You're My Antidote

You're My Antidote
Usaha



Raja dan Rani kembali disibukan dengan pekerjaan di kantor yang kadang kala membuat mereka harus pulang larut lantaran lembur karena pekerjaan yang tak ada habisnya.


Serentetan masalah di bulan-bulan awal pernikahan mereka yang cukup menyita waktu dan perhatian pun sedikit demi sedikit mulai berkurang. Mengesampingkan Raja yang masih belum bisa membuka luka lamanya. Karena Rani yakin, Raja akan membuka diri saat sudah siap nanti. Mungkin masih terlalu berat untuk suaminya bagi.


Dibalik itu semua, sikap Raja pada Rani semakin terlihat manis setiap harinya. Kehidupan rumah tangga mereka juga mulai teratur. Tertata dengan baik. Mulai paham dengan kebiasaan dan tugas masing-masing sebagai pasangan.


Hal yang masih menjadi PR untuk Rani adalah cara menghadapi Raja. Mereka semakin intens diatas ranjang. Mereka bekerja sangat keras untuk menghadirkan buah hati dalam rumah tangga mereka. Terkadang Rani merasa kasihan saat melihat wajah tertekan Raja saat ia kedatangan tamu bulanan. Raja selalu meminta maaf dan menyalahkan diri sendiri atas buah hati yang tak kunjung hadir di antara mereka. Padahal itu bukan kuasa mereka. Baik ia maupun Raja tidak bisa memaksakan kehendak untuk Tuhan segera menghadirkan buah hati dalam rahimnya.


"It's okay kak.. Kita masih punya banyak waktu. Kita masih muda." Rani berusaha menyakinkan Raja untuk tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut. Toh tidak ada yang mendesak mereka. Banyak juga orang di luar sana yang baru memiliki anak diatas tiga puluh tahun. Orang-orang yang sibuk mengejar karir. Anggap saja mereka termasuk satu di antaranya. Didampingi dengan usaha yang tiada putusnya itu.


"Tapi kalau pada akhirnya aku tetap tidak bisa membuahi kamu bagaimana?" Raja bertanya dengan raut wajah putus asa. Duduk diatas tempat tidur dengan kaki menggantung dan wajah khas baru bangun tidur ketika Rani menolak ajakan olah raga pagi lantaran tamu bulanannya yang datang subuh tadi. Raja terlihat amat khawatir. Takut tidak bisa memberikan keluarga idaman seperti yang mereka rencanakan.


"Kita belum tahu kak. Gimana kalau nanti saat kerjaan mulai senggang, kita bikin agenda buat kak Raja kontrol ke tempat kak Raja operasi waktu itu?"


Pernikahan mereka memang sudah berjalan beberapa bulan dan belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Jika biasanya pihak perempuanlah yang akan khawatir dan tidak percaya diri, di kasus ini justru Raja yang terlihat sangat stres dan tertekan. Akibat dari kenekatan suaminya melakukan operasi pemutusan tanpa memikirkan kemungkinan lain kedepannya.


"Oke." Raja setuju dengan usul yang ia ajukan. "Kamu atur saja jadwalku. Sekalian kita ganti bulan madu yang waktu itu gagal."


Mata Rani seketika berbinar. Mungkin mereka memang butuh liburan. Tubuh yang lelah karena pekerjaan yang tak jarang membuat Raja emosi saat beberapa tak berjalan sesuai keinginannya. Juga psikis yang tengah tak baik-baik saja karena harapan yang selalu pupus setiap bulannya.


Mungkin dengan berlibur mereka bisa mengistirahatkan tubuh dan pikiran hingga emosi mereka bisa lebih stabil. Pikiran mereka juga bisa lebih positif dan lebih tenang.


***


Dua minggu setelah Raja menyetujui untuk kontrol, mereka terbang ke Singapura. Malam sebelum keberangkatan, Rani sangat antusias untuk menyiapkan apa yang akan ia dan Raja bawa. Bahkan seperti anak kecil yang begitu girang untuk pergi berlibur, Rani tidak bisa memejamkan matanya hingga subuh menjelang. Akibatnya baru beberapa menit pesawat yang mereka tumpangi lepas landas, Rani sudah memasuki alam mimpi.


Mereka tidak akan berbulan madu di Singapura. Rani hanya menemani suaminya untuk kembali kontrol tentang keberhasilan operasi pembukaan vasektomi yang saat itu Raja lakukan.


Sebenarnya bisa saja mereka melakukan pemeriksaan lanjutan di Jakarta. Tapi Raja merasa lebih nyaman dengan dokter kenalannya itu. Dokter yang Rani baru ketahui adalah teman satu kampus dengan Rere. Dan Bahkan Raja dikenalkan juga oleh wanita itu.


Alasan lain yang membuat Raja enggan untuk melakukannya di Jakarta adalah sekecil apa pun berita tentang suaminya itu, akan langsung sampai di telinga Ibu Lintang dan Pak Rasya. Untuk itu Raja menolak tegas. Kecuali untuk pemeriksaan umum biasa. Asal kabar tentang operasi itu tidak sampai di telinga keluarga Shandika atau Raja akan dimarahi habis-habisan dan membuat ibu Lintang khawatir juga. Usia yang sudah lanjut membuat wanita itu mudah sakit jika banyak pikiran.


"Boleh deh kak. Kebetulan Rani juga sudah lapar." ucapnya merenges. Menyadari perutku yang sudah keroncongan.


"Mau di hotel atau mau cari restoran diuar dulu?"


Rani menggeleng. "Hotel aja kak. Makan di kamar saja biar Rani bisa lanjut tidur." keluhnya yang merasa masih mengantuk. Dan malas untuk keluar mencari makan. Apa lagi jadwal pemeriksaan Raja besok pagi. Sekaligus pemeriksaan dirinya untuk program kehamilan.


Raja terlihat melamun di sisa perjalanan mereka menuju hotel. Memandang keluar jendela dengan tatapan mata kosong.


"Kak Raja kenapa?" tanyanya beringsut mendekat. Memeluk lengan sang suami dan bersandar di bahunya. Mereka duduk di kursi belakang mobil jemputan dari hotel dimana mereka menginap.


Terdengar helaan napas panjang sebelum Raja berucap jujur dengan yang apa yang suaminya itu pikirkan. "Aku takut kamu memilih pergi suatu hari nanti, saat kita mengetahui hasilnya tidak sesuai apa yang kita harapkan."


Rani berdecak sebal. "Harus berapa kali Rani bilang. Kak Raja tuh jangan pesimis gitu dong! apa yang kak Raja ucapkan itu doa yang kak Raja panjatkan!"


"Kamu yang bertanya, kenapa kamu yang marah." Raja mencubit pipi kiri Rani dan terkekeh. Meski tawa itu tidak menyentuh matanya yang masih terlihat khawatir.


"Makanya kak Raja jangan murung terus! kak Raja tuh sudah cukup jelek dengan jarang tersenyum. Jangan di tambah jelek dengan wajah sendu itu."


Mata Raja melotot mendengarnya. Membuat Rani tak kuasa untuk tidak tertawa melihat ekspresi itu.


"Kamu sudah berani mengatai suamimu ini jelek, ya!"


Raja tak membiarkannya dan memeluknya erat sebelum menggelitik pinggangnya yang sudah tidak bisa kabur kemana pun lagi.


"AMPUN KAK RAJA!" teriaknya di tengah tawa yang tak tertahankan.


Sopir yang membawa mereka sesekali melirik mereka melalui kaca spion dalam. Mungkin menganggap ia dan Raja pasangan aneh atau apalah. Rani tak peduli. Asal tidak lagi melihat wajah Raja yang murung.


Biasanya wajah itu hanya Rani lihat di minggu ketika ia kedatangan tamu bulanan. Tapi akan semangat lagi saat tamu itu pergi. Semangat untuk memperjuangkan hasil yang mereka harapkan. Tapi kali ini bahkan tamu bulanannya sudah berlalu dua minggu. Tapi wajah Raja masih saja terlihat sedih setiap hari.