
Rani tak tahu apa yang terjadi setelah ia pergi kemarin. Hingga Haikal tak lagi membuang muka begitu ia datang hari ini. Meski hubungan mereka belum bisa dibilang sudah kembali seperti sebelumnya. Tapi setidaknya Haikal tak lagi mengusirnya saat ia datang dan menyapa sahabatnya itu.
Ibu Haikal juga menitipkan pria itu padanya ketika wanita paruh baya itu harus menyelesaikan masalah administrasi kepulangan.
"Aku senang kamu sudah sehat dan boleh pulang." ucapnya duduk ditempat kemarin. Haikal hanya memandangnya tanpa mengatakan satu patah katapun. "Setelah ini aku nggak mau dengar kamu masuk club malam dan berakhir di rumah sakit lagi, Kal. Kasihan ibu kamu sampai sedih dan merasa bersalah."
"Gimana dengan kamu?" tanya Haikal tiba-tiba.
Rani diam beberapa saat. Merangkai kata yang tepat agar Haikal tak lagi menghindarinya. "Kita bersahabat sudah dari kecil, Kal. Jadi apa yang kamu harapin saat aku mendapati kondisi kamu yang seperti kemarin? Nggak hanya sedih. Hati aku bahkan sakit."
"Seharusnya aku senang kan, dengarnya?" Haikal tersenyum sinis. "Tapi aku malah tambah sakit. Karena semua semakin terasa nyata."
Rani tak tahu harus apa. Ia sudah menjadi istri Raja. Itu fakta yang tak bisa dirubah. Dan sekalipun bisa, rasanya Rani tidak ingin merubahnya.
"Sebelumnya aku berpikir untuk kita tetap berteman." Haikal kembali bersuara setelah lama hanya hening yang mengisi diantara mereka. "Tapi sepertinya nggak akan bisa."
"Maksud kamu?"
"Nggak baik untuk kamu bersahabat dengan laiki-laki padahal kamu sudah menikah, Ran. Bagaimana pun, aku menghargai perasaan suami kamu. Karena kalau aku yang jadi Raja. Aku pun nggak akan kasih izin kamu buat dekat dengan lelaki lain."
Rani terdiam. Raja juga mengatakannya semalam. Raja membolehkannya berteman, tapi harus pada batas yang wajar. Raja memintanya untuk tegas pada perasaan dan hubungan mereka.
"Jadi.. Persahabatan kita cuma sampai disini?" tanyanya sedih. Tak bisakah jika mereka tetap berteman?
Anggukan dari Haikal meremas hatinya. Tapi ada setitik rasa lega saat ia bisa tegas dengan perasaannya. Ia tidak bisa selamanya mengikat Haikal dengan sebuah harapan yang tak bisa ia berikan. Haikal berhak bahagia dengan siapa pun yang akan menjadi jodohnya nanti.
"Sekarang ada Raja yang akan menjaga dan mrlindungi kamu. Tugas aku sebagai sahabat sudah selesai sampai disini." tangan Haikal terulur untuk mengusap kepalanya.
Rani berdeham untuk mengurangi sesak dihati. Diulasnya senyumnya yang menawan sebagai perpisahan.
"Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu, Ran. Meskipun bukan denganku."
Rani mengangguk mantap. "Aku juga melakukan hal yang sama."
"Tapi kalau kita nggak sengaja bertemu, kita nggak akan pura-pura nggak saling kenal kan?" candaan Haikal mampu membuatnya tertawa. Mereka tidak perlu sedrama itu. Ia menuruti Haikal untuk mengakhiri persahabatan mereka hanya untuk membebaskan sahabatnya itu dari rasa sakit. Karena pasti akan semakin berat untuk Haikal jika mereka masih saling berhubungan.
***
Proses kepulangan Haikal berjalan lancar. Sebelum pulang, dokter memeriksa pria itu untuk terakhir kalinya.
Rani lega semuanya berakhir baik. Setidaknya meski mereka tak dapat mempertahankan persahabatan mereka, hubungan mereka tidak berakhir buruk sebagai musuh. Mereka bisa berpisah dengan damai.
"Sayang." Pintu yang terbuka dan disusul suara Raja menarik perhatian semua yang ada diruang rawat Haikal. Termasuk dirinya yang akan mendorong kursi roda Haikal untuk pulang.
Rani tidak menyangka Raja akan mendatanginya kesana. Padahal pesan terakhir yang Raja kirim padanya berkata akan menunggu di taman belakang rumah sakit.
Sikap Raja yang memaksanya merangkul lengan suaminya itu membuatnya malu. Ia tak terbiasa bermesraan dengan Raja dihadapan orang lain seperti itu.
Terlebih ketika suara Haikal yang terdengar dingin ketika menolak bantuan Raja untuk menggantikannya mendorong kursi roda.
"Tidak apa. Kamu pasti masih lemah. Dan istriku juga pasti berat mendorong tubuh beratmu itu."
Rani meringis ngeri mendengarnya. Biasanya Raja tidak seperti itu. Sekalipun Raja tak suka, suaminya itu hanya akan diam dengan tatapan dinginnya.
Entah tersinggung atau apa, Haikal hanya diam dan membiarkan Raja membantunya hingga mereka berpisah di area parkir.
"Kenapa kak Raja berubah pikiran dan menjemput Rani disana?" tanyanya ketika mereka sudah berada didalam mobil.
Raja mengedik. "Hanya tak tahan jauh dari istriku."
Raja cemberut dan bertanya. "Bagaimana? kalian sudah baikan?"
"Hem.. Semua sudah berakhir. Kita hanya akan bersikap sebatas orang yang saling kenal?"
Raja menatapnya terkejut. Sepertinya tak percaya dengan apa yang ia katakan.
"Kamu yang menawarkan atau dia? bagaimana bisa?"
Rani bersandar di lengan suaminya. Baginya bukan hal mudah mengakhiri persahabatan yang sudah puluhan tahun terjalin. Apa lagi ia sudah menganggap Haikal sebagai saudara.
"Dia yang menawarkan. Dan bukannya kak Raja bilang Rani harus tegas dengan perasaan Rani?"
"Tapi aku tidak meminta kamu untuk mengakhiri persahabatan kalian."
"Tapi ini yang terbaik, kak." ucapnya mendongak. Menatap manik hitam sang suami. "Tidak ada persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan. Haikal akan semakin sakit kalau kami masih berhubungan."
"Lalu kamu? apa kamu tidak sakit berpisah dengannya?"
Rani tersenyum. Kenapa suaminya masih peduli tentang perasaannya untuk pria lain? seharusnya Raja senang kan, mendengar kabar ini?
"Bukankah ada kak Raja sebagai penawar sakit Rani?"
Raja menghela napas dan mendekapnya. Mengusap punggung dan kepalanya. "Ini pasti berat untuk kamu. Tapi aku akan berusaha untuk membayar sakit yang kamu rasakan."
Rani semakin mengeratkan pelukannya. Matanya sudah memanas sejak ia mengatakan perpisahan. Tapi ia sudah berjanji pada Raja untuk tidak menangisi pria lain. Untuk itu ia berusaha menahannya.
"Menangislah." ucap Raja seakan tahu apa yang ia rasakan. "Aku tahu ini berat. Aku memberikan pengecualian untuk hari ini."
Setelah mendengarnya. Rani menangis tersesu-sedu untuk waktu yang cukup lama. Tapi Raja tidak sekalipun merasa tidak sabar. Suaminya itu hanya memeluk dan mengusap punggungnya. Sesekali ciuman di puncak kepala, Rani rasakan.
Setelah tangisnya reda dan ia mulai tenang, Raja membantunya menghapus air mata. Memberinya air minum juga khawatir ia dehidrasi.
Ya Tuhan. Betapa beruntungnya ia memiliki Raja. Yang tak marah tapi justru menenangkan.
"Terimakasih sudah menjadi penawar bagi Rani. Mewujudkan beberapa mimpi Rani. Mulai sekarang izinkan Rani juga menjadi penawar untuk luka kak Raja. Luka yang kak Raja rasakan seorang diri."
"Maksud kamu..?"
Rani mengangguk. "Ayo kita sembuhkan trauma kak Raja. Agar kak Raja tidak selalu bermimpi buruk dan bisa tidur dengan nyenyak."
Raja langsung memeluknya. Entah apa yang suaminya itu rasakan.
*
*
*
Holaaa... Othor ngeselin datang lagi setelah kelamaan libur.wkwkwkw
2minggu di kampung nggak bisa ngehalu gaes.. Balik keperantauan harus baca ulang 2R biar ceritanya nyambung.hihihi
Ooh iya. Meskipun telat izinkan saya mengucapkan minal aidzin wal faidzin.. Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏
Maafkan segala salah dan khilaf yang othor lakukan. Maafkan juga masih bolong-bolong updatenya 🙏🙏🙏