You're My Antidote

You're My Antidote
Takan Salah Alamat



Rani tidur sekitar 4 sampai 5 jam dirumah sakit semalam. Tapi begitu sampai dirumah dan melihat suaminya yang langsung tertidur, Rani melakukan hal yang sama.


Rani terbiasa bekerja lembur dan kembali ke panti cukup malam. Hanya tidur beberapa jam dan bangun sebelum subuh untuk membantu staf panti menyiapkan sarapan adik-adiknya sebelum berangkat sekolah.


Jadi bukan karena kurang tidur yang membuatnya kembali memutuskan untuk ikut menyelami mimpi saat ini-karena ia sudah terbiasa. Tapi ia merasa tidak enak badan sejak bangun pagi tadi. Entah karena ia tidur meringkuk di sofa, atau karena tubuhnya yang kelelahan dan berakhir drop.


Karena tak ingin membuat Raja khawatir padahal mereka masih mengkhawatirkan ibu Lintang, jadi Rani menyimpannya sendiri dan tak berani mengatakannya pada sang suami.


Entah sudah berapa lama ia terlelap hingga gerakan dikepala membangunkannya. Juga keadaan tenggorokan yang kering dan terasa sakit.


"Kak." panggilnya dengan suara serak. Tenggorokannya benar-benar kering.


"Kamu demam." jawab Raja yang tengah mengompres dahinya dengan handuk basah. "Mau minum?"


Rani langsung mengangguk pada kesempatan pertama. Raja mendekati dispenser dengan gelas baru dan mengisinya dengan air hangat. Mungkin tahu ia merasa tak nyaman dengan tenggorokannya.


"Aku sudah panggil dokter. Sebentar lagi sampai." Raja membantunya duduk untuk minum sebelum kembali membaringkannya dengan hati-hati. Minum air hangat sedikit mengurangi sakit tenggorokannya. "Mau makan dulu? tadi aku buatkan bubur dibawah."


Rani kembali mengangguk. Merasa perutnya yang ternyata lapar belum makan siang. "Makasih kak." ucapnya yang dibalas senyum juga usapan lembut dikepala sebelum suaminya itu beranjak untuk mengambilkan yang dibilang pria itu tadi.


Bel rumah terdengar berdenting. Tak lama kemudian Raja masuk dengan seorang wanita yang pernah ia temui bersama ibu Lintang dirumah sakit.


Kalau tidak salah, namanya dokter Kaina. Kerabat jauh Raja. Yang juga hadir pada pesta pernikahannya beberapa bulan yang lalu.


"Hallo Rani.. Kita bertemu lagi." sapa dokter Kaina ramah. Lengkap dengan senyum hangatnya.


"Hallo dokter." balasnya balik dan beranjak duduk dengan kepala yang berdenyut sakit.


"Tidak apa, kamu berbaring saja." dokter Kaina menyela ketika melihat wajahnya mengernyit. "Saya periksa dulu ya?" izin dokter Kaina sebelum memeriksanya dengan stetoskop dan senter ketika ia bilang tenggorokannya sakit. Tak lupa juga memeriksa tekanan darahnya yang ternyata cukup rendah.


"Hanya flu biasa dan radang tenggorokan." ucap dokter Kaina menyimpan peralatan medisnya kedalam tas. "Mungkin kamu selama di Maldives kurang minum air putih?"


Rani berpikir sebentar dan mengakuinya.


Di Maldives cukup panas. Tapi suasanya menyenangkan saat liburan membuatnya tak jarang melupakan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya itu.


"Bukan karena hamil?"


Pertanyaan Raja seketika membuat kepalanya menoleh-pada pria yang berdiri diujung ranjang-dengan cepat.


Sedangkan dokter Kaina hanya tersenyum dan mengusap lengan Raja. "Sabar ya, Ja. Masih disuruh berusaha seperti saya. Dibawa enjoy aja. Kalau memang sudah saatnya nanti, pasti dikasih kok."


Benar. Dokter Kaina yang lebih dulu menikah dan belum juga hamil saja masih terlihat happy. Pada dasarnya jodoh dan rezeki takan kemana, takan tertukar apa lagi salah alamat.


"Banyak-banyak istirahat ya, Rani. Jangan lupa obatnya dihabiskan. Kamu kelelahan juga sepertinya." pesan dokter Kaina sebelum pamit pulang.


Raja mengantar dokter Kaina turun kebawah. Dan ketika pria itu kembali, Raja membawa nampan berisi semangkuk bubur.


"Makan dulu ya? nanti minum obat."


"Kak Raja sudah makan?" tanyanya mengisi kekosongan yang sempat tercipta. Sepertinya Raja masih memikirkan dirinya yang belum juga hamil. Terlihat sendu karena harapan tentang sakit yang ia derita ternyata bukan karena sebuah kehamilan. Padahal tidak setiap wanita hamil akan sakit di awal kehamilan. Pusing, mual, muntah bahkan hingga pingsan tidak bisa dijadikan patokan untuk mengidentifikasi sakit seseorang. Meskipun gejala-gejala yang tadi disebut cukup membantu dokter menganalisa apa yang sebenarnya tengah terjadi pada pasiennya.


"Nanti setelah ini." jawab Raja mengusap rambutnya yang sudah kembali memanjang. "Kamu makan saja yang banyak. Jangan sampai sakit lagi."


Tak menjawab kata-kata Raja. Rani meraih gagang telepon yang ada diatas nakas disampingnya. Menghubungi asisten rumah tangga mereka di bawah.


"Mbak, tolong bawakan makan siang tuan ke kamar ya?" pintanya yang langsung diaminkan mbak Eni yang menerima panggilan.


Disebelahnya Raja menghela napas dan mengacak rambut Rani yang memang sudah berantakan. "Aku bukan anak kecil. Aku pasti makan."


"Rani akan percaya kalau Rani lihat sendiri." jawabnya acuh.


Raja mengalah dan kembali menyuapinya bubur. Tapi tak sampai habis karena perutnya yang terasa tak nyaman.


"Kak Raja nanti tidur di ruang kerja atau bioskop aja, ya?" pintanya setelah menelan semua obat yang Raja berikan padanya.


Pria itu melebarkan matanya kaget. "Kenapa kamu mengusirku?"


"Rani lagi sakit kak." ia mengingatkan. "Jangan sampai karena kak Raja tidur disini, kak Raja juga ikutan sakit. Kalau bisa kak Raja pakai masker kalau nemuin Rani seperti ini."


"Sakit flu tidak akan membuatku mati." bantah Raja yang tidak ingin terusir dari kamar ternyaman mereka.


"Tapi nanti kak Raja jadi tidak bisa berangkat bekerja!" serunya gemas. "Sudah berapa banyak pekerjaan yang kak Raja tinggal saat kita bulan madu? masa masih mau nambah libur?"


"Aku liburpun tidak ada yang berani memecatku." ucap Raja sombong seperti biasa. Membuatnya berdecak meski ia sama tak mau mengalahnya.


"Pokoknya nanti kak Raja dilarang tidur dikamar. Atau kak Raja bisa kerumah besar. Kak Raja kan bilang mau kesana hari ini. Jangan sampai membuat mama menunggu. Rani akan disini sampemmm.." Rani memukul dada Raja ketika pria itu mengunci bibirnya yang belum selesai bicara.


Padahal Rani benar-benar takut Raja tertular flu yang tengah ia derita. Tapi pria itu seolah menantang penyakit.


"Permisi tuan, ibu. Ini... Ma-maaf. Nanti saya kembali lagi."


Suara mbak Eni terdengar salah tingkah ketika mendapati kegiatan pasangan suami istri itu. Rani seketika mendorong dada sang suami. Wajahnya terasa sangat panas.


"Tidak apa, mbak. Tolong taruh dimeja dekat sofa saja."


Mbak Eni mengurungkan niat untuk berbalik pergi. Perempuan itu meletakan nampan ditempat yang Rani minta dan buru-buru keluar.


Pintu memang hanya tertutup separuh. Jadi mbak Eni tidak salah jika langsung masuk begitu saja. Apa lagi memang kedatangan perempuan itu atas perintah sang pemilik kamar.


Ia memelototi Raja yang seenaknya mencium bibirnya. Tapi suaminya itu hanya tersenyum menggoda dan beranjak berpindah duduk di sofa dan mulai menyantap makanan yang mbak Eni bawa.


*


*


*