
Dua minggu menanti hasil tes DNA, tak membuat Rani tenang. Entah apa yang membuatnya resah. Apa ia takut dengan keluarga ayahnya? takut pada ibu tirinya? takut akan reaksi ayahnya? atau takut akan semakin melukai Rere?
Rani tidak tahu perasaan seperti apa yang tengah ia rasakan. Resah, takut dan sebersit rasa bahagia bercampur menjadi satu.
Pagi menjelang siang tadi Raja menghubunginya dari kantor. Hasil tes sudah keluar dan malam ini Raja mengundang Rere ke rumah untuk melihat hasilnya bersama.
Mencoba mengalihkan pikiran, Rani membantu para asisten rumah tangganya untuk memasak untuk makan malam bersama nanti.
"Ibu istirahat saja. Biar kami yang menyelesaikan semuanya." Mbak Eni terlihat segan saat Rani bertanya apa yang bisa ia bantu.
"Nggak apa mbak. Hamil tua kan harus banyak bergerak." selorohnya mengusap baby bump miliknya. Membuat mereka tidak ada lagi yang berani melarangnya.
Tepat sebelum waktu magrib, semua sudah terhidang rapi di atas meja makan. Rani berterimakasih pada semua asisten rumah tangganya ketika mereka pamit pulang.
Naik ke lantai atas, Rani memutuskan mandi dan menjalankan kewajibannya sebagai hamba. Sembari menunggu Raja pulang.
Beberapa saat kemudian suara pintu gerbang yang terbuka di susul deru mobil membuat senyumnya mengembang. Memakai kerudung instan, Rani turun ke bawah. Menyambut Raja yang ternyata datang bersama tamu mereka. Adit dan Rere.
Ada juga Musa yang membawa amplop besar berwarna coklat dengan logo sebuah rumah sakit. Yang Rani yakin, didalam sanalah semua keresahannya berasal.
"Makan malam dulu kan, mas?"
Rani tidak ingin mereka membicarakan masalah serius sebelum makan malam atau napsu makan mereka akan hilang.
"Boleh, sayang. Tapi aku mandi dulu ya?"
Rani mengangguk, sudah akan mengikuti suaminya naik ketika Raja melarangnya.
"Kamu temani tamu kita saja. Aku bisa mandi sendiri."
Rani tak membantah dan beralih menuju dapur untuk membuatkan minum untuk para tamunya. Toh baju untuk Raja ganti, sudah ia siapkan ketika ia selesai mandi tadi.
"Biar saya yang bawa, bu." izin Musa yang menyusul ke dapur tepat setelah teh dan kopi yang ia buat sudah jadi.
Rani membiarkan asisten suaminya itu untuk membawa nampan berisi minuman, sedangkan ia membawa dua toples berisi kue kering dan keripik yang siang tadi mbak Eni buat sendiri. Meletakannya di atas meja ruang makan dan duduk di sebelah Rere.
"Gimana keadaan Bia, kak? kapan boleh pulang?" putri kecil Rere diberi nama Tsabia yang berarti pemersatu. Nama yang cantik secantik gadis kecil yang mulai tumbuh dengan sehat itu.
"Besok atau lusa udah boleh pulang. Tergantung Malvin juga. Dia yang paling worry. Takut Bia belum kuat kalo di bawa pulang."
Rani mengangguk paham. Dikehamilannya, Raja juga yang paling posesif. Menjaga setiap apa yang masuk kedalam mulutnya dan apa yang tidak boleh ia lakukan. Mungkin setiap ayah akan seperti itu menyangkut anak-anak mereka.
"Besok gue yang jemput. Gue mau jadi yang pertama gendong dia setelah keluar dari rumah sakit. Kan gue yang bawa lo pas lo mau lahiran." Adit menyahut.
Rere berdecak dan melingkarkan bola matanya. Sedangkan ia hanya terkekeh melihat keduanya.
***
Suasanya berubah tegang ketika mereka kembali berkumpul di ruang tamu setelah makan malam. Kali ini Raja sudah ikut bergabung dan duduk di sebelah Rani dan memeluk pinggangnya.
Raja beralih menatap Rani, Rere juga Adit bergantian. Menanyakan pendapat mereka. Yang dengan kompak mengangguk.
"Jangan tegang sayang." bisik Raja ketika Rani menggenggam tangan suaminya erat. Rani hanya membalas dengan sebentuk senyum.
Suara robekan amplop terdengar menakutkan baginya sekarang. Jantungnya bertalu menanti Musa yang tengah meneliti inti lembar kertas di tangannya.
"Untuk hasil tes ibu Rani dan nona Renata dinyatakan positif memiliki hubungan darah. Begitu juga hasil tes ibu Rani dan ibu dari pak Adit. Keduanya sama-sama memiliki nilai probabilitas yang tinggi."
Rani tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang jelas ada perasaan lega ketika semuanya jelas. Meski perasaan lain masih mewarnai perasaannya kini.
Rere yang duduk di seberangnya tersenyum dan mengacungkan jempol. "Sesuai janji gue. Nanti bunga yang gue pesen akan di antar. Kalau tadi kan lo belum jelas adek gue apa bukan."
Sebisa mungkin Rani berusaha terkekeh meskipun ia tak ingin. Setidaknya ia menghargai apa yang kakaknya lakukan. Ah kakak. Pantaskah ia menyematkan panggilan itu untuk Rere.
"Terus kapan gue bisa bawa lo ke depan bokap gue? eh bokap kita."
Rani menoleh pada suaminya yang sama tak bereaksi sepertinya. Raja hanya menatapnya dalam entah apa arti tatapan suaminya itu.
"Jangan sekarang. Aku ingin Rani melalui kehamilannya dengan tenang dan bahagia. Setidaknya sampai anaknya lahir dan kondisi Rani sudah tidak riskan."
Rani mengangguk setuju. Sejujurnya ia juga belum siap jika harus bertemu ayah kandungnya. Terlebih ia yang mendatangi pria itu dengan begitu tiba-tiba dan mengaku sebagai anak yang selama ini di cari. Mungkin Rio Darmawan akan mengira ia seorang penipu andai hasil tes DNA miliknya itu tak ikut di bawa.
"Yaah... Padahal gue penasaran banget sama reaksi papi. Tapi gue bisa ngerti alasan lo."
Waktu untuk ia bisa menjalani kehamilan hanya tinggal satu bulan. Seperti yang Raja katakan, Rani ingin melewatinya dengan bahagia. Penuh antusias agar anak mereka juga ikut merasa bahagia begitu di nantikan kelahirannya.
"Bunda pasti seneng banget tau kabar ini. Sayang bunda nggak bisa ikut."
Ya. Rani sama yakinnya dengan Adit akan reaksi bunda Adit yang pasti akan begitu senang mendengar kabar ini. Hanya mengetahui ada cara menemukan Raisa saja sudah membuat bunda Adit antusias. Apa lagi jika bisa melihat Raisa langsung di depan mata.
Entah berapa banyak air mata yang akan tumpah. Berapa keras tangis haru yang akan mengisi malam ini dirumahnya.
Sayangnya bunda Adit tengah ikut suaminya ke luar kota untuk menjenguk kerabat yang sakit. Dan berpesan untuk mengabari beliau secepatnya setelah hasil tes keluar.
"Tapi pasti bunda lo jadi benci kan sama gue?"
Adit menatap Rere dengan sebelah alis terangkat menunggu penjelasan.
"Ya karena gue anak lain dari Rio Darmawan yang bikin pria itu menjadikan tante lo simpanan. Bunda pasti bakal benci sama gue. Karena secara nggak langsung gue yang buat bunda kehilangan saudaranya."
Adit berdecak dan menoyor kepala Rere. "Tante Shan meninggal karena komplikasi melahirkan. Karena pendarahan. Nggak ada sangkut pautnya sama lo! ada atau enggaknya elo, nggak akan ngerubah keadaan! nggak akan bikin ibunya Rani jadi hidup!"
*
*
*