You're My Antidote

You're My Antidote
Luka Seorang Renata



Entah apa yang Rani rasakan saat ini. Setelah kejutan yang berkali-kali ia dapatkan. Seharusnya ia senang bisa mengetahui identitas orang tuanya. Mengetahui latar belakang yang ia sandang. Mengetahui alasannya berada di panti asuhan. Harusnya Rani bahagia bukan? karena apa yang ia inginkan sejak kecil akhirnya terwujud.


Tapi kenapa semenyakitkan ini? Setelah tahu ia terlahir dari hubungan yang di sembunyikan. Setelah tahu ibunya telah berpulang tanpa sempat ia melihat dan memeluknya. Setelah tahu alasanya berada di panti. Kini ia harus menerima informasi siapa identitas ayahnya yang ternyata tidak biasa.


Siapa yang tidak mengenal Rio Darmawan. Pebisnis sukses seantero negeri. Sosok ramah disetiap sorot kamera. Pria yang masih terlihat gagah di usianya.


Dan Rere? ia baru tahu jika Renata putri tunggal Rio Darmawan adalah Rere yang selama ini ia kenal. Karena memang, Rio tidak pernah memperkenalkan anaknya di layar kaca. Rio selalu beralasan jika pria itu ingin putrinya memiliki kehidupan yang normal. Dimana tidak banyak orang yang kenal dan bisa menjaga privasinya. Karena hidup sebagai orang tersohor tidaklah mudah. Bagi Rio.


Hidup Rani sudah jungkir balik sejak ia yang seorang anak yatim piatu sebuah panti di angkat sebagai menantu seorang Rasya Shandika. Kehidupan yang berubah drastis. Kehidupan yang berangsur indah untuk ia jalani.


Kini hidupnya semakin tak terduga setelah tahu Rio adalah ayahnya dan Rere yang pernah menjadi teman tidur suaminya ternyata saudari tirinya sendiri. Dimana dalam tubuh mereka mengalir darah yang sama. Darah dari klan Darmawan.


Jika Rani bisa memilih. Ia lebih memilih tidak tahu semua fakta itu. Ia ingin kehidupan normalnya dengan sang suami beberapa hari yang lalu tanpa bayang keluarga kandunganya.


Atau kalau bisa memilih, Rani lebih memilih terlahir dari kedua orang tua dengan status sosial biasa. Orang tak berpunya yang terpaksa meninggalkannya di panti. Seperti bayangannya selama ini. Rani lebih memilih itu semua dari pada kenyataan yang harus ia hadapi kini.


Dan Rani berharap, ketika tes DNA itu di lakukan nanti, semoga hasilnya negatif. Ia berharap bahwa ia bukanlah Raisa yang selama ini keluarga Adit cari. Bukan anak lain yang membuat hidup Rere tak mudah.


Bagaimana pun, jika benar ia bersaudara dengan Rere, ia akan merasa amat bersalah. Meskipun bukan ia yang menyakiti perempuan itu. Tapi mau tak mau memang ia alasan hidup Rere tidak mudah dan terabaikan keberadaannya oleh sang ayah.


Raja sudah menceritakan segalanya. Dari identitas ayah kandungnya, hingga bagaimana usaha pria itu mencarinya hingga mengabaikan putrinya yang lain. Alasan yang membuat Rere menjadi seperti saat ini. Karena Rere tumbuh tanpa kasih sayang orang tua terutama ayahnya yang tak pernah menganggapnya ada.


Raja memang tidak mengatakan apa yang terjadi dengan Rere adalah kesalahannya. Tapi Rani bisa membayangkan sendiri bagaimana posisi perempuan itu. Dan benci yang pernah ia rasakan untuk Rere kini berubah menjadi rasa bersalah.


Hidupnya memang tidak mudah menjadi anak panti. Tapi ternyata Rere juga tidak hidup dengan mudah meski wanita itu hidup disisi orang tuanya. Jadi tidak ada yang membuat Rani iri dengan hidup Rere yang bisa hidup dengan ayah mereka.


Dengan kondisi yang berbeda, mereka sama-sama menjalani hari yang tak mudah di tempat yang berbeda.


"Rani mau ketemu Rere, mas." ujarnya setelah menyusut habis air mata dari wajahnya. Menjauhkan tubuh Raja yang memeluknya hangat.


"Kamu yakin? kamu tahu seperti apa Rere kan?"


Rani mengangguk. Ia jelas tahu bagaimana angkuh dan keras kepalanya Rere. Tapi bagaimana pun, ia juga ingin memeluk saudarinya. Bolehkah ia menyebut Rere saudari? kakak yang tak pernah ia tahu keberadaannya.


Setelah sekali lagi mencoba menyakinkannya, Raja langsung membawanya ke rumah sakit tempat Rere di rawat.


Sesampainya mereka di rumah sakit, langkahnya tak seyakin sebelumnya. Langkahnya mulai ragu mendekati ruang VIP tempat Rere berada.


"Kenapa sayang?" tanya Raja lembut. Prianya itu tak melepaskan genggaman tangan mereka sedetikpun sejak mereka dari rumah.


"Ada Adit di dalam. Ada aku dan ada Musa yang akan menjagamu, kalau kamu takut."


Sejak kecil Rere harus merelakan ayah mereka yang lebih menyayanginya yang entah dimana. Bahkan ketika Rere menyukai Raja-pun, Rere tetap harus mengalah karena Raja lebih memilih dan mencintainya. Jadi Rani bisa maklum sebesar apa pun rasa benci Rere padanya nanti. Tapi rasa sakit yang Rani lihat, akankah ia bisa menanggung rasa bersalah itu?


Rani mengangguk, ia sudah siap menerima segala kemarahan Rere nanti. Ia akan menebus kesalahan yang tak pernah ia perbuat itu. Ia akan menebus rasa sakit yang selama ini Rere rasakan.


Musa membukakan pintu untuk mereka. Di dalam Rere sudah rapi dan siap pulang. Wajahnya tidak lagi sesayu saat terakhir kali Rani berkunjung. Tidak lagi terlihat frustasi seperti saat itu. Mungkin kondisi anak Rere sudah lebih stabil hingga Rere sudah lebih bisa menerima keadaan.


"Jadi lo yang namanya Raisa?" mereka langsung disambut tanya sinis dari Rere yang duduk di brangkar dengan tangan terlipat di dada. Rere juga sudah kembali menatapnya tajam seperti dulu.


"Aku masih Rani." sahut Rani dengan suara bergetar. Jika memperjuangkan Raja, mungkin Rani bisa sombong dan menantang Rere. Tapi untuk masalah satu ini, ia tidak memiliki pembelaan untuk statusnya sendiri.


"Lo tau seberapa bencinya gue sama nyokap lo?!" suara Rere mulai meninggi. "Lo tau seberapa gue benci sama lo yang bahkan gue nggak tau siapa orangnya?!"


Rani menunduk. Mengeratkan genggaman tangannya dengan Raja.


"GUE BENCI KALIAN!!" teriak Rere. Tapi tak seincipun wanita itu bergeser dari tempat duduknya. Tak seperti yang Rani bayangkan jika Rere akan langsung menampar dan menyerangnya dengan penuh kebencian. Wanita itu malah hanya memaki dengan segala bentuk caci maki yang ada. Meluapkan amarah dan rasa sakitnya melalui kata-kata.


Rani tak lagi berani menatap wajah Rere setelah kalimat pertama Rere ucapkan. Rani tidak berani menanggung resiko untuk merasa bersalah di sisa hidupnya nanti.


"Bokap udah kayak orang gila tiap hari nyariin lo! pergi pagi untuk kerja dan pulang tengah malam hanya buat nyari elo yang entah dimana! entah hidup atau mati!"


Raja berganti merangkulnya ketika tubuhnya mulai bergetar menahan tangis.


"Bokap cuma peduli sama lo! cuma lo yang tiap malam pria brengsek itu tangisin!!" suara Rere masih meninggi. Menjerit yang terasa menyayat untuk Rani. "Tanpa peduli kalau dia juga punya gue..."


Rani ikut tergugu dalam tangis saat kalimat itu terucap dengan lirih. Seakan penuh dengan kesakitan yang tak mampu di tampung kata.


"Gue juga anaknya kan?"___"Gue juga putrinya.... tapi kenapa bokap nggak pernah ngelihat gue?" tangis Rere sangat menyakitkan untuk Rani. Hanya ini yang ia takutkan. Ia takut melihat sedalam apa luka hati Rere. "Kenapa gue nggak pernah dapat sedikiiiiit aja... kasih sayang bokap buat lo? KENAPA?!"


Rani mendongak ketika Rere mulai histeris dan di peluk Malvin.


"Apa karena papi nggak cinta sama mami? apa papi nggak ngerasa sayang sama darah dagingnya sendiri?"


Rani sudah tidak mampu lagi mendengar semua itu. Rani langsung memeluk suaminya. Menutup telinganya dari segala kesakitan yang Rere ucapkan.


*


*


*