You're My Antidote

You're My Antidote
Masakan Pertama



Rani baru selesai mandi dan duduk di depan meja rias begitu ia melihat amplop besar pemberian Ibu Lintang yang hanya sempat ia lihat sampul dokumen didalamnya. Bahkan kemarin saat mereka bertemu ia lupa untuk menanyakan maksudnya.


Ia langsung tercengang begitu membuka dokumen berlambang burung garuda dengan bertuliskan sertifikat itu.


Sertifikat tanah panti asuhan yang sudah berpindah tangan menjadi atas nama dirinya. Dan hal yang semakin membuatnya tak bisa berkata-kata adalah tanggal sertifikat itu diresmikan.


Selembar kertas jatuh dari halaman yang ia buka. Tulisan tangan yang ditulis dengan rapi untuk dirinya.


Rani sayang..


Maafkan ibu dan bapak.


Sejak awal kamu meminta tolong pada kami untuk membantumu ketika panti akan digusur, sejak saat itu pula tanah itu kami beli atas namamu.


Maafkan bapak yang mengancammu dengan menggunakan panti asuhan. Padahal kamu tidak perlu mencemaskannya karena tanah itu sudah atas namamu sejak lama.


Ibu dan bapak hanya tidak ingin Raja menikah dengan wanita yang salah. Dan kami hanya percaya kamu satu-satunya perempuan yang tepat untuk kesayangan kami Raja.


Sekali lagi maafkan ibu dan bapak, nak. Kami titip Raja. Tolong bawa kembali kebahagiaan dihidupnya.


^^^^^^Ibu Lintang.^^^^^^


Seharusnya ia bisa membatalkan pernikahan dengan sertifikat itu. Karena ia tidak perlu lagi takut dengan keamanan panti.


Tapi yang ada justru sebaliknya.


Ia tidak bisa mengkhianati ketulusan orang tua Raja yang sudah membantunya. Karena ia tahu mereka orang-orang baik.


Rani menarik napasnya panjang. Ia semakin merasakan beban dalam hatinya. Entah apa yang harus ia lakukan untuk membuat Raja bahagia. Amanah itu terlalu berat untuk ia jalankan.


Ditengah kegundahannya, ponselnya berdering. Dering panggilan dari pria yang tengah berputar-putar dalam pikirannya.


"Hallo.." sapanya. Tapi tak mendapat jawaban dan hanya hening diseberang sana. Entah untuk tujuan apa Raja menghubunginya malam-malam seperti ini.


"Hallo kak.." sapanya lagi namun kembali tak mendapat jawaban. Ia menjauhkan ponsel dari telinga dan melihat sambungan telepon masih terhubung. "Apa teleponnya kepencet ya?" gumamnya pada diri sendiri.


Ia berharap ponsel Raja hanya tak sengaja terpencet dan sang pemilik tidak mengetahuinya. Ia menolak pikiran buruk yang hampir bersarang dikepalanya. "Kak Raja pasti baik-baik saja." tekannya dalam hati.


"Hallo kak? ini beneran kepencet ya? kalau beneran kepencet, Rani matiin ya?"


Ia sudah akan benar-benar memutuskan sambungan ketika suara Raja terdengar dan mengurungkan niatnya.


"Tunggu! Kamu sudah pulang?"


Rani tercengang beberapa saat. Tak menyangka atasannya itu akan menanyakan sesuatu yang tak berhubungan dengan pekerjaan padanya.


Semakin terkejut lagi ketika lelaki itu berkata menunggunya diluar panti.


Menyambar sweater dan kerudung instan yang tergantung dibelakang pintu, Rani keluar dengan setengah berlari. Khawatir ada hal penting dan tidak ingin membuat atasannya itu menunggu terlalu lama.


"Kak Raja kenapa tidak bilang kalau disini?" ucapnya dengan sedikit tersengal begitu ia membuka gerbang panti dan menghampiri Raja yang duduk bersandar di kap mobilnya. "Kalau tahu kan, kak Raja tidak perlu kedinginan diluar seperti ini." ia mencebik, berdiri didepan Raja dengan melipat tangan.


"Dari pada kamu marah-marah, lebih baik duduk!"


Rani semakin mencebik ketika pria didepannya menyuruhnya dengan gerakan dagu. Menyuruhnya duduk disamping pria itu.


Setelah mengamati raut wajah Raja yang keruh, Rani mengalah dan menurut. Duduk disebelah Raja masih dengan jarak yang tak terlalu dekat.


"Wajah kak Raja kenapa? jelek amat?" ejeknya. Wajah Raja memang tak pernah terlihat ramah didepannya. Tapi tidak pernah sekeruh ini jika bukan dalam suasana hati yang buruk.


"Kamu sudah makan?"


Rani menghela napas. Begitulah Raja. Selalu mengalihkan pertanyaan jika tidak ingin menjawabnya. Tapi meskipun penasaran, ia tidak bisa memaksa Raja untuk menceritakan apa yang membuat pria itu dalam suasana hati yang buruk. Karena jika ingin, Raja pasti akan bercerita. Tapi jika tidak, mungkin pria itu ingin menyimpannya seorang diri.


"Saya lapar. Temani saya makan."


Rani melihat jam dilayar ponselnya. Hari sudah mendekati waktu tengah malam. Tidak enak jika ia keluar malam-malam seperti ini.


Ia menatap sepanjang jalan depan panti dan melihat ada warung tenda yang masih buka.


"Makan pecel ayam mau kak?"


Raja menatapnya bingung. Ia menunjuk warung yang di maksud. "Atau nasi goreng?" tunjuknya pada pilihan yang lain yang ada disana.


"Kita kerestoran saja." tolak pria itu.


Rani tahu pria disampingnya tidak pernah nyaman makan makanan ditempat seperti itu. Rani bahkan yakin Raja belum pernah mencobanya.


"Sekarang saja sudah tengah malam. Mau pulang jam berapa kalau kita pergi? Rani tidak enak dengan tetangga. Takut digosipkan yang tidak-tidak." ia ikut menolak ajakan Raja untuk pergi keluar. Apa lagi jarak restoran yang bukan 24 jam dari panti cukup jauh.


Raja seperti berpikir dengan menatap ragu dua warung tenda pinggir jalan itu.


"Tenang aja. Kak Raja tidak mungkin sakit hanya dengan memakan itu." berusaha meyakinkan. "Mereka masaknya bersih kok kak."


Raja masih menatap ragu tapi berakhir menggelengkan kepalanya.


"Tidak usah. Kamu masuk saja. Saya tidak jadi makan."


Raja mendorong bahunya dengan jari telunjuk. Membuat ia kembali mencebik entah untuk yang keberapa kali dalam pertemuan mereka kali ini.


"Kak Raja belum makan. Nanti sakit." ia kembali berdiri didepan Raja dan menatapnya tajam.


"Saya tidak selemah itu!"


"Tidak usah ngeyel!" ia menarik pergelangan tangan pria itu. "Ayo kita ke panti. Kita cari sesuatu yang bisa dimasak untuk kak Raja makan."


Meski awalnya Raja menolak, tapi pria itu tetap mengikutinya. Ia melepaskan tangan Raja dengan tersenyum begitu pria itu mulai kooperatif.


"Kak Raja duduk disini tidak apa, ya? Rani masak dulu."


Setelah melihat Raja duduk, ia memunggungi pria itu untuk melihat isi kulkas. Mencari sesuatu yang bisa ia masak.


"Makanya, makan tuh di habiskan! jangan sok tidak lapar malah nyusahin diri sendiri!" ia mendumel sendiri dengan menyiapkan bahan nasi goreng. Karena sepertinya ibu Ani belum belanja untuk besok.


"Cerewet."


"Rani dengar ya kak!" serunya melirik tajam ketika mendengar Raja bergumam.


"Kalau kamu mau marah-marah dan tidak jadi memasak, saya pulang saja."


Rani mengambil penggorengan dan mulai memasak. Tidak membiarkan Raja kelaparan menunggunya.


Karena Raja tidak suka pedas, jadi ia tidak menggunakan cabai dan hanya menambahkan sedikit lada.


"Maaf kak, hanya ada ini." ia sajikan sepiring nasi goreng lengkap dengan telor mata sapi dan taburan bawang goreng.


"Saya biasa makan nasi goreng." ucap Raja dan mulai memakan dengan lahap nasi goreng yang ia masak. Sepertinya Raja benar-benar lapar. Membuat Rani semakin penasaran apa yang Raja lakukan setelah meninggalkan mall hingga berakhir kelaparan dengan suasana hati yang buruk itu.


*


*


*