You're My Antidote

You're My Antidote
Merasa Kecil



Pantas saja seniornya-Lura tidak dapat menemukan dokumen yang Raja minta. Karena yang Raja cari adalah dokumen lama.


Dengan dahi berkerut, Rani membawa map dalam dekapannya.


"Maaf pak, ini dokumen yang bapak minta." serahnya setelah dizinkan masuk. "Kalau boleh tahu, untuk apa ya bapak meminta dokumen ini?"


Sebagai sekretaris Raja, ia berhak tahu bukan, apa yang atasannya itu kerjakan?


"Tidak. Tidak terlalu mendesak. Kamu letakan saja diatas meja."


Rani meletakan map yang ia bawa dihadapan Raja dengan dahi yang semakin terlipat dalam.


Jika memang tidak mendesak, untuk apa Raja marah-marah dan mendesak akan memecat Lura jika sampai dokumen itu tidak ketemu.


"Mau saya pesankan makan siang, pak?" tawar Rani kemudian, mengingat apa yang seniornya katakan sebelumnya.


Baru pada saat itu Raja mengangkat tatapan dari dokumen kearahnya.


"Mbak Lura bilang bapak belum sempat makan siang." jelas Rani pada Raja yang menatapnya penuh tanya. "Kebetulan saya juga belum makan siang." imbuhnya karena Raja masih diam tak memberi respon.


"Boleh. Kamu pesan saja apa yang ingin kamu makan. Samakan saja."


Rani tersenyum dan mengangguk. Keluar dari ruangan Raja untuk duduk dimeja kerjanya sendiri. Tepat didepan ruang kerja Raja.


Meskipun Raja mangatakan ia bisa memesan apa yang ia mau, tapi atasannya itu termasuk orang yang pilih-pilih makanan, jadi ia tidak bisa seenaknya memilih. Untungnya dia hafal semua makanan yang disukai maupun yang Raja tidak suka. Jadi tidak terlalu sulit untuknya memilih menu makan siang mereka.


Tak menunggu lama, makanan yang ia pesan datang dalam kondisi hangat. Setelah memindahkannya kedalam piring, ia membawa makanan itu kedalam ruangan Raja dengan nampan penuh berisi makan siang mereka berdua.


Meski Raja sering bersikap menyebalkan, tapi Rani tahu Raja tipe orang yang lebih baik tidak makan dari pada makan seorang diri. Karena atasannya itu tidak suka dengan kesendirian.


"Kenapa beda? kamu makan apa itu?" atasannya itu menatap piring yang pria itu pegang dan membandingkan dengan isi di mangkuknya.


"Bapak kan tidak suka smoothies untuk makan siang, jadi saya pesankan udang asam manis dan sayuran." Rani menatap Smoothies Bowl yang ia pegang. Makanan yang terdiri dari potongan beberapa varian buah, granola dan madu.


"Terus kenapa kamu makan itu? Saya kan meminta kamu untuk memesan yang sama."


Rani berdecak dalam hati. Kenapa bosnya hari ini lebih cerewet. Padahal biasanya kalau tidak suka, Raja hanya akan mengatakan 'Ganti!' dan kalau suka hanya akan makan dalam diam tanpa protes apa pun.


"Saya belum terlalu lapar untuk makan nasi, pak." jawabnya tak ingin berdebat. "Lagi pula calon pengantin dilarang makan karbo terlalu banyak, takut nanti gaunnya tidak muat." sindir Rani pada status mereka yang sebentar lagi akan melepas masa lajang.


Ia menyerahkan gelas berisi air putih untuk Raja yang tiba-tiba tersedak mendengar ucapannya.


Dalam hati Rani tertawa. Ternyata lucu juga melihat Raja salah tingkah seperti ini.


***


Karena masih dalam masa cuti, Rani langsung pulang setelah selesai makan siang.


Saat dirinya berada didalam lift untuk turun, ponselnya berdering. Nama Ibu Lintang tertera sebagai pemanggil yang langsung membuatnya buru-buru mengangkat.


"Halo bu, Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, sayang." ibu Lintang menyahut dengan lembut seperti biasa. "Ibu dengar hari ini kamu cuti?"


"Kebetulan ibu sore ini harus kontrol ke rumah sakit, tapi bapak sedang bermain golf dengan Rafi. Kamu bisa menemani ibu untuk kontrol?"


Tidak mungkin dirinya menolak, untuk itu alih-alih ia membawa sepeda motornya kearah panti asuhan, ia justru berkendara kearah rumah Raja. Dimana Ibu Lintang sudah menunggu untuk berangkat ke rumah sakit.


"Wah, kamu sudah memantapkan untuk berhijab, Ran?" tanya ibu Lintang begitu ia turun dari sepeda motor dan menyalami beliau.


"InsyaAllah, bu. Doakan istiqomah."


"Pasti sayang. Ibu senang melihatnya. Ibu juga bersyukur tidak salah memilihkan calon untuk anak ibu."


Tak ada yang bisa Rani katakan selain membalasnya dengan senyuman. "Kita berangkat sekarang, bu?"


"Iya, dokternya sudah menunggu. Tapi tidak perlu khawatir, dokternya masih kerabat dengan kita. Cucu menantu dari kakak tertuanya bapak."


Rani hanya mengangguk saja. Karena diceritakan tanpa tahu orangnya pun ia tidak akan ingat ketika bertemu nanti.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit. Dan benar saja, tanpa harus melalui antrian, Ibu Lintang sudah langsung dipanggil untuk masuk ke ruang praktek dokter umum bernama Kaina.


"Kenalin, Ran. Dokter cantik ini namanya Kaina, dia juga masih pengantin baru, lho."


Wanita cantik itu tertawa dengan tersipu. "Oma bisa saja."


Rani menjabat tangan wanita yang sepertinya seusia dengannya. "Rani." ucapnya memperkenalkan diri yang dibalas hal yang sama oleh Kaina. Orangnya terlihat menyenangkan dan mudah akrab dengan orang baru. Terbukti belum lama menjadi anggota keluarga, tapi sudah seakrab itu dengan ibu Lintang yang hanya oma sepupu atau apalah sebutannya.


"Jadi ini calonnya kak Raja, oma? cantik sekali." puji Kaina terlihat tulus dengan mata berbinar. Padahal wanita itu terlihat lebih cantik dibanding dengannya.


Dokter Kaina langsung melakukan pemeriksaan pada luka Ibu Lintang ketika jatuh minggu lalu itu. Karena pasien dokter Kaina didepan yang masih banyak sehingga mereka tidak bisa terlalu lama berbasa-basi.


"Jangan sampai tidak datang ya Kaina, dipernikahan Raja dan Rani? Salam juga buat Abimanyu, suruh main kerumah. Jangan sibuk dirumah sakit terus."


Dokter Kaina tertawa dan mengiyakan apa yang ibu Lintang pinta. Dokter Kaina juga mengantar mereka hingga pintu ruang praktik.


"Sekalian ke butik ya, Ran? kita coba gaunnya pas atau tidak dikamu."


"Gaun, bu?" tanyanya bingung. Pasalnya ia tak pernah sekalipun diajak untuk pengukuran entah itu sewa atau beli. Meski untuk sekelas keluarga Shandika, Rani yakin seribu persen pasti beli.


"Iya. Ibu sudah lama pesan pakai ukuran Maira. Kalian kan kelihatannya satu ukuran. Jadi sekarang kita tinggal ngepasin saja. Mumpung masih ada waktu kalau ada yang ingin dirubah."


Rani hanya bisa pasrah mengikuti Ibu Lintang menuju sebuah butik yang cukup terkenal. Bukan hanya desain pernikahan dan gaun-gaun dalam butiknya saja yang bagus. Tapi brand yang dipasarkan juga sudah menyaingi produk import.


Dan Rani baru tahu jika itu juga milik salah satu kerabat keluarga Raja.


Tak tahu harus bagaimana. Keluarga Raja semuanya adalah orang-orang kelas atas. Sedangkan dirinya...


Rani menghela napasnya panjang sebelum masuk kedalam butik. Ia semakin merasa kecil dengan dirinya yang sudah kecil.


*


*


*