You're My Antidote

You're My Antidote
Cemburu



Dihari keenam masa cuti, Raja dan Rani sudah kembali kekantor. Ketidak mungkinan untuk bulan madu disisa waktu yang tersisa membuat mereka menyerah dan memilih kembali bekerja. Lagi pula mereka tidak dapat menambah masa cuti karena jadwal Raja yang padat.


Rani sudah mempersiapkan diri dari gunjingan orang-orang diperusahaan. Ia anggap sebagai konsekuensi dari apa yang ia dapat. Raja juga sudah meyakinkannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Lura juga mengatakan hal yang sama begitu ia menghubungi seniornya itu ketika malam hari. Lura bilang jika sudah tidak ada lagi yang membicarakan dirinya.


Bukan Rani takut. Ia sudah terbiasa mengabaikan omongan negatif tentang dirinya. Ia hanya merasa perlu mempersiapkan apa yang harus ia lakukan jika masih mendengar gosip beredar tentang dirinya.


"Pakaian kamu?" Rani menatap turun pakaian yang ia kenakan begitu keluar dari ruang ganti. Raja menatapnya dengan senyum tipis.


"Karena sudah dibeli. Jadi sayang kalau tidak dipakai." ucap Rani malu. Ia mengenakan pakaian yang Raja siapkan ketika mereka baru menempati rumah. Perasaan yang Raja ungkapkan padanya cukup untuk membuatnya percaya diri memakai apa yang diberika Raja padanya.


"Baguslah. Kamu tahu apa yang terbaik." hanya itu tanggapan Raja dan mereka turun untuk sarapan sebelum berangkat.


"Mama tadi telepon. Meminta kita untuk mampir ke rumah setelah pulang kerja." Rani menceritakan ibu mertuanya yang menghubunginya ketika Raja tengah mandi tadi. "Sepertinya beliau marah karena kita langsung pindah. Memangnya kak Raja tidak bilang?"


"Aku lupa." jawab Raja menyuap nasi kedalam mulutnya. "Tadinya kan kita langsung honeymoon dan menempati rumah ini setelahnya. Jadi tidak terpikir untuk pamit pada mama. Terlebih aku harus menyelesaikan masalah yang kemarin."


Rani mengangguk mengerti. Situasi yang terjadi tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. "Kalau begitu nanti kita mampir kesana dulu ya, kak? Rani merasa tidak enak kalau begini. Rani bahkan melupakan mereka?" lirihnya diakhir. Menunduk malu. Bukannya sengaja melupakan keberadaan orang tua Raja. Ia hanya belum terbiasa memiliki keluarga.


"Tidak perlu khawatir." usapan lembut dikepala ia terima dari sang suami. Aah setiap menyebut Raja sebagai suami hatinya berdebar. "Mama tidak mungkin marah dengan kita. Mama hanya tidak terbiasa tidak melihatku pulang."


Rani kembali mengangguk paham. Ibu Lintang memang sangat menyayangi Raja. Beliau bahkan lebih khawatir jika Raja tidak pulang di banding anak-anaknya yang lain.


"Bukannya kak Raja punya apartemen?" tanyanya ketika mengingat hunian Raja yang lain. Hunian pribadi milik Raja.


Raja bergumam membenarkan. "Tapi tak sekalipun aku tidak pulang kerumah. Selarut dan sepagi apa pun, aku akan selalu pulang agar mama tidak khawatir. Setidaknya mama bisa melihatku dipagi hari."


Rani mengerutkan alisnya tak mengerti. Jika Raja tidak pernah tidur di luar, untuk apa pria itu memiliki apartemen?


"Aku hanya menggunakan apartemen jika membutuhkan waktu sendiri. Termasuk memasak disana. Dan tentu kamu tahu kebiasaanku dengan wanita.." imbuh Raja seolah tahu apa yang Rani pikirkan.


Bibir Rani berkedut masam. Hatinya pun berdenyut sakit. Tapi mau bagaimana lagi, masa lalu tak bisa ia perbaiki. Dan masa lalu Raja tidak pernah menjadi miliknya.


"Memangnya kak Raja tidak pernah tidur yang sesungguhnya dengan wanita-wanita yang menghangatkan ranjang kak Raja?" tanya berusaha terlihat biasa saja meski ada rasa tak nyaman dalam hatinya.


***


Raja menyadari Rani yang tak nyaman dengan masa lalunya yang hitam. Tapi gadis itu harus bisa menerimanya jika ingin terus berada disisinya. Karena ia tak memiliki kuasa untuk merubah masa lalu. Dengan Rani yang bisa menerima masa lalunya, itu berarti Rani bisa seutuhnya menerima Raja. Baik dan buruk dirinya.


"Aku memang tidak pernah tidur dengan siapa pun kecuali kamu." aku Raja jujur. Ia memang tidak pernah tidur dengan para wanita yang menghangatkan ranjangnya. Termasuk Rere. Karena memang tidak ada keterlibatan hati ketika ia memenuhi kebutuhan biologisnya itu.


Semua hanya msalah kebutuhan. Dan jika kebutuhannya sudah terpenuhi, maka ia akan pergi meninggalkan para wanita itu. Entah itu dihotel, diapartemen miliknya, atau diapartemen milik partner ranjangnya.


Raja bahkan tak pernah menyentuh wanita-wanita itu dengan tangan dan bibirnya. Ia hanya menyentuh mereka disatu tujuan. Para wanita itu juga tak pernah protes ketika ia langsung pada inti. Meski ia tak menolak ketika mereka menyentuh dan menciumnya. Hanya sebatas tak ingin dianggap terlalu brengsek dan hanya memanfaatkan mereka.


Dan alasan lain Raja tidak ingin tidur dengan orang lain adalah mimpi buruknya. Ia tidak ingin orang lain melihatnya dalam keadaan lemah seperti itu.


"Kalau begitu Rani harus bangga atau justru sedih?"


Raja mengangkat sebelah alisnya tak mengerti. Untuk apa Rani sedih. "Seharusnya kamu senang menjadi satu-satunya wanita yang tidur denganku. Kenapa harus sedih?"


Gadis itu menunduk dan mengaduk-aduk nasi goreng dalam piringnya. "Mereka mungkin tidak tidur dengan kak Raja. Tapi kak Raja menginginkan tubuh mereka." ucap gadis itu sendu. Dan Raja tidak menyukai ekspresi Rani yang seperti itu. "Sedangkan Rani hanya bisa tidur dengan kak Raja tanpa kak Raja menginginkan tubuh Rani."


Raja mendesahkan napasnya. "Kamu terlalu banyak berpikir." ucapnya. Belum saatnya Rani tahu alasannya tak menyentuh gadis itu. Ia bahkan sangat berusaha keras untuk tak melakukannya.


Untuk seorang pria dengan usia matang seperti dirinya. Juga dengan pengalaman seksual yang terbilang banyak meski ia bukan seorang hiper. Membiarkan seorang wanita tidur dengannya tanpa bisa ia sentuh adalah penyiksaan.


"Nanti kamu kerumah mama dulu. Biar sopir mengantarmu." ucapnya mengalihkan pembicaraan yang hanya akan membuat hubungan mereka merenggang.


"Memangnya kak Raja mau kemana?" tanya gadis itu mengangkat wajahnya.


"Aku ada janji dengan seseorang. Nanti setelah selesai, aku akan langsung menyusulmu kesana." Raja tak berbohong dengan janji bertemu seseorang. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan dengan siapa ia bertemu pada istrinya itu.


"Bertemu siapa? kak Rere?"


Raja tersenyum kecil ketika Rani bertanya dengan nada yang terdengar kesal. "Jadi kamu sudah berani cemburu?"


"Si-siapa yang cemburu?" semakin Rani salah tingkah, semakin terlihat lucu dimatanya.


"Baiklah kalau kamu tidak cemburu. Ayo kita berangkat. Bukan berarti sekarang kamu sudah menjadi istri direktur membuat kamu jadi seenaknya berangkat siang."


"Siapa yang seenaknya?! kan kak Raja yang mandinya lama!"


Raja menggeleng. Mengabaikan Rani yang sudah berani memarahinya. Memilih memakai jas dan meninggalkan Rani yang masih menggerutu dengan membawa tas kerja miliknya.


Gadis ini? desah Raja dalam hati. Entah harus dengan cara apa Raja membahagiakan Rani yang sudah banyak menderita. Meski hidupnya pun tak lebih baik dari Rani.


*


*


*


Maaf telat banget.. Lagi mikir buat bayar hutang ekstra part Senja.. Semoga sabar menunggu. Love banyak banyak pokoknya untuk kalian. Tetap diusahakan up tiap hari meski pembacanya masih sedikit.hihihi