertanyaan itu setelahnya. Tak mengira istrinya masih menunggu dan terlihat lebih berbahaya jika tak ia jawab.


"Aku tidak pernah mengingat-ingatnya, sayang."


Memang benar Raja tidak pernah mengingat-ingat bagaimana dulu ia melakukannya bersama Rere. Meski tak di pungkiri ketika Rani menanyakan hal itu, Raja kembali mengingatnya. Dan langsung ia tepis jauh-jauh.


"Tapi ingat kan?" desak Rani. Tak puas dengan jawaban Raja yang memilih aman.


"T-tidak." jawab Raja. Masih mencoba jawaban lain agar tidak membuat istrinya marah.


"Bohong!" sahut Rani langsung dengan mata memicing tajam.


"Oke, oke." menyerah Raja. "Tapi harus kamu tekankan kalau aku tidak pernah mengingat-ingatnya, oke?"


Dengan tak yakin, Rani mengangguk.


"Kita tidak bisa menghapus memori yang tidak kita inginkan di kepala kita." ujar Raja. "Kalau bisa, mungkin aku sudah menghapus ingatan menyakitkan itu." tuturnya kemudian. Ingatan tentang kematian orang tuanya.


"Saat kamu bertanya, aku kembali mengingatnya, sayang." Raja menggenggam tangan Rani di tangan kiri dan tangan kanannya mengusap pipi istrinya yang berisi. "Tapi selama ini, tak sekalipun aku mengingatnya. Karena bagiku itu bukan sesuatu yang penting."


Rani terlihat bisa menerima jawaban yang ia berikan. Meski masih dengan ekspresi masan dan bibir mencebik. "Enakan mana?"


Raja tersedak ludahnya sendiri mendengar pertanyaan vulgar sang istri. "Tentu saja istriku sayang." peluknya cepat. Tak ingin membuat Rani semakin masam menunggu jawaban darinya yang justru akan membuat istrinya curiga.


"Bohong!" bahkan Rani masih tidak percaya, secepat apa pun ia menjawab. "Mereka kan sudah pro. Sedangkan Rani baru belajar."


"Tapi mereka tidak bisa memberikan apa yang kamu berikan untukku."


"Apa?"


"Virg*n." bisik Raja. "Dan aku tidak pernah seliar ketika bermain denganmu."


"Bohong!"


Giliran Raja mencebik. Kenapa istrinya sulit sekali percaya padanya. "Apa yang aku lakukan dengan mereka dulu, hanya sebatas menuntaskan apa yang harus aku keluarkan."___"Sedangkan denganmu, aku membawa hati dan hasrat bersamaan."


Raja yakin, jika tidak dalam keadaan hamil, Rani tidak akan menanyakan hal-hal seperti ini. Rani lebih memilih menerima masa lalunya dari pada mengungkitnya seperti saat ini.


Mereka saling tatap dalam diam. Rani menyelami kesungguhan dan kejujurannya. Sedangkan Raja memyakinkan sang istri lewat tatap.


Ditengah keheningan itu, ponsel Raja berdering. Raja mengambil benda persegi yang tergeletak di atas meja kaca di depannya. Menunjukan pada sang istri, siapa yang menghubunginya.


"Musa." Raja mengangkat panggilan ketika Rani mengangguk mempersilakannya untuk mengangkat.


Raja di buat kaget dengan laporan yang Musa berikan. "Apa wanita itu sudah gila! Apa dia mencoba membunuh anak dan dirinya sendiri!"


Raja tak habis pikir dengan Rere yang menolak di bawa ke rumah sakit padahal sudah ada indikasi bermasalah dengan kandungannya.


Rere mengalami pendarahan ringan yang kemungkinan bisa menjadi parah jika tidak segera di bawa ke rumah sakit dengan penanganan yang tepat dan peralatan yang lengkap.


"Oke, aku ke sana!"


Raja memutuskan sambungan dan menatap sang istri. Menggenggam tangannya erat. "Sayang.. Kamu percayakan kan denganku?"


"Ini menyangkut nyawa manusia, sayang.." ucapnya lembut. "Eh bukan. Dua nyawa manusia."


"Jelasin saja dulu."


Raja menjelaskan kondisi Rere saat ini secara detail seperti apa yang Musa sampaikan padanya sesuai diagnosa dokter Fani.


"Aku hanya ingin membantu membujuknya. Karena bagaimanapun Rere tidak mengenal Musa dan dokter Fani, jadi wajar jika dia tidak percaya."


"Lalu kalau mas yang membujuk, dia akan percaya?"


"Kita tidak tahu." jawab Raja apa adanya. "Tapi aku akan meyakinkannya bahwa media tidak akan mengendus masalah ini dan tidak akan berdampak dengan agensinya."


Rani masih dia berpikir sebelum memberikan izin untuk suaminya.


"Aku juga sudah mengabari Adit. Dan dia sudah dalam perjalanan ke sana."


Raja menunjukan chatnya bersama Adit ketika Rani hanya diam berpikir.


"Kita juga akan memiliki anak. Aku seorang ayah untuk anak kita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau hal itu terjadi pada kalian."


Terdengar helaan napas Rani yang terdengar mengalah. "Oke. Tapi Rani ikut."


Raja mengangguk tersenyum. Membereskan berkas di atas meja dan menghubungi sopir untuk menyiapkan mobil.


Perjalanan cukup memakan waktu lama karena bersamaan dengan jam pulang kantor. Ketika mereka sampai di unit milik Rere, Adit sudah berada disana dan berlutut di kaki ranjang tempat Rere mengerang kesakitan.


"Lo sahabat gue, Re.. Gue nggak mau kehilangan lo." ujar Adit dengan pilu. "Kita kerumah sakit ya?" bujuknya lembut.


"Aku akan memastikan hal ini tidak sampai bocor ke media. Dan kalau pun sampai bocor, aku akan membungkam mereka untuk tidak merilis berita apa pun tentangmu dan agensimu." imbuh Raja yang memasuki kamar Rere dengan menggandeng tangan sang istri.


"Tapi gue takut, Ja... Dit.. Gue takut akan ada yang mengusik anak gue." Rere ditengah kesakitanya berucap pilu.


"Gue yang akan jaga anak ini. Gue yang akan jadi tameng dia paling depan." imbuh Adit menggenggam tangan Rere. "Ayo kita ke rumah sakit sebelum terlambat. Atau lo nggak akan bisa melihat anak lo tumbuh."


Setelah berbagai upaya yang Adit dan Raja lakukan untuk membujuk Rere. Akhirnya Rere setuju setelah mendengar celetuk menyakitkan dari Rani.


"Ibu macam apa yang membiarkan anaknya mati! sekalipun kamu bukan wanita baik-baik, setidaknya berusahalah menjadi ibu yang baik untuk anak itu. Berikan dia perjuangan yang patut dia dapatkan. Bukan malah membiarkan anak yang nggak berdosa itu mati perlahan."


Rere menangis tergugu dan mengangguk. Adit langsung sigap menggendong Rere yang akhirnya tak sadarkan diri.


Ambulan sudah menunggu di luar gedung. Datang bersamaan dengan Raja. Ambulan yang dokter Fani pesan.


Raja dan Rani menyusul ambulan dengan mobil yang di kendarai Musa. Sedangkan Adit dan dokter Fani mendampingi Rere di dalam ambulan.


Raja tahu, meski Rani terlihat tidak menyukai Rere, tapi sebenarnya istrinya itu ikut khawatir dan mendoakan kebaikan untuk Rere dan anak dalam kandungan perempuan itu.


Apa lagi Rani dan Rere sama-sama perempuan dan sama-sama tengah mengandung. Pasti Rani merasa memiliki perasaan yang sama dengan Rere. Meski situasi mereka berbeda. Karena Rani memiliki Raja yang selalu disisinya.


*


*


*