You're My Antidote

You're My Antidote
Idola Masa Kecil



Bagi Rani kecil, Raja terlihat keren dimatanya. Dengan kulit putih bersih yang tak ia temui dari anak-anak panti. Wajah yang rupawan bahkan di usia sekecil itu. Lalu pakaian bagus yang selalu terlihat pas ditubuh Raja yang tinggi melebihi anak seusianya.


Segala tentang Raja, itu yang selalu Rani kecil inginkan ada dalam diri suaminya ketika dewasa.


Ia suka dengan Raja. Raja adalah idolanya. Itu yang selalu Rani katakan pada seluruh penghuni panti termasuk Haikal.


"Kamu tahu kan, dari kecil aku selalu mengidolakan Raja?" kilah Rani menjawab pertanyaan Haikal yang menanyakan kenapa harus Raja yang menjadi calon suaminya.


Meskipun hubungan mereka cukup dekat, tapi Rani tidak ingin Haikal mengetahui hal yang sebenarnya.


"Tapi kamu bilang Raja hanya seorang idola yang nggak pernah kamu harapkan cintanya."


Rani mengangguk dengan senyum palsunya. Hingga detik ini pun, Rani masih menganggap Raja seorang idola yang tidak mungkin ia gapai. "Tapi siapa sih, Kal, yang akan menolak kalau seseorang yang kamu idolakan tiba-tiba datang melamar?"


Haikal terlihat tidak percaya dan masih berusaha mendebat, tapi Rani lebih dulu menyela.


"Jangankan Raja. Lee min ho yang datang melamar saja, pasti akan aku terima. Apa lagi Raja yang sudah aku kenal dari kecil." bohong Rani lagi. Entah ia harus membohongi berapa orang dengan pura-pura bahagia demi mereka tidak mengkhawatirkan dirinya.


"Kalau kamu memang sudah siap menikah, kenapa nggak bilang aku!" suara Haikal tersengar frustasi. Sahabatnya itu meraup wajah dan meremas rambutnya sendiri.


"Memangnya apa yang akan kamu lakukan kalau tahu aku siap menikah? kamu yang mau datang melamar aku?" gurau Rani dengan tertawa kecil. Tapi jawaban Haikal membuatnya seketika membisu tak percaya.


Haikal mendongak dan menatapatanya lurus. "Iya! aku yang akan melamar kamu! aku yang akan nikahin kamu, Ran!" ucap pria itu dengan tegas yang semakin membuatnya tak bisa berkata-kata. Haikal memegang kedua bahunya dan mengguncangnya.


"Aku yang selalu memperlakukan kamu dengan baik! aku yang sudah suka kamu dari kecil tapi nggak pernah kamu lihat!" Haikal mulai terlihat emosi. Tapi Rani tak terlalu memperhatikan itu, pernyataan sahabatnya itulah yang membuatnya syok. Ia tidak pernah berharap hari ini akan tiba. Hari dimana Haikal mengungkapkan perasaan padanya.


"Karena yang kamu lihat hanya Raja, Ran." Haikal melepaskan bahunya dan bergumam dengan mata yang memerah. "Kamu hanya melihat Raja. Bukan aku!"


Rani menutupi keterkejutannya dengan tertawa kecil. Tawa canggung yang tidak enak didengar. "Bercandaan kamu kali ini nggak lucu, Kal." ia pukul bahu sahabatnya pelan.


Haikal balas tertawa. Tawa yang terdengar menyakitkan. "Aku memang selalu jadi lelucon buat kamu." lelaki itu berdiri. Menoleh padanya. "Semoga kamu bahagia dengan keputusan kamu kali ini, Ran."


Rani hanya mampu menghela napasnya panjang melihat Haikal menjauh membawa kekecewaan.


Ia tak pernah membayangkan mereka akan ada diposisi saat ini. Menjauh karena perasaan.


Rani sudah nyaman dengan status mereka sebagai sahabat dan saudara yang tumbuh bersama di panti. Tidak ada perasaan lebih darinya untuk Haikal.


Rani tidak berniat untuk mengejar Haikal. Karena tak tahu jawaban atau penjelasan apa yang bisa ia berikan pada pria itu.


Ia akan memberi Haikal waktu untuk menerima apa yang terjadi kini. Karena bahkan dirinya pun membutuhkan waktu untuk menerima pernikahannya yang hanya menghitung hari.


***


Kesedihan terlihat hampir diseluruh wajah penghuni panti hari ini. Termasuk Citra yang tak lama lagi keluarga angkatnya akan datang.


Meski usia Citra baru lima tahun, tapi gadis itu cukup pintar untuk tahu apa yang terjadi.


Mereka semua baru saja selesai sarapan dan mendengarkan ibu panti yang tengah berbicara pada anak-anak mengenai Citra yang sebentar lagi akan berkumpul dengan keluarga barunya.


"Yaah.. Nanti aku tidurnya dengan siapa bu?"


"Nanti yang usilin aku kalau belajar siapa, bu?"


Banyak lagi sahutan anak panti menanggapi apa yang ibu panti katakan.


"Ikhlaskan Citra pergi dengan keluarga barunya. Biarkan dia bahagia dan hidup lebih baik. Suatu hari nanti, kalian juga akan menemukan keluarga yang menyayangi kalian sama seperti Citra."


Ketika mendengar suara mobil berhenti didepan panti, Rani meminta izin ibu panti agar ia yang menemui tamu mereka.


Hari ini Rani memang mengambil cuti demi melepas Citra pada keluarga barunya. Juga untuk menghindari Raja setelah acara lamaran mereka kemarin.


Sesampainya Rani di pintu depan, ia kaget mendapati Adit ada disana. "Lho! kak Adit?"


Sahabat Raja itu hanya tersenyum dan melambaikan tangan.


"Kalian saling mengenal?" suara wanita yang terdengar hangat dan mampu menggetarkan hati membuat Rani tersadar kalau Adit tidak datang seorang diri.


"Ini Rani yang kemarin Adit cerita sama bunda."


Wanita yang terlihat lebih muda karena kecantikannya itu tersenyum kearahnya dengan binar mata bahagia.


"Cantik sekali." pujian dari ibu Adit membuatnya ikut tersenyum. "Raja tidak akan menyesal mendapatkan kamu. Boleh bunda peluk?"


Rani menatap Adit yang mengangguk menyetujui. Membuatnya tersenyum kian lebar dan mendekati dan memeluk ibu dari Adit lebih dulu.


"Selamat ya Rani." entah kenapa, ucapan selamat dari ibu Adit terasa berbeda dari ucapan yang lain. Ucapan orang yang baru ia temui namun terasa ketulusannya. Tidak hanya sekedar basa-basi memenuhi formalitas.


"Raja anak yang baik meski sepertinya kamu harus banyak bersabar untuk mendapat perhatiannya." imbuh wanita itu setelah melepas pelukan mereka yang singkat namun tersisa kehangatannya.


"Rani sudah lebih mengenal Raja di banding kita, bun. Mereka sudah saling mengenal sejak kecil."


"Ooh iya. Bunda lupa." tawa renyah itu membuat Rani ikut tertawa. "Titip Raja ya Rani. Tolong bahagiakan dia."


Dari banyaknya orang yang tak ada ikatan darah dengan Raja pun, hanya ibu dari Adit yang menitipkan Raja padanya. Sedekat dan sesayang itu kah ibu Adit pada Raja?


"Doakan ya, bu?" jawab Rani dengan senyum yang dipaksakan.


"Jangan panggil ibu, dong!" protes ibu Adit padanya. "Panggil saja bunda. Seperti Adit. Seperti Raja."


Sekali lagi Rani menatap Adit meminta persetujuan yang langsung dibalas dengan anggukan. "Nyokap gue seneng kok punya banyak anak. Saking banyaknya teman gue yang dianggap anak, sampai lupa anaknya sendiri." gurauan Adit langsung mendapat cubitan dari ibunya. Pemandangan itu membuatnya kembali merindukan sebuah keluarga dalam hidupnya.


"Oh iya, sampai lupa. Silahkan masuk bu, kak Adit." ia mempersilahkan kedua orang itu untuk masuk kedalam ruang tamu panti.


"Kanapa masih ibu?"


"Ooh iya. Maksud saya, silahkan masuk bun. Maaf tempatnya sempit."


Kedua tamu itu duduk di kursi rotan dengan bersebelahan. Rani sendiri duduk dikursi terpisah dengan mereka.


"Yang sempit justru yang hangat. Bahagia bersama keluarga." sahut ibu Adit yang kembali membuat Rani tersenyum.


"Sampai lupa menanyakan maksud kedatangan bunda dan kak Adit kesini saking senangnya bertemu bunda yang pasti akan menjadi ibu impian siapa pun anak yang tidak memiliki ibu."


"Pasti dong. Bundaku yang terbaik." Adit menyahut dan menyetujui apa yang ia katakan. "Kita datang untuk menjemput calon anak bunda."


"Ooh calon keluarga, Citra?" tanya Rani yang akhirnya bisa merasa lega setelah tahu yang akan menjadi keluarga angkat Citra adalah keluarga Adit. Setidaknya ia bisa merasakan ketulusan dari ibu Adit dan ia bisa memastika mereka keluarga baik dari ia melihat Adit selama ini.


*


*


*