
Rani mengeratkan kerah jubah mandi yang ia kenakan. Menatap lemari yang berisi gaun tidur. Ia sudah mengambil beberapa diantaranya, dan semua gaun itu sangat panas.
Rani berkali-kali menelan ludahnya kelat. Rasa gugup semakin menyelimutinya. Kedua telapak tangannya bahkan berkeringat dingin meski ia baru selesai mandi.
Rani menjerit frustasi dalam hati. Ia tidak mungkin bisa berdiri dengan percaya diri didepan Raja hanya dengan menggunakan gaun-gaun itu.
Yang benar saja Raja memintanya memakai satu diantaranya? gaun jaring-jaring yang mempertontonkan apa yang ada didalamnya. Bahkan ada yang hanya menutupi area-area tertentu. Meski ada gaun yang bahannya tidak menerawang, tapi tetap menonjolkan didaerah-daerah yang pas bagi lelaki.
"Harus banget pakai ini, ya?" gumamnya masih belum menentukan pilihan akan memakai yang mana. Sedangkan ia sudah hampir kehabisan waktu. Tak lama lagi pasti Raja akan memasuki ruangan yang sama dengannya setelah pria itu selesai mandi.
"Kira-Kira kak Raja suka yang mana ya?" mengamati lagi gaun yang tergantung dilemari dengan menggigit kuku ibu jarinya.
"Aku suka yang merah. Atau yang hitam juga boleh." suara lembut Raja menyapu telinganya. Membuat tubuhnya seperti tersengat.
Secepat kilat Rani membalikan badan dan mendapati Raja tengah tersenyum jenaka dengan kedua tangan terlipat didada dan tubuh mecondong kearahnya yang lebih pendek.
"Kak Raja kenapa disini bukannya mandi?!" serunya dengan memelototkan mata, gugup. Ia masih belum menentukan pilihan, tapi Raja sudah berdiri dibelakangnya dan menghancurkan konsentrasinya.
Alih-alih menjawab, Raja mengibaskan rambutnya yang masih basah. Menegaskan bahwa pria itu sudah selesai mandi.
"Aku bahkan sudah mengawasimu cukup lama di sana." Raja menunjuk pintu penghubung ruang ganti dan kamar mandi. "Karena kamu bertanya mana yang aku suka, untuk itu aku menjawab."
Rani mengerang. Selama itukah ia berada diruangan ini? dilema dengan apa yang akan ia kenakan?
"Ya-ya sudah. Cepat ambil baju kak Raja dan pakai dikamar saja. Rani kan belum pakai baju." serunya lagi menunjuk pintu penghubung langsung ke kamar.
Raja mengedik dan mengulum senyum. "Aku tidak membutuhkan pakaian. Aku akan keluar sekarang."
Rani mengawasi Raja yang beranjak keluar. Namun belum sampai dipintu, pria itu berbalik dan kembali mengingatkannya. "Ingat pilihanku yang tadi. Dan.. Tidak perlu memakai dalam-an."
Belum apa-apa pipi Rani sudah memerah. Tak tahan dengan Raja, ia mendekat dan mendorong tubuh pria itu hingga benar-benar keluar dan menutup pintunya keras.
"Jangan lama-lama, Ran!" Suaminya itu masih saja menggodanya. Raja pasti tengah tertawa puas melihat wajah bodohnya ketika tengah gugup.
Ah masa bodoh! seru Rani melepas jubah mandi dan mengganti dengan lingerie merah yang Raja pilih. Ia sudah terlanjur malu. Dan ia tidak bisa mundur begitu saja.
Selain dosa besar yang ia dapat ketika menolak ajakan suami. Rani juga ingin melakukannya. Ingin memiliki dan dimiliki Raja seutuhnya.
Anggaplah Rani serakah. Tapi Rani memang menginginkan Raja sepenuhnya. Tidak ingin lagi suaminya mencari kepuasan dari wanita lain diluaran sana.
***
Raja mengeringkan rambutnya dengan tangan. Beberapa butir air ada yang menetes dan jatuh didada bidangnya yang terbuka.
Ia duduk dipinggir ranjang masih dengan handuk yang melingkari pinggang. Menutupi aset berharga miliknya. Menunggu gadis didalam ruang ganti yang belum juga keluar.
Raja tertawa tanpa suara ketika mengingat ekspresi Rani yang gugup sekaligus takut. Wajah memerahnya terlihat menggemaskan dan semakin membuatnya panas.
Percayalah, meski ia sudah wara-wiri meniduri wanita. Ia tetap merasa gugup. Tak hanya Rani, sejak mengungkapkan keinginannya untuk menyentuh istrinya itu, Raja tak pernah berhenti memikirkannya. Ia hanya lebih pandai menutupi perasaannya.
Pintu yang sejak tadi tak lepas ia tatap akhirnya terbuka perlahan. Rani keluar malu-malu dengan gaun yang ia pilih. Ingin sekali rasanya Raja berteriak. Tak pernah ia merasa sesenang ini dalam hidupnya. Raja bahkan takut ini semua tak nyata. Rasanya Tuhan terlalu baik pada pendosa sepertinya.
Rani terlihat sangat cantik. Benar-benar cantik dan semakin membuatnya tak ingin kehilangan gadis itu.
"Kemarilah." ucap Raja mengulurkan tangan yang langsung disambut sang istri. Ia dudukan gadis itu dipangkuannya. Menyelipkan anak rambut Rani kebelakang telinga. "Cantik." puji Raja dan kembali bertanya. "Kamu tidak takut kan?"
Rani hanya menggeleng. Ia yakin Rani tengah malu luar biasa. Wajahnya bahkan amat merona. Terlihat semakin cantik. Tangannya secara naluri membelai rona yang menggoda itu. "Kalau nanti terasa tidak nyaman. Katakan saja."
Sekali lagi gadis itu hanya mengangguk. Kali ini dengan senyum hangatnya.
Raja tidak pernah membayangkan gadis yang biasanya cerewet dan tak kenal takut meski ia sudah menampilkan Ekspresi dingin itu akan tersipu malu dibawahnya.
"Berdoa dulu, kak!" Rani mengingatkan dan menahan dadanya ketika ia akan membaringkan tubuh gadis itu.
"Ajari aku." ucap Raja tanpa malu. Ia akan mengikuti cara istrinya. Dan ia tak malu untuk belajar. Ia tak ingin lagi seperti binatang. Ia ingin memperlakukan istrinya dengan baik.
"Boleh aku lakukan sekarang?" tanyanya usai membaca doa. Raja mengecup pipi Rani yang terasa lembut saat mendapatkan lampu hijau.
"Tolong ingatkan aku saat kamu merasa tak nyaman." pintanya sekali lagi. Raja takut berlaku kasar seperti kebiasaannya tidur dengan wanita sebelum ini.
Rani mengangguk dan ia memulai tahap baru dalam pernikahannya. Berusaha selembut mungkin agar Rani tidak takut dan trauma.
Jujur saja pengalaman dengan wanita yang masih menjaga kesuciannya baru kali ini Raja dapatkan. Dan ternyata tak semudah yang biasa ia lakukan. Butuh ekstra hati-hati atau ia akan menyakiti gadisnya.
Mengalihkan dengan berbagai hal yang juga baru pertama kali ia praktekan. Raja pernah berkata bukan, kalau dia tidak pernah menggunakan tangan dan bibirnya untuk menyentuh teman tidurnya? dan kali ini ia menggunakan indra pencium, pengecap dan peraba itu. Bahkan hatinya juga ikut bermain. Bermain dengan rasa bahagia yang terasa siap meledakan hatinya kapan saja.
Malam panjang mereka tak usai dengan cepat. Rasa lelah seakan tak terasa begitu ia sudah memulai. Dan meskipun Rani sempat menitikan air mata kesakitan, Raja tetap tak bisa berhenti ditengah jalan seperti itu. Ia hanya memberi waktu untuk Rani membiasakan diri sebelum ia melanjutkan semuanya. Hingga rasa puas itu menghampirinya setelah ia membuat Rani meledak beberapa kali.
Sungguh. Kepuasan yang ia dapatkan dari Rani jauh diatas rata-rata kepuasan yang ia rasakan selama ini.
Memang... yang SAH lebih menganggumkan. Jangan pernah kalian jatuh dilubang kebodohan sepertinya. Dosa yang hanya akan menjadi penyesalan. Dan kini Raja hanya akan mengagumi apa yang boleh untuknya.
*
*
*
Kupenuhi janjiku.hihihi
Aku nggak bisa bikin adegan mantap-mantap. Tapi semoga kalian suka dengan bab kali ini.
Cieeee yang abis ngerasain anak gadis, seneng banget.wkwkwk