You're My Antidote

You're My Antidote
Menjaga Milikku



Raja tak yakin perasaan Rani pada Haikal hanya sebatas teman. Mengingat bagaimana istrinya itu menangis hanya karena pria itu mengabaikan dan menolak kehadirannya.


Sebenarnya wajar saja jika Rani belum mempercayakan perasaan wanita itu untuknya, sepenuh hati. Mengingat perlakuannya selama ini kurang baik pada Rani.


Tapi Raja berjanji akan berusaha keras mengambil hati Rani seutuhnya. Membuat wanitanya itu bergantung padanya dan tak memiliki keinginan untuk meninggalkannya.


Memang butuh usaha keras untuk itu. Mengingat banyak pria yang juga memiliki keinginan yang sama dengan dirinya.


Paras cantik dan pembawaan yang ceria dari sang istri memang cukup menarik banyak pria untuk jatuh hati. Termasuk ia sendiri. Hanya melihat gadis itu tertawa saja, Raja ikut merasa hangat dan bahagia dengan tulus.


Tak heran seluruh keluarganya akrab dengan sang istri. Dan sekeras apa pun usahanya untuk menepis perasaan yang tubuh sejak mereka masih sama-sama remaja itu, pada akhirnya perasaan yang ia miliki justru semakin kuat.


Selama ini Raja berusaha menyingkirkan Rani dari sisinya, bukan karena ia benar-benar membenci istrinya itu. Selain masa depan yang tak bisa ia tawarkan, ia ingin Rani bahagia dengan lelaki baik. Tak seperti dirinya yang brengsek. Meski kebrengsekannya hanya upaya untuk membuat Rani menjauh meski gagal. Dan Raja tak membenarkan sikapnya dengan alasan apa pun. Dia tetap lelaki brengsek yang masih tak cukup pantas untuk istrinya. Tapi bukankah Raja juga sudah berusaha berubah?


Bahkan sejak awal, ia tak benar-benar mengabaikan keberadaan Rani disekitarnya. Dari jarak jauh dan tanpa sepengetahuan Rani, ia selalu membantu perempuan itu ketika dalam kesulitan.


Biarkan kebaikannya selama ini tetap terkubur rapat. Biarkan Rani hanya tahu sebatas keburukannya saja. Dengan begitu ia bisa percaya diri bahwa Rani mencintainya dengan sepenuh hati. Tak peduli baik dan buruk dalam dirinya, Rani tetap menerimanya sepenuh hati.


Meski masih tak ikhlas dengan kejadian Rani yang menangisi Haikal, Raja tetap mengantar istrinya kerumah sakit. Memberi kesempatan untuk kedua orang itu meluruskan dan memperbaiki hubungan yang sudah berantakan dengan kehadirannya.


"Kak Raja yakin tidak ikut masuk?" Rani memegang hendle pintu dengan ragu. Menatapnya dan bertanya sekali lagi sejak ia mengatakan akan menunggu di mobil atau kafetaria rumah sakit.


"Pergilah. Kamu tahu dimana harus mencariku saat sudah selesai."


Setelah sekali lagi berkata tidak akan lama didalam, Rani keluar dengan merapikan hijab yang dikenakannya dan menyandang tas selempangnya.


Awalnya Raja kembali mengecek pekerjaannya didalam mobil. Tapi matahari yang masih semangat menyinari bumi itu membuat Raja keluar dengan malas. Menuju kafetaria tempat yang ia sebutkan pada Rani.


Entah karena akhir pekan atau apa, disana cukup ramai. Membuatnya tak nyaman dan membatalkan niatnya. Berbelok menuju taman belakang rumah sakit yang terlihat lebih sepi hanya dengan beberapa orang yang duduk dibeberapa titik.


Raja memilih bangku terdekat. Cukup dekat dengan koridor agar Rani tidak sulit mencarinya setelah ia mengirim pesan akan menunggu disana.


Baru beberapa saat ia duduk, seseorang mengusiknya dengan duduk disebelahnya. Raja mendongak dari ipad ditangannya dan menoleh pada wanita dengan perut membesar.


Dahinya mengerut mencoba menggali ingatannya kapan ia bertemu wanita yang terasa tak asing ini? dan bertanya-tanya apa ia mengenalnya.


"Hai." sapa wanita itu dengan senyum merekah dan dua lesung pipi yang mengapit bibir tipisnya. "Aku Nadin." ucapnya memperkenalkan diri. Atau lebih tepatnya mencoba mengingatkanku karena raut kebingungan diwajahku.


"Nggak heran, kamu lupa. Karena aku yang gila dan kamunya biasa aja."


Perkataan wanita itu semakin membuat Raja bingung ditengah usahanya membuka memori ingatannya.


Dan Raja baru ingat saat Nadin memberitahunya bahwa mereka pernah menjadi teman tidur beberapa tahun lalu saat mereka tengah berlibur di Bali saat tahun baru.


Nadin tersenyum dan menyentuh perutnya dengan tatapan bahagia. Membuatnya membayangkan Rani yang tengah mengusap perut besar dengan anak mereka didalamnya.


"Meski dia lahir tanpa diinginkan ayahnya. Tapi aku sangat menyayanginya." ada kesedihan yang Nadin tahan. "Anggap saja ini karma buat orang seperti aku yang dengan mudah tidur dengan pria." ucap Nadin mencela diri sendiri.


Ada rasa kasihan yang Raja rasakan untuk Nadin dan anak dalam kandungan wanita itu. Tapi lebih dari itu semua, Raja justru merasa takut. Jika Nadin menganggap itu sebagai karma, lalu karma seperti apa yang menantinya didepan sana. Raja harap bukan sesuatu yang akan memisahkannya dengan Rani. Karena Rani alasannya bertahan hidup sejak pertama mereka bertemu.


"Jadi dia...?" tanyanya hati-hati takut menyinggung Nadin. Tatapan Raja masih tertuju pada perut besar Nadin.


"Aku masih belum menikah." Nadin mengangguk dan menatap Raja dengan getir. "Selain pria brengsek yang tidak mau mengakui anaknya ini, tidak ada pria yang mau menikah dengan wanita yang hamil tanpa suami sepertiku, Ja."


Setelah menikah dan berharap untuk memiliki anak, Raja bisa mengerti perasaan orang tuanya. Bagaimana mereka tidak ingin hal seperti Nadin terjadi.


Bahkan jika ia yang menjadi orang tua Nadin, ia tidak akan sanggup menyalahkan anak gadisnya. Mungkin ia akan menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik. Memilih menghukum dirinya sendiri alih-alih menghukum anaknya.


Nadin pamit ketika wanita paruh baya melambai memanggil. Raja ingat itu ibu Nadin. Mereka cukup sering bertemu dipenjamuan bisnis yang sering diadakan. Karena mereka memiliki lingkaran koneksi yang sama.


Bertemu dengan Nadin semakin membuat Raja menyadari betapa buruk kehidupannya selama ini. Raja memutuskan untuk mencari Rani. Takut sang istri merasa bersalah dan bersimpati pada Haikal dan memilih meninggalkannya.


"Sayang." panggilnya selembut mungkin membuka pintu ruangan dimana Haikal dirawat.


Semua mata tertuju padanya. Termasuk Rani yang tengah membantu mendorong kursi roda Haikal. Sepertinya mereka sudah akan pulang.


"Eh, kak Raja kesini?" senyum Rani membuatnya yakin jika perasaan itu masih miliknya.


"Biar aku bantu." tak menjawab pertanyaan sang istri yang sudah jelas jawabannya, Raja mengeser tubuh Rani dan menggantikan mendorong kursi roda Haikal. Sebagai gantinya, ia letakan tangan sang istri untuk merangkul lengannya.


"Apa sih, kak. Malu!" bisik Rani. Tapi tak Raja biarkan istrinya untuk melepaskan rangkulan dilengannya itu.


"Aku bisa sendiri." sela Haikal yang sepertinya tidak ingin menerima bantuanku. Memang Raja tidak sedang berbaik hati memberi pria itu bantuan. Ia hanya tidak ingin Rani terlalu dekat dengan Haikal.


"Tidak apa. Kamu pasti masih lemah. Dan istriku juga pasti berat mendorong tubuh beratmu itu." Raja mengatakannya dengan penuh penekanan.


Raja akui kata-katanya cukup menyakitkan bagi pria yang baru sembuh dari efek depresi karena patah hati. Tapi Raja tak peduli. Biarkan kali ini ia tetap memerankan peran jahat. Untuk menjaga apa yang sudah ia miliki.


*


*


*