
Pukul lima sore-ketika Rani tengah menikmati cemilan sorenya bersama Maina yang sibuk scroll media sosial-derum motor sport terdengar memasuki gerbang rumah. Rani yang hafal suara motor suaminya pun langsung beranjak.
"Duh hafal banget sih suara motor suami." ledek Maina yang hanya Rani balas kekehan tanpa mengurangi kecepatan langkahnya menuju ruang tamu.
Jarang berpisah dengan sang suami, membuat Rani merasakan antusias di setiap langkahnya. Bertepatan dengan langkahnya memasuki ruang tamu, pintu rumah terbuka beriringan dengan salam yang Raja ucapkan.
"Waalaikumsalam." sahut Rani membalas senyun sang suami yang mengembang.
Raja memberinya kode untuk menunggu di tempat. Sebagai gantinya Raja melangkah dengan lebar dan cepat. Merengkuhnya dengan hangat.
"Wangi sekali." puji Raja.
Menjauhkan wajah, Rani bertanya. "Mas suka sama wanginya?" menatap Raja yang langsung mengangguk. "Tadi pergi ke spa. Maina bosan di rumah. Ternyata memang Rani butuh sesekali pergi spa deh mas. Rasanya badan Rani enak banget pulang dari spa."
"Maaf ya? jarang ajak kamu ke tempat seperti itu."
Rani menggelengkan kepala. "Mas kan laki-laki. Mana paham hal seperti itu. Memang sesekali Rani harus main dengan Maina, Maira atau Bintang. Kumpul sesama perempuan ternyata perlu."
Raja mengangguk dan merangkulnya setelah mengajak Adit yang ternyata sejak tadi berdiri di belakang Raja dan kehadirannya tidak Rani ketahui kapan sahabat suaminya itu masuk. Entah saat Raja memeluknya atau memang sejak awal masuk bersama Raja.
"Nanti aku minta mereka sering main ke sini menemanimu."
"Mau minum apa, kak? teh, kopi?" tawar Rani pada Adit begitu mereka sampai di ruang keluarga dimana Maina yang masih fokus pada benda pipih di tangannya.
"Kopi hitam aja. Tanpa diaduk. Tanpa gula. Soalnya gue udah manis." jawab Adit yang langsung menghempaskan tubuhnya tepat di samping Maina yang langsung mencibir ucapan pria itu.
"Yang begini manis? yang ada sepa!"
Tak tersinggung, Adit justru tergelak dan semakin menggoda Maina dengan mencubit pipi sepupu Raja itu.
"Iish! ngapain sih kak Raja bawa orang model begini!"
Beberapa kali melihat Maina dan Adit berinteraksi di beberapa pertemuan, Rani memang sudah melihat jika mereka terlihat akrab. Mungkin pertemanan Raja dan Adit juga membawa hubungan baik pada kedua keluarga itu.
Rani menggeleng dan meninggalkan mereka yang masih berdebat. Tak menyadari Raja membuntutinya ke dapur hingga tangan hangat pria itu melingkar di perutnya dari belakang.
"Lho. Mas kok disini?"
"Kangen." gumam Raja yang menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rani yang tentunya tertutup hijab.
Rani hanya mengusap rambut Raja dan membiarkan saja posisi mereka. Tangannya tetap sibuk meracik minuman untuk sang suami dan tamu yang di bawa.
"Camomile mas?" tawar Rani. Biasanya Raja jika tengah lelah atau usai terapi memang memilih teh camomile di banding minuman lainnya.
"Kamu paling tahu sayang."
Menemani Rani mendidihkan air, Raja menceritakan perkembangan terapi yang di jalani suaminya itu hari ini. Yang katanya lebih baik dari pada pertemuan sebelumnya. Artinya ada lagi perkembangan yang di dapat suaminya itu. Dan Rani lega mendengarnya.
Rani tahu, menyembuhkan sebuah trauma tidaklah mudah dan memerlukan banyak waktu. Begitu juga dengan Raja yang beberapa kali sempat pingsan atau meringkuk ketakutan ketika sang terapis mencoba menempatkan Raja pada ruang gelap nan sunyi untuk tahu seberapa parah trauma Raja. Atau ketika Raja dibawa berkunjung ke rumah sakit dan melihat pasien kecelakaan.
Masa-masa sulit itu sudah mampu Raja lewati meski belum sepenuhnya menghilangkan trauma. Tapi setidaknya selama enam bulan terakhir, sudah banyak perkembangan yang berhasil Raja peroleh. Dan semoga semakin ada kemajuan di setiap sesi pertemuan dengan terapis.
***
"Om dan tante sedang tidak ada di rumah. Maira juga sedang makan malam dengan calon mertuanya. Dari pada kamu makan malam sendiri di rumah. Mending kamu ikut kami."
Kedatangan Adit sore tadi untuk menyampaikan undangan bundanya yang kembali mengundang mereka makan malam sebagai pengganti makan malam yang sempat batal.
Bahkan pernikahan Raja dan Rani sudah satu tahun berlalu. Tapi Bunda Adit orang yang berpegang pada janji dan pantang mengingkarinya. Jadilah kini Raja, Rani sekaligus Maina-yang dengan terpaksa ikut-tengah dalam perjalanan menuju kediaman Adit. Sedangkan pria yang mengundang mereka sudah lebih dulu pulang.
"Sial! mentang-mentang jomlo." maki Maina yang memang belum lama hubungannya berakhir tepat satu minggu sebelum hari pertunangan. Bisa di bilang Maina masih dalam masa penyembuhan.
"Sekali lagi kamu berbicara kasar. Aku adukan pada mamimu!"
Maina menoleh ke belakang dengan mata melotot. "Kalau kak Raja berani ngadu. Aku nggak bakal datang lagi kalau kakak minta tolong." ancam Maina balik.
Raja berdecak tak acuh dan memilih memeluk pinggang Rani dan melabuhkan kecupan pada ujung kepala. Maina berdecak lebih keras melihat kakak sepupunya yang pamer kemesraan di depan orang yang baru patah hati.
Adit-yang menggendong Citra-dan kedua orang tuanya sudah menyambut kedatangan mereka. Citra dalam gendongan Adit bergerak-gerak tak sabar begitu melihat Rani turun dari mobil.
"Kakak cantik!" seru Citra semakin rombongan Rani mendekat.
"Anaknya kak Adit, kak?" bisik Maina pada Raja.
"Adiknya." balas Raja berbisik.
Maina membulatkan mata dan menutup mulutnya yang menganga sebelum kembali mengkondisikan ekspresi terkejutnya lantaran mengira Citra adik kandung dari Adit.
Mereka bergantian menyapa dan bersalaman dengan kedua orang tua Adit. Sedangkan Citra sudah menempel dan menggandeng tangan Rani untuk masuk yang di ikuti yang lain. Mereka tertawa melihat betapa antusiasnya Citra dengan kedatangan Rani.
"Akhirnya jadi juga kita makan malam bersama " desah bunda Adit begitu mereka sampai di meja makan. Karena waktu makan malam memang sudah tiba, jadi mereka langsung makan malam. Masalah mengobrol bisa di lanjut setelahnya.
"Maaf, kami baru sempat berkunjung." sahut Raja.
"Kami tahu kamu orang sibuk, Nak." bunda Adit menatap teduh pada Raja.
Ayah Adit dan Raja membicarakan bisnis. Adit masih saja iseng menggoda Maina yang hanya mampu diam dengan keki karena tak berani membalas di wilayah kekuasaan Adit.
Sedangkan bunda Adit seperti ibu-ibu pada umumnya, menanyakan bagaimana rasanya menjadi ibu hamil, ngidam apa, bagaimana perkembangan dan kapan perkiraan lahir.
"Wah sudah dekat dong."
"Iya, bun. Kalau sesuai prediksi, mungkin lahir akhir bulan depan."
"Sehat-sehat ya Rani. Jangan takut. Melahirkan tidak ada yang mudah. Bagaimana pun prosesnya. Yang membuat kita merasa mudah atau tidaknya hanya kesiapan mental kita. Jadi kamu harus siap. Bayangin semua untuk anak dalam kandungan kamu. Maka semua tidak terlihat mengerikan lagi."
Rani banyak mendengar nasihat dari bunda Adit. Tak jauh berbeda dengan nasihat yang Rani dapat dari Ibu Lintang atau keluarga Raja yang lain. Meskipun ia tak memiliki ibu kandung, setidaknya banyak orang yang menyayanginya dan menggantikan apa yang seharusnya wanita itu lakukan untuknya.
*
*
*