You're My Antidote

You're My Antidote
Cerita Kelam 3



Sakit? Jangan ditanya. Hati Raja rasanya sudah lebur sejak cerita orang tuanya ia mulai. Ia akan menghancurkan seluruh yang tersisa untuk menuntaskan rasa sakit yang ia rasakan. Berharap ia tak lagi merasakan sakit ketika mengenang kedua orang tua kandungnya setelah ini.


Seperti kata Rani, ia harus berdamai dengan masa lalunya. Berdamai dengan rasa sakit yang menemani sepanjang hidupnya itu.


"Mereka bertengkar diruang keluarga. Tapi dari ruang makan, aku bisa melihat mereka dengan jelas."


"Awalnya aku acuh. Aku melnjutkan makan tak mempedulikan mereka. Karena bagiku itu sudah seperti makananku setiap hari."


Pandangan Raja menerawang pada kejadian belasan tahun silam yang rasanya baru terjadi kemarin. Ia dapat mengingat segala detailnya dengan jelas. Bahkan warna coklat hordeng yang terpasang dengan motif bunga pun masih ia ingat. Seakan terpatri dalam ingatan.


"Aku melirik mereka ketika mendengar pecahan guci. Dan langsung berdiri saat mami terkapar disebelah pecahan guci dengan darah yang mengalir deras."


"Aku berlari mendekat. Meskipun mami tidak pernah menganggapku ada, tapi aku menyayangi beliau dan tidak ingin sesuatu terjadi padanya."


"Tapi saat aku baru sampai ambang penghubung ruangan, papi berteriak melarangku mendekat."


Papi dengan pisau ditangan dan tubuh bergetar hanya menatap mami tanpa berani berbalik untuk menatap Raja kecil saat itu.


"Aku tidak pernah berpikir papi akan setega itu... Aku kira mami berdarah karena guci itu. Aku kira karena papi tidak sengaja mendorong mami karena reflek ketika marah. Aku tidak pernah menyangka Papi yang penuh kasih akan melakukan hal seperti itu."


Tanpa sadar, Raja mengeratkan dekapannya pada sang istri hingga istrinya merintih. "Sakit, kak."


"Ma-maaf sayang." sesalnya memeriksa kedua lengan atas istrinya yang ternyata memerah di lengan sebelah kiri. "Maaf." ucapnya sekali lagi amat menyesal. Bahkan tanpa sadar ia melukai istrinya hanya karena mengingat masa lalu.


"Rani tidak apa." Rani mengusap pipinya dengan lembut. Ia bawa telapak tangan itu untuk ia kecup.


"Ingatkan aku, kalau aku kembali menyakitimu." Rani menjawabnya dengan anggukan.


"Setelah papi berteriak melarangku untuk mendekat, papi menyusul mami saat itu juga."


"Tubuh papi langsung tersungkur dengan darah yang tak kalah banyak. Tapi papi masih sadar dan masih sempat mengucapkan perpisahan padaku."


"Aku yang syok hanya bisa meringkuk didekat dinding. Diluar hujan deras dengan petir menyambar. Setelah suara papi tak terdengar lagi, listri padam dan semakin membuatku ketakutan. Karena aku tidak bisa melihat apa pun. Aku hanya bisa mencium bau anyir dari darah yang bersimbah disekitar mami dan papi."


"Ketika kilat menyambar, cahayanya bisa membuatku melihat kondisi mami dan papi yang sudah diam tak bernyawa. Karena itu, aku selalu takut ketika ada hujan petir. Aku bahkan bisa sampai tak bisa bernapas karena trauma itu. Karena petir yang menyambar, selalu mengingatkan aku tentang bayangan menyeramkan tubuh papi dan mami."


"Kak Raja sendirian?" Rani bertanya lirih dengan suara serak.


"Ada bibi yang selalu menemaniku sejak bayi. Orang kepercayaan papa Rasya dan mama Lintang yang diminta ikut ke luar negeri untuk menemani papi dan mami. Karena kamu tahu sendiri kan, bagaimana mama menyayangi anak-anaknya dan tidak ingin anaknya kesulitan?"


Rani mengangguk. Mama Lintang memang wanita paling penuh kasih yang Raja kenal. Dan sekarang ada wanita hebat yang ia yakin pasti akan sama penuh kasihnya pada anak-anak mereka kelak. Wanita yang sudah ia klaim sebagai belahan jiwanya. Karena tanpa Rani, ia tak yakin apa masih sanggup berdiri didunia yang fana ini.


"Biasanya, bibi akan berada dikamarnya saat mami dan papi bertengkar. Dan akan keluar setelah suara teriakan mereka tidak terdengar lagi. Keluar untuk membereskan kekacauan yang papi dan mami perbuat."


"Tapi entah kenapa, saat itu bibi lama sekali. Meski sudah berjam-jam suara teriakan papi dan mami menghilang. Sudah berjam-jam aku meringkuk ketakutan seorang diri. Dan bibi baru datang membawa lilin dan berteriak kaget melihat apa yang terjadi."


Raja tidak pernah bertanya, apa bibi ketiduran atau lama karena mencari lilin. Karena saat itu ia begitu syok dan hanya meringkuk ketakutan. Tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi anehnya, tak satu tetes air matapun yang keluar dari matanya. Meski hatinya teramat kesakitan.


"Bibi memeluku dan menangis sesenggukan memanggil nama papi.... Seolah teringat sesuatu, bibi mencoba meraih telepon yang tak jauh dari kami untuk menghubungi polisi. Setelah itu bibi menghubungi papa dan menyampaikan semua yang terjadi."


"Papa dan mama langsung datang?" tanya Rani lagi. Ia jawab dengan anggukan.


"Entah apa saja yang mereka lakukan ditempat kejadian yang terasa lama bagiku. Baru setelahnya tubuh mami dan papi di masukan dalam kantong jenazah dan dibawa pergi dengan ambulan."


"Aku dan bibi juga ikut dibawa menggunakan mobil polisi untuk dimintai kesaksian. Tapi ditengah jalan, aku jatuh pingsan."


"Kak Raja pingsan?"


Lagi. Raja mengangguk. "Mungkin karena syok dan tidak kuat menahan sakit hingga pingsan. Dan baru sadar keesokan harinya saat mama dan papa sudah berada disana. Diruang rawatku. Bersama dengan Om Rafi dan istrinya juga tante Selina."


"Semua orang terlihat sedih. Membuatku yakin jika yang aku lihat dimalam sebelumnya bukan mimpi. Membuatku mengamuk dan melempar segala apa yang bisa untukku jangkau. Bahkan aku tak peduli dengan rasa sakit saat aku menarik jarum infus ditanganku sendiri. Tak ada yang bisa menghentikanku sampai dokter dan perawat datang dan memberiku obat penenang yang membuatku kembali tidur."


"Setelah kejadian itu, aku tak pernah lagi mengamuk. Bahkan aku tak mau berbicara dengan siapapun. Duniaku seolah sudah hancur. Jiwaku direnggut paksa dihari aku melihat orang tuaku terbujur kaku."


Dan wanita dalam pelukannya lah yang membuatnya kembali bersuara. Bahkan mengembalikan jiwanya yang telah lama hilang.


"Aku hanya diam ketika polisi meminta keteranganku. Tapi toh mereka memiliki hasil rekaman CCTV untuk menjelaskan apa yang terjadi."


"Setiap malam aku selalu berteriak ketakutan dalam tidur. Tapi ketika sadar aku hanya duduk diam dan melamun sepanjang hari. Aku bahkan antara sadar dan tidak sadar, kapan tepatnya aku pulang ke Jakarta."


"Sampai aku mendengar mama dan papa yang tengah berdiskusi dengan keluarga besar. Menimbang apakah perlu membawaku ke psikiater atau psikolog."


Rani terkejut dan membekap mulutnya.


"Mereka khawatir kejadian itu membuatku gila." jelas Raja. "Besar kemungkinan aku memang akan gila jika saja mereka terlambat membawaku menemui ahli."


"Dan kamu tahu, apa yang membuat aku teramat menyesal?"


Rani menggeleng.


"Aku yang meninggalkan pisau yang papi gunakan untuk mengakhiri hidupnya dan mami. Aku yang memakan buah sebelum makan malam karena sudah lapar tapi papi belum pulang. Dan aku yang lupa tidak membereskannya."


"Aku sering menyalahkan diriku sendiri atas kejadian itu." aku Raja. "Andai aku tidak makan buah malam itu. Atau andai aku membereskannya. Pasti papi tidak akan mendapatkan pikiran untuk membunuh mami dan membunuh dirinya sendiri. Dan semua itu salahku."


Rani menggeleng dan memeluknya erat. "Kak raja tidak salah. Rezeki, jodoh, maut, itu semua sudah ada yang mengatur. Semua sudah digariskan sama yang di atas. Jadi kak Raja jangan menyalahkan diri kak Raja sendiri."


Rani mengangkat wajah dan menatap matanya. "Dengan atau tidak adanya pisau yang kak Raja gunakan disana, kejadian itu akan tetap terjadi kak." tegas Rani. "Memangnya papi tidak bisa ke dapur dan mengambilnya sendiri? memangnya papi tidak bisa menggunakan cara lain selain menggunakan pisau?"


"Bisa saja papi menggunakan kedua tangannya untuk mencekik." Rani mengedikan bahu. "Semua bisa terjadi kak. Jadi please.. Jangan lagi menyalahkan diri kak Raja. Kak Raja tidak salah."


Raja mengehela napas dan membawa kembali tubuh istrinya dalam pelukan. Ia tenggelamkan wajahnya dipuncak kepala sang istri. Menghirup dalam-dalam aroma yang ia sukai dari sana."


*


*


*


Tolong tandain kalau ada yang mis sama bab-bab sebelumnya ya gaes.. Makasih 🤗❤❤