You're My Antidote

You're My Antidote
Tertawa



Malu. Rani sangat malu.


Ia tidak percaya orang yang tadi menjerit dengan suara seksi adalah dirinya. Ya Tuhan.. Raja tidak akan berpikir ia gadis yang liar bukan?


Tidak. Ia bukan seorang gadis lagi sekarang. Ia sudah menjadi wanita karena ia sudah menyerahkan kegadisannya pada sang suami. Pipinya memanas hanya dengan memikirkannya saja.


"Kak?" panggilnya pada pria yang sebelah tangannya ia gunakan sebagai bantal. Sebelah lagi tengah mengapit benda bernikotin yang mengepulkan asap. Tubuh mereka hanya berbalut selimut menutupi tubuh polos berpeluh.


"Hmm?" Raja bergumam dan menoleh padanya. Aroma pekat rokok menerpa wajah Rani dan membuatnya mengerutkan hidung.


"Bisa tidak, kak Raja merokoknya tidak dikamar?" Rani tidak suka aroma rokok. Tapi ia juga tak berani meminta Raja meninggalkan kebiasaannya itu. Terlebih dari yang ia tahu, seorang pecandu rokok tak mudah untuk melepaskan diri dari racun yang terasa madu itu.


"Apa kamu tidak suka?"


"Hmm." angguk Rani. "Rani tidak nyaman."


Raja langsung menggerus bara api pada asbak yang terletak diatas nakas sebelah pria itu. "Maaf. Aku akan berusaha berhenti merokok."


Rani menggeleng dan menyentuh dada sang suami. "Rani tidak meminta itu. Cukup dengan tidak merokok didepan Rani, kak."


"Baiklah. Aku akan membuka semua jendela agar asapnya keluar. Kamu istirahatlah. Pasti lelah, kan?"


Rani mengangguk mantap. "Banget. Tapi Rani ingin mandi dulu. Lengket."


Sebenarnya Rani sudah sangat lelah setelah kegiatan panas mereka. Tak hanya lelah. Badannya bahkan terasa remuk dan sakit diarea tertentu. Ia sudah sangat ingin tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tapi ia tidak terbiasa tidur dengan tubuh lengket seperti saat ini. Dan bisa dipastikan ia tidak akan bisa tidur meskipun memaksakan diri.


"Biar aku bantu."


Rani tersenyum melihat Raja mengambil handuk dan dengan sigap berdiri setelah memakainya. "Aku siapkan air hangatnya dulu. Kamu tunggu disini."


Rani beranjak duduk dan menahan selimut menutupi hingga keleher. Mencegah Raja dengan menahan lengannya. "Kak. Rani bisa sendiri. Sekalian Rani mau mencuci seprei."


"Mana mungkin aku membiarkanmu melakukannya." keukeuh Raja. "Masalah seprei biar besok si mbak yang mencuci. Nanti aku ganti saja dengan yang baru."


Rani menolak. Ia tak ingin orang lain mencuci noda darahnya. "Rani saja kak. Rani malu ada..."


Raja yang sepertinya paham dengan apa yang dia ucapkan pun mengangguk. "Kalau begitu biar aku yang cuci."


Rani sudah berusaha menolak. Tapi Raja tak bisa untuk ia bantah. Suaminya itu bersikeras untuk mencuci seprei yang mereka kenakan. Raja juga menggendong dan menurunkannya didalam bathtub yang sudah terisi dengan air hangat.


"Kamu mandilah. Aku akan turun untuk mencuci. Kamu bisa berjalan kembali kekamar sendiri kan?"


Meski tak yakin, Rani tetap mengangguk. Agar Raja cepat pergi dari hadapannya. Ia masih malu Raja melihat tubuh polosnya.


Ternyata berendam cukup ampuh untuk mengurangi rasa pegal diseluruh tubuhnya. Juga meringankan rasa nyeri diantara kedua kakinya. Tapi mengingat hari yang sudah menjelang pagi, Rani menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat.


Rani baru paham apa yang Raja maksud dengan ia yang akan tidak nyaman jika mereka masih berada dikediaman Shandika. Bukan hanya akan merasa tidak nyaman, Ia pasti akan sangat malu dengan cara berjalannya yang terlihat kaku. Untungnya ia menggunakan hijab. Kalau tidak, bagaimana caranya menutupi jejak kemerahan yang tersebar disepanjang leher, dada, dan perutnya. Ia sendiri ngeri melihat tubuhnya yang sudah mirip macan tutul itu.


Rani hanya berniat merebahkan dirinya sembari menunggu Raja yang belum juga kembali. Tapi tubuh lelahnya tak dapat menahan kantuk hingga ia tertidur tanpa sadar. Dan baru bangun ketika bias matahari menerobos tirai kamarnya.


"Selamat pagi."


Sapaan dari suara yang ia hafal membuat Rani menoleh mencari sumbernya. Beranjak duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur, ketika mendapati Raja mendekat dengan nampan ditangan. Yang lebih mengambil fokusnya adalah penampilan rapi Raja dengan pakaian kerja.


"Kak Raja sudah mau berangkat kerja? kenapa tidak membangunkan Rani? Tunggu Rani. Rani mandi dulu."


"Kamu tidak perlu masuk kerja hari ini. Aku juga hanya akan berangkat meeting dan kembali saat makan siang."


"Tapi kak-"


"Tidak ada tapi tapi. Sekarang habiskan sarapanmu. Aku akan berangkat kerja. Kalau butuh sesuatu panggil si mbak aja. Pasti masih tidak nyaman untuk berjalan."


Rani meringis mengakui apa yang Raja katakan. Suaminya itu mengambil sesuatu dalam laci nakas dan memberikan padanya.


"Itu gel untuk kamu oleskan di.."


"Iya iya Rani tahu." sergahnya tahu apa yang Raja maksud. Merebut benda yang Raja ulurkan.


"Kamu bisa mengoleskannya sendiri, kan? atau kalau susah, biar aku bantu."


Rani menggeleng tegas. Mengingat apa yang mereka lakukan semalam saja masih membuat Rani malu. Apa lagi harus membiarkan Raja mengoleskan gel diareanya. "Kak Raja berangkat saja. Rani bisa sendiri."


"Apa kamu yakin?"


"Iya. Kak Raja tidak perlu khawatir."


Meski masih terlihat ragu, Raja mengalah. Pria itu juga sudah terlambat untuk rapat pagi yang akan dilanjutkan dengan meeting dengan klien penting.


Rani lega akhirnya Raja berangkat tanpa memaksakan kehendaknya. Ia beranjak kekamar mandi untuk menunaikan hajatnya dan mengoleskan obat yang Raja berikan padanya. Rasanya juga cukup nyaman setelah diobati.


Rani benar-benar tak keluar kamar. Bahkan saat makan siang ketika Raja tidak kembali seperti yang dikatakannya, mbak Lela asisten rumah tangga mereka yang mendatangi kamar dan mengantarkan makan siang untuknya.


"Bapak katanya belum bisa pulang, bu. Dan ini makan siang ibu sesuai permintaan bapak."


Rani menatap sepiring nasi, sup ayam dan kawan-kawannya. Juga segelas jus jeruk yang terlihat menyegarkan.


Mbak Lela juga pamit padanya. Beliau bilang mulai hari ini mereka semua diliburkan selama satu minggu kedepan. Hanya menyisakan dua penjaga setiap sift.


Dan ketika ia bertanya alasannya, mbak Lela sendiri tidak tahu dan tidak berani bertanya pada Raja yang memang terlihat dingin dan menyeramkan untuk orang luar seperti si mbak.


Karena bosan, Rani kembali tertidur setelah kenyang dengan makan siangnya. Dan entah jam berapa ia sadar saat sebuah tangan dingin membelai pipinya.


"Apa kamu ingin berubah menjadi babi dengan menghabiskan waktumu untuk tidur?"


Rani mencebik sekaligus tersenyum. Senang karena Raja akhirnya pulang. Tapi kesal karena bukan sapaan romantis yang ia dapat tapi justru sebuah ejekan.


"Kak Raja yang jelek seperti babi!" balasnya tak terima dengan menjulurkan lidah.


Dan hal yang membuat Rani terpaku adalah tawa menggelegak dari Raja. Pria itu tertawa. Rajanya bisa tertawa.


Kilasan masa lalu saat pertama kali ia mendengar suara Raja kembali terlintas. Rasa senangnya hari itu sama dengan yang ia rasakan hari ini.


*


*


*