You're My Antidote

You're My Antidote
Gundah



Rani sudah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang Raja katakan dilayar kaca televisi tadi hanyalah untuk kebaikan mereka. Menyelamatkan nama baiknya dengan terlihat bahwa mereka saling mencintai.


Tapi hatinya resah. Entah takut terluka jika menyerahkan hati, atau takut kecewa karena ia menaruh harapan pada apa yang dikatakan Raja itu benar.


Niatnya datang ke panti untuk berkemas berakhir tak fokus. Rani memilih untuk menemani adik-adiknya bermain di halaman belakang panti untuk mengalihkan pikirannya dari seorang Raja. Pria yang mampu membuatnya gundah.


Lima belas menit pertama ia masih bisa bermain dan ikut tertawa bersama anak-anak. Tapi dimenit berikutnya, anak-anak bermain sendiri dan fokusnya sudah entah kemana.


Suara tawa anak-anak. Keriuhan mereka yang ada didekatnya seakan berada didimensi yang lain. Tak kasat mata dan meninggalkannya seorang diri disana.


Entah sudah berapa lama ia temenung, hingga seruan adiknya memanggil nama yang sejak tadi membuat hati dan pikirannya kacau menariknya dari dunianya sendiri.


Kepalanya dengan cepat menoleh kebelakang punggung. Mendapati Raja melangkah mendekat.


Semakin Raja mendekat, jantungnya semakin berdebar keras. Gerakan Raja bahkan seperti diperlambat. Terasa amat lama. Membuatnya sulit bernapas.


Rani menggeleng keras. Ada apa dengan dirinya?


"Kak Raja kok disini?" sambutnya berdiri.


Rani yang biasa mengatakan apa saja pada Raja-meski pria dihadapannya ini tak suka-kini merasa canggung.


Tak tahu harus bersikap seperti apa pada Raja. Terbesit dalam pikirannya untuk bersikap seperti biasa dan menganggap omongan Raja hanya angin lalu. Tapi kenapa rasanya sulit sekali?


"Sudah tidak ada yang perlu dilakukan dikantor." pria yang menjulang tinggi dihadapannya mengangkat sebelah tangan dan menatap benda yang melingkar disana. "Saya kira kamu sudah selesai berkemas. Jadi saya datang menjemput karena sopir harus kembali ke kantor."


Rani merenges malu ketika turut menatap jam di pergelangan tangannya. Begitu banyak waktu terbuang saat ia melamun tadi. Ia bahkan tak sadar sudah selama itu duduk disana. Padahal ia sudah berjanji akan pulang sebelum Raja pulang dan memasak makanan spesial. Tapi pria itu malah datang menjemput.


"Kenapa?" Raja menatapnya dengan ekspresi heran.


"Rani belum berkemas sama sekali.. Maaf.." cicitnya ketika menggumamlan kata maaf.


Raja menggeleng dan berucap sebelum berbalik kembali memasuki panti. "Kamu selalu cekatan jika bekerja. Tapi selalu lelet diluaran."


***


Dikantor ada begitu banyak sopir. Dan sopir yang Raja mintai tolong untuk mengantar Rani adalah sopir yang khusus dipekerjakan untuk dirinya. Jadi tak ada alasan sang sopir untuk kembali ke kantor jika bukan atas perintah Raja.


Tapi Raja memutuskan menjemput Rani untuk pulang bersama dan menyuruh sang sopir pulang.


Raja yakin Rani sudah mengetahui berita yang telah beredar. Dan Raja yakin meski Rani terlihat tegar dan biasa saja, gadis itu pasti tetap merasa sedih dan rendah diri.


Dalam hatinya ada rasa ingin melindungi dan tak mengizinkan Rani untuk bersedih. Terlebih jika itu bersangkutan dengan dirinya.


Benar saja. Begitu ia sampai panti, ibu ketua berkata Rani belum mulai berkemas dan tengah bermain dengan anak-anak dihalaman belakang. Saat ia sampai disana, pemandangan yang ia dapatkan adalah Rani yang terdiam. Jauh dari kata menemani anak-anak bermain. Raja bahkan yakin Rani tengah melamun melihat gadis itu yang tak sadar ada anak-anak yang tengah bertengkar dan berebut mainan.


Raja ingin memberikan waktu untuk Rani sendiri. Memberi gadis itu waktu sebanyak yang dibutuhkan hingga hati dan pikirannya lega. Ia hanya berdiri didepan pintu dan menatap satu titik untuk waktu yang cukup lama. Tapi keberadaannya lebih dulu disadari salah satu anak panti yang memanggil namanya dengan begitu riang.


Rani menoleh kearahnya dengan begitu cepat setelah sadar dari lamunan.


Bersikap seolah baru datang. Raja memasukan tangannya kedalam saku celana dan berjalan mendekati gadis itu. Kembali berpura-pura tidak tahu bahwa gadis itu belum berkemas hanya untuk mencemooh Rani dan meninggalkan kembali kedalam panti.


Rani mengejarnya dengan langkah cepat dan mensejajarinya. "Kak Raja mau kemana?"


"Kamar kamu?"


Tanpa menunjukan bahwa dirinya malu. Raja berbalik arah dan berjalan dengan tenang dan ekspresi datarnya.


"Kak Raja mau apa ke kamar, Rani?"


"Bantu kamu berkemas." jawabnya singkat seperti biasa.


Sejujurnya Raja ingin tahu reaksi Rani setelah mendengar apa yang diucapkannya pada saat konferensi siang tadi.


Apakah Rani akan merasa penuh percaya diri dan merasa dicintai? Mengekspresikannya dengan berisik seperti biasa dan bahkan memeluknya?


Atau apa gadis itu menganggap apa yang ia ucapkan hanyalah sebuah sandiwara dan menelannya bulat-bulat tanpa mau mempertimbangkannya?


Raja mengkitui Rani yang menghentikan langkah didepan sebuah kamar. "Kak Raja yakin mau ikut masuk?" tanya gadis itu memegang knop pintu dibalik punggung.


"Apa tidak boleh?"


Rani menggeleng. "Kamar Rani berantakan."


Raja mendengus. Apa saat ini gadis itu tengah malu padanya?


Menggeser tubuh kecil Rani, Raja membuka pintu kamar dan masuk. Menatap sekeliling kamar Rani yang berukuran 3x3 meter. Kamar dimana biasa istrinya tidur. Kamar yang luasnya bahkan tak sampai luas kamar mandi miliknya.


Ada lemari dua pintu yang mengapit meja rias. Yang diatasnya terdapat beberapa buku. Juga ranjang single untuk Rani tidur.


Gadis itu langsung berlarian mengumpulkan apa saja yang berserakan. Karena berantakan yang Rani maksud bukan hanya sekedar basa-basi. Tapi memang berantakan dalam definisi yang sesungguhnya.


"Rani bilang juga apa! kamar Rani berantakan!" decak gadis itu setelah menyembunyikan barang-barang yang gadis itu ambil dan menyimpannya dalam paperbag besar.


Raja hanya membalas dengan mengedikan bahu dan duduk di tepi ranjang. "Bawa apa yang perlu kamu bawa! tinggalkan apa yang tidak kamu butuhkan!" titahnya tak ingin mendengar Rani menggerutu.


Karena Rani menolaknya membantu mengemas barang. Raja memilih untuk melihat-lihat buku koleksi yang ada diatas meja rias.


"Rani ambil surat-surat Rani di ruangan ibu dulu ya, kak. Kak Raja tunggu disini."


Raja mengangguk tanpa menoleh karena tengah mencari buku yang cukup menarik untuk ia baca.


Tangannya menemukan sebuah buku berwarna jingga dengan pita coklat. Dari halaman pertama yang berisi pembuka, Raja sudah bisa menebak jika itu sebuah buku harian milik Rani.


Raja tahu ia tidak berhak tahu apa isi didalamnya. Melanggar privasi orang jika ia sampai membaca isinya.


Tapi Raja tak sengaja membuka halaman terakhir yang berisi beberapa keinginan gadis itu yang ingin terwujud. Dan ada namanya di salah satu urutan didalamnya.


Ketika terdengar langkah mendekat. Raja langsung meletakan buku itu pada tempatnya semula. Ia juga duduk ditepi tempat tidur dan pura-pura bermain ponsel. Entah sudah berapa kali ia berpura-pura dalam beberapa jam ini. Dan untuk gadis yang sama.


Ada perasaan rumit setelah membaca daftar keinginan Rani. Entah apa yang harus ia lakukan.


*


*


*