
Rani sudah tidak peduli lagi dimana ia berada. Ia hanya fokus membantu anaknya keluar dengan selamat. Mengusahakan yang terbaik yang bisa ia lakukan. Ia sendiri yang menolak operasi. Jadi ia harus mempertanggung jawabkan keputusannya. Tidak boleh cengeng. Tidak boleh takut apa lagi menyerah.
Raja selalu di sisinya. Memberinya semangat di setiap ia mengejan ketika dorongan dari anak mereka memanggilnya.
Raja menggenggam erat tangannya. Membantunya memberi kekuatan dengan membubuhkan kecupan-kecupan di sisi wajahnya.
Wajah Raja mulai pucat ketika dokter membuat sayatan untuk membantu persalinan. Trauma Raja tentang darah memang belum sembuh total. Sebelumnya ia juga sudah membicarakan masalah itu dengan Raja. Bahwa Raja bisa keluar dari ruang bersalin ketika sudah merasa tidak kuat.
"Mas mau keluar saja?" tanya ketika keringat bermunculan di wajah pucat Raja.
Raja menatapnya dan bagian bawah tubuhnya bergantian. Terlihat ragu dan lebih banyak tidak rela.
Entah seberapa banyak darah yang keluar. Tapi Rani rasa tidak begitu banyak karena tidak begitu sakit, hanya rasa perih yang ia rasa. Atau karena kalah sakit dengan kontraksi hingga sayatan itu tidak terasa sakit lagi baginya? entahlah.
"Tidak. Aku akan disini. Menyambut anak kita." ucap Raja tegas. "Kita berjuang bersama. Kamu pasti bisa. begitu juga denganku. Aku pasti bisa melawan takutku."
Rani tersenyum dan mengangguk bangga. Ia kembali mengejan ketika rasa sakit menderanya. Menarik napas dalam dan mendorongnya sesuai interuksi dokter. Dua kali melakukannya hingga anak pertamanya terlahir ke dunia.
Tangis bayi yang begitu keras yang menggetarkan hatinya. Tangis tak dapat lagi ia tahan. Tangis bahagia bisa membawa buah hatinya terlahir dengan selamat.
"Tampan sekali seperti ayahnya." puji dokter Fani ketika meletakan bayi laki-laki itu di atas dadanya.
Benar. Bayi laki-lakinya sangat tampan. Persis Raja.
"Terimakasih sayang." bisik Raja memberinya kecupan. "Terimakasih juga jagoan papa sudah berjuang keras. Kamu hebat dan papa bangga."
Lagi. Rani tergugu dalam tangis mendengar apa yang suaminya katakan pada putra mereka. Cinta seorang ayah untuk anak lelakinya.
Beberapa saat bayi laki-lakinya ia dekap, hingga di ambil alih oleh suster untuk di bersihkan. Sedangkan perjuangannya belum berakhir. Lima menit setelah bayi pertamanya lahir, rasa sakit itu kembali ia rasakan.
"Dok. Yang kedua." ucapnya kembali mencengkeram lengan Raja.
Ia mengandung anak kembar. Satu laki-laki dan satu perempuan. Kini tinggal anak perempuannya yang berjuang menyusul saudaranya yang sudah lahir terlebih dahulu.
Anak keduanya tidak selama dan sesulit sebelumnya. Mungkin karena sudah di bukakan jalan oleh di sulung hingga tak sampai lima menit tangis yang lebih kecil tapi tak kalah keras kembali terdengar.
Kali ini tak hanya ia dan bayi mereka yang menangis. Tapi Raja yang sebelumnya hanya berkaca-kaca ketika putra mereka lahir, kini menangis tergugu menutup wajahnya dan berlutut di bawah sana yang tidak bisa Rani jangkau. Bayi perempuan yang Raja harapkan dan idamkan sejak pertama tahu ia mengandung.
"Duh.. Papanya sayang banget nih sepertinya sama princes." ucap dokter Fani.
Raja mengusap air mata dengan malu dan berdiri di tempat semula. Melabuhkan kecupan dan ucapan terimakasih seperti sebelumnya. Juga melabuhkan kecupan yang cukup lama di kepala putri mereka.
"Terimakasih sayang.. Terimakasih sudah memilih papa sebagai ayahmu. Terimakasih telah berjuang. Sekarang papa yang akan memperjuangkan kebahagiaanmu untuk membayar kebahagiaan yang papa rasakan saat ini."
Rani tidak melihat kadar kasih sayang yang Raja berikan untuk kedua anak mereka berbeda. Hanya penyampaiannya saja yang tak sama.
***
Setelah melaksanakan tugasnya sebagai seorang ayah untuk pertama kalinya untuk kedua anaknya, Raja keluar ruang bersalin sembari menunggu Rani di pindahkan ke ruang rawat inap.
Pelukan dan ucapan selamat ia dapatkan dari semua keluarganya yang hadir. Begitu juga Musa yang ia peluk lebih dulu.
"Aku sudah menjadi ayah, Sa. Aku memiliki dua malaikat kecil." ucapnya dengan bangga.
"Selamat tuan. Saya ikut bahagia."
Musa adalah orang yang papanya siapkan untuk selalu disisinya sejak ia kuliah. Menemaninya belajar bisnis. Orang yang awalnya tak ia suka kehadirannya yang lebih ia anggap sebagai mata-mata papanya, kini menjadi orang yang paling ia percaya.
Tepat ketika adzan subuh berkumandang, Rani di pindah ke ruang rawat. Om Rafi dan istrinya lebih dulu menemui Rani dan mengucapkan selamat sebelum pamit pulang. Disusul juga oleh Maina dan Maira.
"Tolong antarkan Mbak Eni pulang, Sa. Kasihan Mbak Eni butuh istirahat." pinta tolong Raja pada Musa. Hampir saja ia lupa keberadaan asisten rumah tangganya jika saja tidak melihat wanita paruh baya itu memasuki ruang rawat Rani.
Rani sudah terlelap setelah ruangan sepi. Hanya tersisa mereka sebagai keluarga kecil baru. Baru setelah kelahiran dua malaikat melengkapi pernikahan mereka.
Seharusnya Raja menyusul Rani tidur untuk mengisi tenaganya. Bersiap untuk mengurus kedua anak mereka yang kini juga tengah terlelap. Tapi nyatanya, matanya tidak mengantuk sama sekali.
Kebahagiaan yang ia rasakan tidak membuat matanya ingin terpejam. Memandangi wajah istrinya dengan punuh rasa syukur. Syukur karena apa yang istrinya takutkan tidak terjadi. Rani bisa melahirkan putra putri mereka dengan lancar dan selamat.
Ucapan terimakasih tidak akan cukup untuk membayar apa yang sudah Rani berikan padanya. Ia berhutang membahagiakan istrinya itu seumur hidup.
Puas memandang wajah sang istri, Raja beralih pada box bayi. Saat itu putra mereka tengah terjaga. Tidak menangis dan hanya bemain dengan lidahnya sendiri. Pemandangan yang menakjubkan untuknya kini.
"Jagoan kenapa bangun?" tanya lirih. Takut membangunkan putri kecilnya dan juga sang istri. "Mau papa gendong?" tanyanya penuh kasih.
Meskipun terlihat kaku, meskipun baru kali pertama ia menyentuh seorang bayi. Tapi Raja melakukannya dengan sangat hati-hati.
"Beri papa kode kalau kamu tidak nyaman atau papa menyakitimu ya, Nak." ucapnya haru dapat menggendong putranya untuk pertama kali.
Menimangnya penuh sayang. Melabuhkan kecupan yang dibalas senyum menggemaskan dari putranya.
"Tumbuhlah menjadi lelaki hebat. Lelaki yang baik tidak seperti papa."___"Tanggung jawab menjaga mama dan adikmu ada di pundakmu kelak ketika papa tiada. Tapi selagi papa ada, papa yang akan melindungi kalian hingga titik darah penghabisan."
Masa lalunya yang hitam, tentu Raja tidak ingin putranya lakukan juga. Ia ingin putranya tumbuh menjadi pria baik. Dimana tidak ada penyesalan di kemudian hari seperti yang ia rasakan. Dimana ia tidak bisa memberikan yang terbaik untuk istrinya karena masa mudanya yang buruk.
"Ajari papa menjadi ayah yang baik untuk kamu dan adikmu. Maafkan papa jika nanti masih banyak kekurangan dalam menjaga dan mendidik kalian."
*
*
*