You're My Antidote

You're My Antidote
Gunjingan



Rani sudah mempersiapkan diri sejak hari dimana ia mendengar keluarga Raja ingin Raja dan dirinya menikah. Mempersiapkan diri dari segala omongan tentang dirinya yang tidak mungkin bisa dihindari.


Kondisi ekonominya yang terbilang miskin dengan statusnya yang hanya anak panti dan tidak jelas asal-asulnya jelas menjadi bahan pergunjingan terbaik di perusahaan.


Tapi nyatanya meski sudah mempersiapkan diri, mendengar mereka bergosip secara langsung bahkan dihari pernikahannya, tetap terasa menyakitkan.


Bukannya Rani tidak tahu jika dirinya menjadi bahan gosip ketika berita pernikahannya dengan Raja tersebar setelah lamaran. Rani tahu. Tapi ia hanya diam dan menahan rasa sakit itu sendiri. Ia anggap semuanya sebagai harga yang harus ia bayar untuk kenyamanan tempat tinggal ibu dan adik-adik panti.


Setelah ia mulai tidak masuk kantor, Lura juga mengabarinya jika Raja memberi petisi untuk semua karyawan agar tidak lagi menggosipkan dirinya jika masih ingin bekerja di sana.


Dan Rani juga baru tahu, saat ia melihat Raja tengah memarahi beberapa karyawati didepan lift, Raja tengah membela dirinya. Membelanya yang dipandang rendah oleh mereka.


Pantas saja Raja memintanya cuti lebih cepat dari jadwal yang sudah ia ajukan.


Rani cukup tersentuh dengan hal itu. Ia tidak menyangka Raja akan membelanya. Melindunginya dari rasa sakit mendengar hal-hal yang tidak enak untuk didengar.


Sejak awal ia tidak pernah mengharapkan akan mendapat pembelaan dari seorang Raja. Karena ia yakin Raja akan tetap acuh pada apa pun yang terjadi dengan dirinya.


Meski entah untuk alasan apa, tapi Raja benar-benar membelanya. Membawa desiran aneh menelusup hati. Ada rasa senang dan terimakasih. Ia tak peduli walau alasan Raja hanya sebatas menjaga kehormatan dan harga dirinya sebagai calon suami saat itu agar dianggap suami yang baik dan benar-benar mencintainya. Selama pembelaan Raja nyata adanya, itu sudah lebih dari cukup untuknya.


Seperti saat ini. Mereka tengah turun untuk menyapa klient perusahaan setelah beberapa saat yang lalu mereka dipajang untuk menerima ucapan terimakasih dari para tamu yang hadir.


Dibelakang mereka ada beberapa karyawan yang masih membicarakan ketidak cocokan antara dirinya dan Raja. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan tak sepenuhnya salah. Karena ia sendiri juga merasa tak pantas untuk bersanding dengan Raja dan keluarganya.


"Modal cantik dan jual tubuh paling."


"Bener. Aku sih lebih percaya kalau Rani pakai pelet."


"Pasti. Mana mungkin keluarga konglomerat modelan Shandika mau punya mantu anak panti yang nggak jelas asal usulnya."


"Lebih buruknya lagi, jangan-jangan dia anak haram yang dibuang orang tuanya."


Rani mengepalkan tangannya menahan sakit ketika mendengar bisik-bisik dibelakang punggungnya yang masih bisa ia dengar.


Ia menoleh kesamping dan mendongak begitu merasakan tangan Raja yang memeluk pinggangnya mengencang. Raja memberi penekanan pada telapak tangan yang ada dipinggang rampingnya.


Raja balas menatapnya dengan sorot mata yang terlihat ketidaksukaan. Pria itu mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat ditelinganya yang membuat bulu kuduknya meremang. "Banggalah dengan siapa dirimu, dan jangan malu dengan cara orang lain melihatmu."


Rani mengerutkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataan Raja. Apakah Raja mendengar juga apa yang wanita-wanita dibelakang mereka bicarakan? bukankah Raja terlihat serius membicarakan proyek terbaru dengan klien didepan mereka?


"Mereka hanya iri. Mereka ingin bertukar posisi denganmu." Raja kembali berbisik meski posisi pria itu sudah kembali fokus pada dua orang didepan mereka. "Jika kamu tidak pantas untuk saya, keluarga saya tidak mungkin memilihmu. Begitu juga dengan saya yang tidak akan diam saja menerima pernikahan ini."


Rona merah menjalar diwajah Rani. Bisakah ia mengartikan jika Raja menganggapnya pantas untuk bersanding dengan pria itu?


Rani benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dengan Raja. Bahkan ucapan salam dari pria itu setelah selesai akad tadi masih membuatnya tersipu malu.


"Sekarang angkat dagumu. Jangan biarkan orang lain menginjak-injak harga dirimu. Karena saya tidak akan membiarkan siapa pun yang menyinggung harga diri saya sebagai pendamping kamu."


Rani berkedip lambat beberapa kali. Masih tidak percaya jika Raja membelanya. Telinganya juga serasa dianugerahi mukjizat karena bisa mendengar Raja berbicara panjang selain masalah pekerjaan.


Jika mereka hanya berdua atau bukan ditempat resmi seperti ini, Rani pasti sudah berteriak seperti saat mereka kecil dulu. Ia akan berteriak-- "IBU.. KAK RAJA BISA NGOMONG PANJANG.." -- sayang sekali ia tak bisa melakukannya disini.


"Wahh nyonya baru sepertinya begitu terpesona dengan sobat kita."


Rani segera mebolehkan wajahnya kembali kedepan dengan kaget ketika mendengar suara yang berbeda. Ia bahkan tidak sadar jika orang dihadapan mereka sudah berganti. Ia terlalu terpana dengan perkataan Raja selama beberapa saat hingga tidak sadar orang yang bersama mereka sebelumnya telah pamit.


Rani kembali tersipu ditatap menggoda oleh teman-teman Raja yang semakin tertawa melihatnya salah tingkah. Kecuali Rere dan Adit yang hanya diam menatapnya dengan sorot dalam.


Rani tersemum tipis dan mengangguk untuk menyapa Adit. Dibalas hal serupa meski senyum Adit jelas terlihat dipaksakan. Terasa aneh karena beberapa hari yang lalu ketika mereka mengajak Citra jalan-jalan, hubungan mereka masih baik-baik saja. Mereka bahkan bisa tertawa lepas bersama.


Rere sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Karena sejak awal wanita itu sudah tidak menyukainya. Rani bahkan merasa tidak perlu repot-repot menyapa atau berbasa-basi dengan wanita itu.


"Nanti malam jangan lupa, bro!" ujar salah satu teman Raja yang ia tahu sering dipanggil Tian.


Hampir semua teman Raja ia ketahui namanya. Karena teman dekat Raja selalu itu-itu saja sejak menengah atas hingga dibangku perkuliahan. Tak banyak berubah dan hanya berkurang juga bertambah beberapa orang.


"Iya. Pokoknya jangan sampai nggak datang. Semalam pesta bujang aja lo nggak datang. Padahal tuh pesta kita siapin buat elo!" timpal teman Raja yang lain bernama Dani.


Karena tak tahu apa yang mereka bicarakan, Rani hanya diam saja mendengarkan. Tapi sepertinya teman-teman Raja menyiapkan pesta sendiri nanti malam.


"Nyonya juga harus ikut biar asik." sahut teman Raja yang lain yang bernama Jimmy. "Biar bisa akrab juga sama kita-kita."


Raja menoleh padanya. Ia kira Raja meminta pendapatnya. "Aku terserah kak Raja aja."


"Lihat nanti saja." jawab Raja dan menariknya pergi kearah keluarga yang memanggil mereka.


Apakah Raja tidak berniat membawanya kepesta itu?


Atau Raja tidak membiarkannya mengenal lebih dekat teman-teman pria itu?


Entahlah..


Raja masih sulit ditebak. Kadang membuatnya tersentuh. Kadang pula masih terasa dingin.


*


*


*