You're My Antidote

You're My Antidote
Usai Akad



"Kakak ipar!"


Rani baru kembali kedalam ballroom setelah mengantar ibu dan adik panti hingga pintu untuk pulang disaat Maira memanggil dan melambai padanya. Aneh mendengar Maira memanggilnya dengan sebutan seperti itu. Akan membutuhkan waktu cukup lama untuk terbiasa dengan statusnya kini.


"Tadi kak Raja titip kartu akses kamar."


Rani menerima kartu kamar hotel dengan gugup setelah Maira mendekat. Kartu kamar yang berbeda dengan kamar yang ia tempati semalam.


Mengedarkan pandangan, Rani tak menemukan keberadaan Raja.


Ia tatap dengan perasaan rumit kartu ditangannya. Ada perasaan enggan untuk memasuki kamar yang akan ia tempati dengan Raja sebelum besok mereka berangkat berbulan madu. Meski ia yakin Raja tidak mungkin macam-macam padanya. Tapi tetap saja. Satu kamar dengan lelaki untuk pertama kalinya membuat jantungnya menggila.


"Kak Raja sudah lebih dulu ke atas." imbuh Maira seperti tahu apa yang ia cari. "Aku juga mau pulang. Jadi.. Selamat bersenang-senang." Maira mengedipkan matanya dengan genit dan melambai sebelum berjalan kearah Maina yang sudah menunggu didekat orang tua keduanya.


Ballroom sudah mulai sepi setelah acara selesai satu jam yang lalu. Hanya tersisa orang tua Raja juga Om Rafi dan istrinya yang tengah berbincang dengan seorang kenalan mereka.


"Lho, Rani masih disini, Nak?" ibu Lintang lebih dulu menyadari keberadaannya ketika ia mendekat untuk pamit. Ia sudah ingin berganti pakaian.


Bukan pakaiannya tidak nyaman. Justru gaun yang ia kenakan sangat nyaman meski terlihat berat. Karena sepupu jauh Raja itu menggunakan bahan yang lembut dan ringan. Hanya saja akan lebih nyaman jika ia memakai pakaian santainya.


"Ini baru akan ke kamar, mah." ibu Lintang memang memintanya memanggil 'mama' sama seperti Raja. Hal yang lagi-lagi tak bisa ia tolak.


"Yasudah sana. Istirahat. Kamu pasti lelah dari pagi."


Rani mengangguk dan pamit pada yang lain juga.


Ia langkahkan kakinya menuju lift. Ia re*as kain didada ketika jantungnya berdebar semakin cepat. Bahkan bunyi pintu yang terbuka saat ia membukanya dengan kartu akses membuat ia berjingkat kaget.


Rani menelan ludahnya dengan susah payah sebelum memberanikan diri memasuki kamar president suit.


Hal pertama yang ia dapati adalah lilin yang berjajar dengan keadaan tidak menyala.


Semakin masuk, kelopak mawar berserakan disekitar tempat tidur dimana Raja terlelap. Sepertinya semua bunga yang berada diatas tempat tidur Raja turunkan semua. Karena biasanya bunga seperti itu akan tertata cantik diatas tempat tidur pengantin bukan?


Pipinya bersemu ketika memikirkan kini ia lah pengantinnya. Tapi setidaknya ia bisa bernapas lega melihat Raja tertidur. Tidak perlu merasa canggung berduaan dengan lelaki itu didalam kamar seperti ini.


Meski mereka sering pergi dinas keluar kota dan menginap bersama. Tapi tak sekalipun ia memasuki kamar tempat Raja menginap.


Rani menatap intens wajah yang tidur terlentang dengan pulas itu. Membuatnya bertanya-tanya, apakah semalam Raja tidak tidur hingga bisa terlelap dalam waktu amat singkat?


Ia mendekat dengan hati-hati. Membantu melepas kaus kaki yang belum terlepas semua dari kaki Raja. Ia lepas juga dasi yang masih tergantung longgar dileher pria itu.


***


Rani tidak berani menaiki tempat tidur Raja. Jadi ia memilih berbaring disofa yang cukup nyaman dan bisa menampung tubuhnya yang kecil.


Mungkin karena tidak terbiasa tidur siang, Rani tidak bisa memejamkan matanya setelah dua jam berlalu. Padahal semalam ia pun tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Haikal : Maaf Ran, tadi pagi papa sakit, jadi aku harus gantiin beliau meeting.


Haikal : Walaupun aku nggak suka orang yang jadi suami kamu itu Raja. Tapi aku tetap doakan kebahagiaan kalian.


Haikal : Jangan ragu buat bilang sama aku, kalau Raja menyakiti kamu. Biar aku yang membalasnya.


Haikal : Meskipun kamu sudah menjadi istri orang. Kita tetap akan bersahabat kan, Ran?


Matanya terasa panas dan pandangannya kabur saat membaca pesan terakhir dari sahabatnya itu.


Rani tahu alasan Haikal absen dari pernikahannya bukan seperti apa yang pria itu katakan. Lebih dari siapa pun, Rani tahu, Haikal bukan orang yang akan berpura-pura bahagia ketika hatinya sendiri tak merasakan hal yang sama.


Haikal tidak pandai menyembunyikan perasaannya sendiri. Dan Rani juga bukannya tidak tahu jika pria itu menyukainya.


Meski ia tidak memiliki perasaan yang sama dengan Haikal. Tapi bukan itu yang menjadi alasannya pura-pura buta. Orang tua Haikal tidak suka jika anak mereka masih berhubungan dengan orang-orang masa lalunya di panti asuhan. Jadi sudah dipastikan jika hubungan mereka tidak akan berjalan baik jika keluarga Haikal saja sudah tidak menyukainya sejak awal.


Rani menghalau bening yang akan jatuh dengan mendongakkan kepala dan mengerjap cepat. Ia tuliskan balasan jika mereka akan selalu menjadi sahabat apa pun yang terjadi. Ia juga berpesan agar Haikal tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.


Ia keluar dari room chatnya dengan Haikal dan beralih kepesan lain dari bunda Adit.


Rani memang sudah tahu jika bunda Adit tidak akan datang ke pernikahannya. Dipertemuan mereka terakhir kali, bunda Adit sudah mengatakan akan pergi keluar negeri menemani suaminya dianas. Untuk itu bunda Adit memberinya kado pernikahan lebih awal.


Pesan dari bunda Adit berisi ucapan selamat dan doa. Beliau juga berjanji akan mengajak ia dan Raja makan malam bersama sekembalinya dari luar negeri nanti.


Pergerakan diatas tempat tidur menarik perhatian Rani. Ia mendekat karena Raja terlihat gelisah dalam tidur.


Wajah pria itu memucat dengan dahi dipenuhi keringat. Rani mengecek pendingin ruangan yang suhunya sudah cukup dingin, dan ia pun merasakannya.


Setelah diperhatikan dengan lebih teliti, Raja tak terlihat seperti orang yang tidak nyaman karena panas. Alis dan dahinya yang mengernyit dan ekspresi wajahnya yang terlihat ketakutan, membuat Rani menebak jika pria itu tengah bermimpi buruk.


Kini kepala Raja bahkan menoleh kekanan dan kekiri semakin terlihat gelisah.


Dengan ragu, Rani duduk di samping pinggang Raja. Ia sentuh bahu Raja dan mengguncangnya. "Kak?" panggilnya lirih. "Kak Raja!" panggilnya lebih keras karena Raja semakin terlihat ketakutan. Wajahnya semakin memucat dan ada setitik air mata terselip di kedua ekor mata pria itu. "Kak Raja bangun!"


Raja seketika membuka matanya lebar. Berjingkat duduk dan memeluknya.


Rani yang kaget tiba-tiba dipeluk, akan mendorong pria itu menjauh. Tapi merasakan napas Raja yang tidak teratur dan pelukan Raja yang sangat erat, Ia mengurungkan niatnya dan membiarkan posisi mereka seperti itu hingga Raja lebih tenang.


*


*


*