You're My Antidote

You're My Antidote
Bukan Mimpi



Rani tidak percaya Raja akan mengatakan apa yang didengarnya barusan. Ia kira hanya akan ada cerita elegi dalam pernikahannya. Mengingat perangai Raja yang selalu tak menyukainya.


Tak ia kira, kesamaan nasib tak memiliki orang tua membuat Raja ingin membangun keluarga bahagia yang sama-sama tidak mereka miliki. Meski nasib Raja tidak bisa dibilang sama dengannya. Karena Raja masih memiliki pak Rasya dan ibu Lintang yang berperan sebagai orang tua dengan baik. Terutama mereka masih memiliki ikatan darah yang kuat. Bukan sebagai pengadopsi dan si adopsi. Seperti kebanyakan teman-temannya yang berasal dari panti asuhan.


Diperlakukan Raja dengan baik saja Rani sudah sangat bersyukur. Itu pun tak berani ia impikan sebelumnya. Tapi kini setelah telinganya masih belum terbiasa dengan Raja yang mengajaknya berumah tangga yang sesungguhnya. Pria itu juga mengakui perasaannya. Semakin membuatnya serangan jantung dua kali dalam waktu berdekatan.


Dengan enggan Rani melepaskan pelukan Raja yang terasa hangat dan nyaman. Pelukan yang juga bagai mimpi baginya. "Ma-maksud kak Raja?" Rani tak bisa begitu saja merasa percaya diri bahwa Raja memiliki perasaan untuknya.


Lelaki didepannya mengangguk dua kali. "Kalau kamu melihat konferensi pers itu sampai selesai. Apa yang saya katakan disana, semua tulus dari hati saya. Bukan hanya untuk menyelamatkan nama kamu saja."


"Ma-maksudnya?"


"Apa salahnya kalau saya jatuh hati dengan kamu." Raja menjawab dengan sabar tak seperti biasanya yang langsung melempar tatapan tajam jika ia tak tahu mengenai pekerjaan di kantor.


"Maksud kak Raja?" tanyanya sekali lagi ingin semuanya jelas. Meyakinkannya jika saat ini Rani tidak sedang bermimpi. Tapi Raja justru menyentil dahinya yang meski tak sakit ia tetap memekik dan mencebik sebal.


"Kenapa jadi bodoh seperti ini?"


Rani tahu Raja ingin menertawakannya. Tapi pria itu masih menahan diri karena tak biasa melakukan itu. "Rani tidak bodoh!" sungutnya. "Rani cuma meyakinkan kalau ini bukan mimpi."


Selesai ia berbicara, Raja mencubit kedua pipinya dengan gemas. "Apa sekarang kamu yakin bahwa ini bukan mimpi?"


Senyum Rani mengembang dan mengangguk berkali-kali.


"Lagi pula, kamu tidak akan sekreatif itu hingga bisa memimpikan hal seperti ini."


Rani tak peduli dengan ejekan Raja. Ia memeluk pria itu lagi dengan kesenangan. "Jadi kak Raja suka sama Rani?"


"Iya." jawab pria dalam dekapannya singkat seperti biasa. Tapi nada suara Raja lebih lembut dan membuat hatinya meledak-ledak.


"Suka aja, suka banget, atau cinta?" Rani belum berani menyebut perasaannya untuk Raja sebagai cinta. Selama ini ia memang menyukai Raja. Sangat sangat sangat menyukai pria itu. Tapi Rani selalu melindungi hatinya dan mencegah untuk jatuh cinta pada seorang Raja. Selain ia takut terluka, Rani juga sadar jika Raja tidak akan pernah bisa membalas perasaan yang ia miliki.


"Kamu akan tahu seiring berjalannya waktu."


Rani mengangguk saja. Ia tidak ingin serakah. Apa yang ia dapat hari ini sudah lebih dari cukup. Rani tidak ingin kebahagiaannya lebih dari ini. Ia merasa takut kebahagiaan yang berlebihan hanya akan bersifat sementara. Jadi ia tidak akan mempermasalahkan seperti apa perasaan suka Raja padanya. Bukankah ia bisa merasakan ketulusan hati Raja dengan bagaimana pria itu memperlakukannya setelah ini? dan mencicil kebahagiaan mereka setiap hari.


"Apa kamu akan terus memeluk saya seperti ini?"


Dengan wajah memanas yang ia yakin kini wajahnya bersemu merah. Rani melepaskan pelukan mereka. "Maaf. Habis pelukan kak Raja nyaman." akunya. Selama ini ia tak pernah mendapatkan pelukan nyaman dari pria mana pun. Karena masa mudanya habis untuk mengagumi Raja tanpa bisa melihat lelaki baik disekelilingnya.


Raja mengusap pipinya dengan lembut. "Pipimu terlihat semakin cantik saat bersemu."


kata-kata Raja sudah membuat pipinya terasa semakin panas dengan jantung yang bekerja berlebihan. Dan kini pria itu juga menempelkan bibirnya yang terasa hangat pada pipinya yang membuatnya menahan napas.


Raja hanya menempelkan bibirnya sekilas berupa kecupan. Pria itu memepertahankan posisi dan menatapnya dengan jarak yang teramat dekat. Rani bahkan bisa merasakan napas hangat Raja mengenai sisi wajahnya.


Rani benar-benar menahan napasnya dengan degup jantung yang menggila begitu benda kenyal milik Raja bersatu dengan miliknya. Raja memagut bibir atas dan bawahnya secara bergantian dan dengan agresif. Sedangkan Rani hanya bisa diam tanpa tahu apa yang harus ia lakukan. Ini adalah ciuman pertamanya. Jangankan untuk merespon, Raja yang tiba-tiba menciumnya saja masih membuatnya terpaku. Bahkan permintaan izin pria itu belum ia jawab. Tapi Raja sudah melakukan apa yang pria itu inginkan. Rani hanya berharap tidak ada asisten rumah tangga mereka yang melihat. Mengingat hari masih siang.


Raja semakin merapatkan tubuh mereka dengan memeluk pinggangnya. Meraih tengkuknya sebelum berbisik. "Bernafas Rani." Raja mengingatkan. Membuatnya buru-buru bernafas sebelum Raja kembali menyatukan bibir mereka.


Ditengah kegiatan yang semakin menggila dan tak terkendali dengan tangan Raja yang menyusup masuk dan mengusap kulit punggung yang membuatnya merinding, bel rumah berbunyi. Entah siapa tamu yang datang. Membuat Raja mengumpat ketika ia melepaskan diri dan mendorong pria itu menjauh.


Sebentar lagi mbak pasti akan melewati ruang keluarga untuk bisa mencapai ruang tamu dan membukakan pintu bagi siapa saja yang menjadi tamu mereka itu.


Rani tidak ingin kehilangan muka didepan asisten rumah tangganya. Ia pasti akan sangat malu jika mereka memergokinya dan Raja berbuat hal senonoh di ruang keluarga seperti ini.


Rani merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan sisa kegiatan mereka. Raja langsung menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran sofa dengan mata terpejam.


"Ibu, Tuan. Diluar ada non Rere yang katanya teman tuan." ternyata mbak sudah didepan. Mungkin tengah membersihkan ruang tamu.


"Suruh dia masuk." titah Raja dingin dengan mata masih terpejam.


Rani berdiri. Berniat naik kedalam kamar. Tak ingin mengganggu Raja dan tamunya.


"Mau kemana?" cegah Raja mencekal pergelangan tangannya. Mata pria itu sudah terbuka dan menatapnya ingin tahu.


"Rani ke kamar saja ya kak." izinnya. "Kak Rere pasti ingin berbicara berdua dengan kak Raja."


Rere selalu menatapnya tak suka. Dan ia baru tahu belakangan bahwa alasannya karena wanita itu memiliki hubungan khusus dengan Raja. Pasti akan sangat tidak nyaman jika ia berada disana.


"Disini saja. Kamu nyonya rumah ini. Jadi dia tamu untukmu juga."


Meski ragu, Rani kembali duduk disebelah Raja. Bersamaan dengan Rere yang diantar masuk oleh asisten rumah tangga mereka.


Perlukah ia menanyakan hubungan Raja dan Rere setelah wanita itu pergi nanti?


Bagaimanapun Raja sudah mengatakan jika pria itu menyukainya. Jadi setidaknya ia memiliki hak untuk bertanya nanti.


*


*


*


BTW yang udah upgrade MT ke versi baru, sudah bisa komen tiap bab ya gaes.. Yuk di ramaikan dengan komen kalian. Tandai juga bagian yang typo atau tidak sesuai dengan bab-bab sebelumnya.


Terimakasih semua.. Saranghae ❤❤❤