
Ajaibnya, Rani benar-benar menghabiskan nasi goreng yang Raja buat. Dengan bahan dan tempat yang sama dengan nasi goreng sebelumnya yang membuat Rani mual dan muntah-muntah.
Raja memang pernah dengar orang ngidam kadang tidak masuk akal. Tapi Raja baru percaya setelah ia mengalaminya sendiri. Menuruti keinginan sang istri yang menurutnya tak masuk akal. Sama-sama nasi goreng hanya beda tangan yang membuatnya bisa berdampak sangat besar.
Harusnya Raja bersyukur karena Rani tidak pernah mengidam tengah malam dan menginginkan makanan yang sulit untuk di dapat. Ngidam Rani hanya satu. Setiap makanan yang masuk kedalam mulut adalah hasil masakan Raja. Sekalipun buah, Rani selalu ingin Raja yang mengupas atau bahkan mencucinya.
Pernah satu kali Raja tidak bisa pulang tepat waktu dan tidak bisa memasakan makan malam untuk Rani, Rani tetap menolak masakan orang rumah. Berakhir istrinya lemas menahan lapar. Apa lagi semakin besar kehamilan Rani, istrinya itu lebih mudah lapar.
Bukan karena Rani yang berlebihan. Hanya saja semakin hari Rani semakin mual hanya melihat makanan yang dimasak orang lain selain Raja. Membuat Raja sering dibuat kewalahan. Bahkan pantry kantor sekarang penuh berisi bahan masakan. Baik sayur, daging, telur dan sebagainya. Untuk antisipasi jika Raja tak sempat membuatkan bekal di pagi hari atau jika Rani kembali lapar menjelang sore yang memang sering terjadi.
Untuk itu ia menyetok bahan masakan di kantor. Karena tak ingin istri dan calon anak mereka kelaparan. Sehingga, ketika ia tidak bisa pulang tepat waktu, atau Raja bisa lebih dulu memasakan Rani makan malam sebelum istrinya itu pulang.
Dan seperti pagi-paginya selama dua bulan terakhir, Raja yang biasanya mengawali paginya dengan olahraga, kini disibukan dengan aktifitasnya di dapur. Menyiapkan sarapan juga bekal makan siang untuk istri tercinta.
Rani masih mual dan muntah di pagi hari. Satu bulan terakhir muntahnya tak separah sebelum-sebelumnya. Tak lagi muntah hingga lemas dan tak bertenaga. Mambuat Raja lebih tenang membiarkan istrinya pergi bekerja.
Dengan penampilan acak-acakan. Kantung mata menggantung hitam dan mulut menguap lebar, Raja mulai memotong sayur dan memarinasi daging untuk ia buat teriyaki.
Raja harus segera menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum ia resmi naik jabatan sebagai wakil direktur utama/CEO. Jadi sebisa mungkin Raja mengatut waktu agar bisa menghabiskan banyak waktu bersama sang istri. Salah satunya dengan Raja membawa pulang pekerjaan setiap hari. Kembali bekerja setelah istrinya tidur dan baru bisa tidur diatas jam dua dini hari. Tapi pagi-pagi ia sudah harus bangun jika tidak ingin datang terlambat ke kantor.
"Maaf ya, mas." ucap Rani entah untuk ke berapa kali selama dua bulan terakhir setiap ia tengah memasak.
Istrinya masih merasa kasihan setiap melihat Raja memasak apa lagi dengan pekerjaan kantor yang tak pernah ada habisnya. Sebenarnya bukan hanya Raja yang sibuk dengan kenaikan jabatannya. Tapi seluruh stafnya juga bekerja ekstra keras beberapa bulan ini. Hanya Rani yang ia larang untuk bekerja berlebihan.
Ngidamnya Rani memang menambah beban pekerjaannya. Tapi apa boleh buat. Raja ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya. Memanjakan mereka di masa-masa kehamilan ini. Dimana kehidupan awal anaknya dimulai. Mungkin memang harus sekeras ini usaha Raja menjadi suami dan ayah yang baik.
"Nanti setelah lahir, anak kita harus mirip dan sayang sama aku. Dia harus tahu seberapa besar perjuangan papanya." gurau Raja menanggapi rasa bersalah istrinya.
Rani yang duduk di ujung konter tersenyum dan mengusap perutnya yang mulai menonjol di bulan keempat. "Pasti dong. Pasti anak kita sayang sama mas. Iya kan sayang?" Rani mengusap dan menatap perutnya dengan damba.
"Dan kamu harus membayar mahal setiap masakan yang aku buat." Raja menyunggingkan senyum smirknya.
"Bayar pakai apa, mas? kan aku sudah membayarnya dengan menjaga anak kita dengan baik." Rani mengedip manja.
Raja mendekat dan berbisik di telinga sang istri yang seketika memerah. "Bayar dengan pelayanan paling memuaskan di ranjang."
"Mandi gih." suruh Raja. "Jangan lupa tolong siapkan keperluan kerjaku juga ya sayang." pintanya lagi meskipun tanpa diminta pun Rani tak pernah lupa menyiapkan keperluan Raja termasuk bulan-bulan Rani menjalani paginya dengan berat.
Rani mengangguk dan memeluknya-yang sudah kembali memasak-dari belakang dan menyandarkan kepala di punggungnya. "Terimakasih mas. Sudah menjadi suami dan papa yang sabar untuk kami."
"Karena kalian tujuanku. Karena kalian yang tengah aku perjuangkan." balas Raja mengecup puncak kepala dan perut istrinya bergantian.
Kehamilan istrinya sudah menginjak empat bulan. Rencananya hari minggu nanti mereka akan mengadakan pengajian untuk mendoakan calon anak mereka juga Rani. Agar keduanya selamat dan sehat hingga hari melahirkan nanti.
Dan di hari jumat Rani berulang tahun. Tinggal tiga hari waktu yang ia miliki. Tapi sampai hari ini Raja belum menemukan ide apa pun untuk merayakan ulang tahun istrinya.
Raja jelas tahu, Rani pasti tidak akan suka jika ia mengadakan pesta besar-besaran seperti ulang tahun papa waktu itu.
Rani pasti akan menceramahinya tentang menghamburkan uang yang seharusnya bisa mereka manfaatkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan di luar sana.
Layaknya ulang tahun Raja bulan lalu. Ketika ia mengahbiskan banyak uang untuk mentraktir teman-temannya makan dan minum sepuasnya di sebuah club malam elit.
Raja hanya hadir menyapa mereka setelah itu ia menyerahkan semuanya pada Adit. Tak ikut berpesta sesuai janjinya pada Rani yang sudah mengomel sepanjang sambungan telepon yang berlangsung selama Raja memasuki club.
Saat pagi hari ketika Rani memberinya sebuah kado, ia langsung mengatakan rencana pesta dengan teman-temannya itu. Dan sepanjang hari Rani tidak berhenti mengomel. Bukan hanya masalah uang yang katanya ia tak bijak menggunakannya. Tapi juga pesta yang ia adakan. Rani berkata lebih baik mengadakan pengajian gar teman-temannya ikut insyaf.
Tapi mana mungkin Raja melakukan itu. Karena teman-temannya tidak akan hadir di acara seperti itu. Raja juga hanya mencoba menjaga hubungan dengan teman-temannya. Meski ia sendiri juga sudah jarang berkumpul dan hampir tidak pernah kecuali ada jadwal turun di sirkuit.
Sesampainya di rumah saat itu, Raja disambut makan malam romantis juga sebuah kue yang Rani buat sendiri. Ulang tahun yang paling berkesan untuknya. Karena itu adalah kali pertama ia mendapatkan hal demikian. Keluarganya lebih sering merayakan ulang tahunnya dengan meriah. Dan berhenti di ulang tahunnya yang ke 17. Karena Raja merasa malu.
Dan kini ia di buat bingung untuk merayakan ulang tahun seperti apa yang akan berkesan untuk istrinya. Ulang tahun pertama setelah mereka menikah.
*
*
*