
Satu minggu lebih Raja dan Rani berbulan madu. Sejak awal, Raja tak merencanakan kapan mereka akan pulang. Baginya, jika Rani sudah merasa puas untuk beribur, saat itu juga mereka akan kembali ke tanah air. Begitupun sebaliknya. Toh seliruh pekerjaan miliknya sudah ia titipkan pada dua sepupu kembarnya. Dua orang yang sangat mendukung acara bulan madu itu selain mama.
Selama waktu mereka di Maldive, mereka melakukan segala aktivitas yang bisa mereka lakukan. Mulai dari snorkeling, diving, mengeksplore pulau-pulau cantik, menyelam menggunakan kapal selam, berkeliling dengan private boat, menikmati sunset diatas kapal pesiar, mencoba hampir semua restoran yang ada, bahkan spa bersama dengan terpaksa karena Rani bersikeras memintanya saat itu.
Hal yang tak pernah Raja lakukan selama hidup pun disana Raja lakukan. Menyiapkan makan malam romantis ditepi pantai. Tentu saja ia hanya meminta orang untuk menyiapkannya. Ia hanya perlu membawa sang istri kesana saat semuanya sudah siap. Hasilnya pun cukup memuaskan. Ranu terkejut. Tentu saja. Jangankan istrinya itu. Ia sendiri saja tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti itu.
Raja tak ingin mengecewakan Rani dengan kenyataan bulan madu yang mungkin tak sesuai dengan ekspektasi. Bukankah bulan madu identik dengan keromantisan? jadi Raja berusaha melakukan yang terbaik. Membahagiakan istrinya yang beberapa kali mengeluh bosan dengan aktifitas mereka di Jakarta yang begitu sibuk hingga tak memiliki waktu untuk berlibur.
Tentu saja hal yang paling menyenangkan untuk Raja-selain melihat senyum dan kebahagiaan dimata Rani-adalah saat malam hari. Disaat mereka menutup kegiatan mereka dengan berbagi peluh. Memadu kasih. Memanfaatkan bulan madu sebaik mungkin berharap setelah mereka pulang, akan ada kabar gembira yang mengikuti mereka ke Jakarta.
Entah karena saat siang hari Raja mewujudkan semua yang Rani ingin lakukan atau apa, Rani tak pernah menolak saat ia ajak bercocok tanam. Bahkan tak jarang Rani meresponnya dengan lebih bersemangat. Melakukan inisiatif yang sempat membuat matanya membesar tak percaya. Tak pernah terbayangkan apa lagi mengharapkan seorang Rani akan bertindak seagresif itu.
Tapi tak jarang juga Rani membuatnya berdecak malas ketika memaksanya melakukan hal yang ia tak suka. Seperti spa saat itu dan saat mengoleskan sunblok pada tubuhnya setiap kali mereka akan keluar resort untuk beraktifitas.
"Sayang.. bukankah akan lebih **** jika kulitku lebih gelap sedikit." keluh Raja ketika lagi-lagi Rani memaksanya memakai sunblok. Padahal mereka hanya akan berenang dibelakang risort karena bingung akan melakukan apa hari ini.
"Kak Raja ingin terlihat **** untuk siapa? padahal Rani lebih suka kulit putih kak Raja ini."
Nah kan. Padahal seharusnya ia yang kesal karena istrinya yang selalu memaksanya memakai produk perlindungan kulit itu. Tapi pilihan kata yang ia ucapkan justru membuat istrinya kesal.
"Jangan ganjen! ingat! sudah menjadi suami." baru pertama kali ini Rani menunjukan kepemilikan atas dirinya. "Sekali Rani tahu kak Raja ada main sama perempuan lain. Jangan harap Rani memberi kak Raja kesempatan kedua."
Tangan yang masih sibuk dengan lengan miliknya itu, Raja tarik mendekat hingga hidung Rani menabrak dadanya. Ia terkekeh ketika Rani mengerang dengan hidung memerah. Padahal ia tak sekuat itu saat menarik tubuh istrinya. Atau ia tak sadar.
Raja mengecup hidung merah itu dan meminta maaf. "Maaf sayang, tidak sengaja." sekali lagi ia kecup dengan tangan yang kini melingkari tubuh sang istri. "Gemes banget sih, istriku kalau cemburu."
"Siapa yang cemburu!" sangkal istrinya cepat.
"Baiklah." mengalah saat berdebat dengan Rani adalah pilihan terbaik jika ia tidak ingin tidur sendiri malam ini. "Lagi pula bagaimana aku bisa melirik perempuan lain, sedangkan kita 24 jam selalu bersama." tapi melihat wajah menggemaskan istrinya, membuat Raja tak tahan untuk kembali menggoda.
"Jadi kalau ada kesempatan, kak Raja bisa lirik-lirik perempuan lain, gitu?!"
Raja melepaskan pelukannya dengan mengangkat kedua tangan seperti tahanan. Berjalan mundur menjauhi sang istri. "Karena kamu memberiku ide. Sepertinya patut kucoba." godanya lagi sebelum berbalik badan dengan cepat dan menyebur kedalam laut dangkal untuk menghindari istrinya yang sudah melotot dengan terkejut. Karena Raja yakin, jika ia masih disana. Ditempat yang mampu istrinya jangkau, entah itu cubitan atau pukulan yang terkadang cukup sakit pasti Rani berikan padanya. Sayang cinta. Kalau tidak sudah Raja campakan. Karena tak ada seorang perempuanpun yang berani melakukan hal seperti itu padanya. Dan tentu saja hanya Rani seorang. Ratu hatinya.
***
Sekarang Raja sudah berani terang-terangan mengatakan Rani sebagai istrinya didepan keluarga mereka. Tak lagi menutupi atau bahkan malu-malu untuk menunjukan kasih sayangnya pada perempuan yang sudah cukup lama bertahta di hatinya itu.
Keluarganya bahkan heboh saat itu. Kebahagiaan terlihat jelas di setiap wajah anggota keluarganya. Mungkin mereka bahagia mengetahui ternyata ia masih memiliki hati.
"Jadi kalian kapan pulang?" tanya mama di ponsel yang ia aktifkan pengeras suaranya agar Rani juga dapat mendengar.
"Mungkin beberapa hari lagi, mah. Rani masih malas kerja katanya." jawabnya dengan senyum dan lirikan menggoda pada Rani. Yang langsung dibalas dengan pelototan.
Sedangkan diseberang, mama terdengar terkekeh. Suaranya kali ini tak terdengar sesemangat biasanya. Lebih terdengar lemah. Tapi saat Raja tanya diawal panggilan tadi, mama hanya berkata lelah setelah menemani papa untuk menghadiri beberapa jamuan bisnis.
"Dulu mama juga bersikeras tetap bekerja di toko saat sudah menikah meskipun papa kalian larang. Dan ada kalanya mama merasa seperti Rani. Lelah bekerja dan lebih senang berlibur. Tapi tak tahan kalau sudah dirumah berlama-lama dan ingin cepat kembali bekerja."
Raja mengangguk. Bisa membayangkan semangat muda mamanya. Mungkin tak jauh berbeda dengan istrinya kini.
"Kalian yang akur terus, ya?" pesan mama yang tak pernah lupa untuk selalu disampaikan setiap kali mereka bertukar kabar atau bahkan bertemu langsung. "Mama harap, kalian bisa bertahan untuk saling menggenggam dalam situasi apa pun. Jangan pernah ada yang melepaskan."
Raja hanya mendengarkan tanpa berkata apa pun. Begutu juga dengan Rani yang larut pada petuah mama yang lebih berpengalaman dari mereka.
"Ya sudah. Kalian hati-hati disana. Mama merindukan kalian. Terutama anak gantengnya mama." mama mengakhiri panggilan setelah mengucapkan kata rindu sebagai salam.
Entah kenapa Raja merasa gelisah. Merasa tak tenang membiarkan mama merindukannya. Berpikir kalau kata rindu itu sebuah kode untuknya pulang. Karena baru kali ini ia pergi selama ini. Perjalanan bisnis keluar kotanya selama ini tak pernah lebih dari satu minggu. Jadi wajar kalau mama merindukannya. Karena, meski ia memutuskan untuk tinggal dirumah sendiri, setiap dua atau tiga hari, ia selalu kerumah atau makan diluar dengan mama.
*
*
*
Tadinya mau di bikin kaya Lintang. Cuma 50an episode. Tapi kok yang baca dikit amat 😭 udah gitu belum juga di acc, pengajuan kontraknya. Jadi mungkin bisa panjang kaya Senja.hehe
Jangan bosen-bosen ya, gaes... biar tambah banyak yang baca. Buat kalian yang tetap setia, lope lope pokoknya 🤗🤗❤❤❤