You're My Antidote

You're My Antidote
Setitik Cahaya



Rani masih dibuat berpikir keras dengan gelang yang bertengger cantik di dalam lemari. Ia kembali dibuat penasaran saat melihat toples berisi origami berbentuk burung bangau di rak lebih atas.


Ketika tangannya menyentuh gagang pintu lemari, ingin melihat toples tersebut, saat itu juga pintu kamar terbuka dengan tiba-tiba tanpa ia mendengar ketukan terlebih dahulu.


"Kak Raja?"


"Sedang apa?" Raja mendekat dengan tangan kanan yang dimasukan dalam saku celana. Jas dan dasi pria itu sudah ditanggalkan dan menyisakan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga sebatas siku.


"Lihat-lihat koleksi kak Raja." Rani menengadahkan tangan yang hanya dilihat Raja dengan alis terangkat. "Salim." jelasnya. Baru saat itu Raja memberikan tangan untuk ia cium. Mungkin ini kedua kalinya ia mengecup tangan yang kini bertanggung jawab akan hidupnya.


"Boleh Rani buka?" izinnya pada sang suami. "Rani mau lihat itu." tunjuknya pada toples origami yang sebelumnya akan ia ambil tanpa seizin suaminya.


"Kenapa?" tanya Rani lagi saat Raja hanya diam.


"Untuk apa?" Raja malah balik bertanya padanya.


"Mau lihat. Kayaknya Rani kenal."


Raja mengangguk. "Kalau kamu kenal, kenapa masih penasaran?"


"Jadi bener?" senyum Rani mengembang kegirangan. "Itu bangau lipat buatan Rani, pas kak Raja sakit dulu?"


Senyum Rani semakin lebar ketika Raja mengangguk mengiyakan.


Untuk pertama kalinya Raja terlibat dalam sebuah tawuran saat masih duduk dibangku menengah pertama. Ketrampilan beladiri pria itu yang minim mengantar Raja untuk dirawat dirumah sakit selama satu minggu dengan luka lebam dimana-mana.


Saat ibu panti menjenguk Raja, disitulah Rani ikut dengan membawa toples berisi origami burung bangau yang ia buat semalaman.


"Kenapa?" tanya Rani antusias. "Kenapa masih kak Raja simpan? padahal dulu pas Rani jenguk, kak Raja bahkan tidak mau melihat kearah Rani. Itu juga.." tunjuknya ke arah bingkai berisi gelang buatannya. "Bukannya dulu kak Raja bilang kak Raja tidak mau memakainya karena kak Raja bukan perempuan? kak Raja bahkan membuangnya!" cibirnya.


"Kamu terlalu cerewet!" tak menjawab, Raja mencubit pipi kanan Rani. "Lebih baik kamu keluar, bantu mama menyiapkan meja makan. Aku mandi dulu."


Bola mata Rani membulat. "Mama menyiapkan makan malam sendiri?"


"Bibi yang masak. Mama hanya membantu menyiapkan meja."


"Kenapa tidak bilang dari tadi!" Rani langsung melesat dan minggalkan Raja yang menggeleng.


***


Raja membuka lemari berisi koleksinya. Mengambil toples origami dimana ada tulisan tangan kecil Rani disebuah kertas yang ditempel pada badan toples : Kak Raja cepat sembuh, ya? Nanti siapa yang dengerin Rani cerita?


Tulisan itu Raja posisikan dibagian belakang hingga tidak ada yang bisa melihat. Ia bahkan tak pernah membayangkan bahwa hari ini akan tiba. Hari dimana Rani akan memasuki kamarnya dan melihat apa yang selama ini ia simpan rapi.


Raja bergeser pada gelang biru dalam bingkai. Hal yang juga membuat Rani penasaran.


Dulu Raja sebisa mungkin menghindar dari Rani. Tapi gadis cilik itu selalu menempel padanya setiap kali ia dan mama datang ke panti.


Raja dulu sungguh-sungguh tidak menyukai gelang yang Rani berikan. Tapi melihat bagaimana Rani menangis ketika ia membuangnya, menimbulkan perasaan aneh dalam hati. Ia hanya bisa berdiri mematung melihat Rani yang dengan frustasi mencari gelang disemak-semak. Baju Rani bahkan kotor karena saat itu hujan baru saja reda. Beberapa ranting basah tersangkut dirambut panjang Rani.


Melihat bagaimana gadis itu berusaha sangat keras mencari apa yang Raja buang, membuatnya merasa bersalah. Dan saat Rani pergi dengan menyebutnya jahat, Raja mulai mencari gelang itu. Tubuhnya bahkan tak kalah kotor dari Rani. Bahkan tangannya tergores besi yang ia tak sadar keberadaannya. Membuat mama panik begitu ia mengajak pulang.


Begitu pula dengan jepit rambut kupu-kupu. Benda yang tak sengaja Rani jatuhkan dan Raja ambil.


Plester luka itu juga memiliki kenangan masa kecilnya dan Rani. Saat itu telapak tangan Raja terluka saat jatuh di panti, Rani memasang pelater itu disana. Saat dirumah mama mengganti dengan yang baru, Raja menyimpan plester luka dari Rani. Meleminating dan membingkainya.


Meski egonya selalu mengatakan ia tak suka dengan Rani dan menganggap gadis itu sebagai pengganggu dengan segala keberisikannya. Namun hatinya tak dapat berbohong. Jantungnya berdebar dua kali lipat setiap melihat gadis itu tersenyum. Ia ingin Rani selalu ada disampingnya dan tak jauh dari jangkauan matanya.


Semua berawal saat Raja melihat Rani terjatuh dan begitu kegirangan saat mendengar suaranya untuk pertama kali. Tak menyangka ada orang asing yang begitu bahagia hanya mendengarnya bersuara. Raja sudah berjanji akan melindungi gadis itu dan tidak akan membiarkannya bersedih.


Raja bahkan ingin selalu bisa menggenggam tangan Rani. Tapi Raja tetaplah Raja. Gengsinya lebih tinggi dibanding perasaannya.


Semakin besar Raja tumbuh. Semakin ia mengingat kedua orangtuanya. Semakin ia takut untuk membawa Rani masuk kedalam hidupnya.


Keputusannya untuk tidak menikah, membuatnya berusaha keras menjauhi Rani. Ia merasa tidak bisa menawarkan masa depan bagi gadis yang ingin ia jaga itu.


Berbagai cara Raja coba. Termasuk bermain dengan wanita. Berharap Rani membenci dan tak lagi mendekatinya. Tapi bukan hanya Rani tak keberatan berada didekatnya yang brengsek. Gadis itu bahkan menjadi sekretaris dan bahkan istrinya.


Takdir memang tak dapat ditebak. Tak pernah sesuai dengan apa yang Raja rencanakan. Termasuk kematian orang tuanya.


"Lho. Kok kak Raja belum mandi!" kepala Rani menyembul disela pintu yang terbuka. Menarik Raja dari kenangan masa lalu mereka. "Makan malam sudah siap. Mama sama papa juga sudah menunggu." Raja bisa merasakan ketidaknyaman ketika Rani menyebut orangtuanya dengan sebutan yang biasa ia gunakan.


"Ayo." ajaknya setelah Raja menutup pintu lemari. Merangkul gadis yang mendongak dengan tatapan heran.


"Kak Raja tidak mandi dulu?"


"Nanti saja. Kamu mandikan." cadanya. Tapi gadis itu langsung melepaskan tangannya dari bahu dan menatapnya tajam.


"Jangan mesum!" setelah mengatakan itu, Rani meninggalkannya untuk turun lebih dulu.


Setidaknya Raja bersyukur dengan takdir yang tidak ia harapkan ini. Karena takdir membawa Rani menjadi istrinya. Gadis yang tak pernah berani ia libatkan dalam hidupnya yang hitam.


Masih ada beberapa hal yang harus ia selesaikan sebelum menjadikan Rani istri seutuhnya. Mencoret satu persatu list yang ia buat untuk membangun rumah tangga bahagia dengan Rani.


Jika sejak kecil Raja tidak pernah mendapatkan apa yang ia mau tentang sebuah keluarga. Semoga kali ini Tuhan mengizinkannya mewujudkan keinginan Rani dalam memiliki keluarga idaman. Jika dosanya terlalu banyak untuk bahagia. Setidaknya Tuhan masih mengizinkan ia untuk membahagiakan Rani yang tak berdosa.


Kini ada titik cahaya dalam hidup Raja. Karena kini ada tujuan yang harus ia capai sebagai penyemangat. Tujuan untuk membahagiakan gadis yang telah bertahta selama belasan tahun dalam hatinya.


*


*


*