You're My Antidote

You're My Antidote
Kantor



Raja melihat semua.


Senyum mereka, pelukan bahkan tawa antara Rani dan Adit beserta bunda dari sahabatnya itu.


Kehangatan yang terlihat dari ketiganya membuat Raja tidak berani untuk mendekat.


Raja memarkir mobilnya di luar gerbang panti ketika ia melihat mobil Adit memasuki panti. Ia yang penasaran hanya berdiri di luar gerbang dan melihat semua interaksi Rani dengan kedua tamu itu.


Seharusnya memang Rani lebih cocok bersanding dengan Adit. Agar gadis cerewet itu bisa mendapatkan suami dan keluarga yang hangat dan bisa membahagiakan Rani.


Tidak seperti dirinya yang tidak akan mungkin bisa memberikan seperti apa yang Adit bisa berikan. Meskipun keluarganya tidak kalah baik dan menyayangi Rani.


Sebelum berangkat ke kantor tadi, mama menyuruhnya untuk mampir ke panti dan memberikan sesuatu yang mama lupa berikan kemarin.


Raja sendiri juga tidak tahu apa isinya. Ia hanya tengah bersikap patuh dengan menuruti apa yang mama perintahkan.


"Lho, nak Raja kenapa tidak masuk?"


Raja menoleh pada wanita paruh baya yang ia tahu merupakan salah satu pengurus panti. Sepertinya ibu itu baru saja pulang dari pasar jika melihat apa yang dibawanya dijok belakang motor dengan dua keranjang besar.


"Saya hanya ingin menitipkan ini, bu." setelah menyalami ibu itu, Ia menyerahkan amplop besar yang mama titipkan. "Untuk Rani."


"Kenapa tidak diberikan langsung saja." kerutan didahi ibu pengurus membuatnya yakin jika ibu itu menganggapnya aneh. Ia sudah sampai di panti. Tapi alih-alih memberikan langsung pada orang yang dituju, ia justru menitipkan pada orang lain. Jadi Raja tidak heran melihat ekspresi yang diberikan untuknya itu.


"Kebetulan hari ini Citra ada yang mengadopsi, pasti semua sedang berkumpul di aula."


Ah. Raja ingat Adit pernah memberitahunya jika bunda akan mengadopsi seorang anak.


Jadi anak yang akan menjadi adik sahabatnya itu berasal dari panti ini?


Raja menatap kedalam panti, tapi sadar ibu pengurus masih menunggunya, ia kembali berucap. "Saya sedang buru-buru, bu. Tolong ibu saja yang sampaikan. Dan juga, lusa sepupu saya akan datang menjemput Rani, biar nanti jamnya saya kabari langsung pada Rani."


Ibu itu mengangguk dan tersenyum padanya. Membuatnya memutuskan pamit karena sudah menyampaikan apa yang mama titipkan.


Dalam perjalanan menuju kantor, pikirannya semakin tak tenang. Merasa ia telah merenggut kebahagiaan dua orang hanya demi keegoisan keluarganya.


Kebahagiaan Rani untuk mendapatkan suami yang lebih baik darinya. Dan kebahagiaan Adit untuk mendapatkan wanita yang selama ini sahabatnya cintai.


Anak laki-laki cenderung mencari pasangan yang memiliki kepribadian seperti ibunya. Itu pula salah satu alasan Adit yang pernah disampaikan padanya. Sahabatnya itu melihat sosok bunda dalam tubuh Rani. Yang semakin membuat Adit memantapkan pilihannya.


Lalu seperti apa cinta yang harus Raja cari?


Bahkan ibu kandungnya telah mematahkan apa itu cinta pertama untuknya.


Satu-satunya cinta yang ia miliki hanya cintanya pada mamanya Lintang. Dan jika ia tidak dianggap serakah, ia ingin memiliki istri yang seperti mamanya itu. Baik dan penyanyang. Untuk hidupnya yang begitu hitam.


***


"Kak Adit, bisa tolong kirim alamat rumah kak Adit?" cegah Rani sebelum pria itu masuk kedalam mobil untuk pulang bersama Citra sebagai anggota keluarga baru mereka.


"Buat apa?"


"Aku ada hadiah buat Citra. Tapi hadiahnya tertinggal di kantor."


"Sekalian aja gue antar ke kantor buat lo ambil."


Rani menolak tawaran pria itu dengan menggeleng dan menggerakkan kedua tangannya. "Kasihan bunda dan Citra. Apalagi jalan ke kantor di jam segini pasti macet banget."


"Kenapa harus merepotkan nak Adit untuk mengirim alamat rumahnya?" ibu panti menggeleng heran. "Kan di surat-surat kelengkapan adopsi, kita ada."


"Kalau giti Rani ke kantor dulu ya bu?"


"Tidak ganti baju dulu?"


Rani menatap penampilannya yang hanya mengenakan celana kulot dan kaos lengan panjang yang dipadu dengan jilbab untuk menutup kepalanya. Ia merasa tidak masalah karena ia datang bukan untuk bekerja, Rani hanya perlu mengambil tanda pengenal dikamar.


"Begini saja, bu. Rani tidak akan lama kok."


Memakai helm dan motor kesayangannya, Rani menempuh waktu lebih dari tiga puluh menit untuk sampai di gedung pencakar langit tempatnya mengais rezeki.


Sesampainya dilantai tempatnya bekerja, teman-temannya berseru antusias.


"Kak Rani kok nggak bilang-bilang mau menikah sama pak bos? Grup kantor heboh pas berita itu di umumin di laman perusahaan." salah satu staf sekretaris yang merupakan juniornya langsung mengamit lengannya dengan wajah kagum sekaligus iri.


"Iya, Ran. Kita sampai kaget. Selama ini kita bisa sampai kecolongan kalau lo sama si bos punya hubungan khusus." celetuk seniornya.


Ada beberapa lagi yang menggoda Rani yang hanya bisa ia tanggapi dengan senyum tanpa tahu harus menjawab apa.


"Udah.. Udah!" salah satu seniornya yang lain membubarkan mereka. Menyelamatkan Rani dari keharusan menjawab pertanyaan mereka yang menanyakan sejak kapan ia menjalin hubungan dengan Raja. Bahkan ada yang bertanya apakah pernikahannya karena faktor MBA hingga acara diadakan begitu mendadak. "Mending sekarang lo bantuin gue nemuin si bos! pusing gue ngurusin dia dari pagi."


"Ta--pi mbak. Aku data-" belum selesai Rani melanjutkan kalimatnya dengan ekspresi bingung, seniornya sudah menarik lengannya menuju ruangan atasannya.


"Udah. Bantuin gue dulu sebelum si bos marah-marah lagi! Cuma lo nih pawangnya dia."


"Eh?" meski tak tahu maksud dari senior yang bernama Lura, Rani tetap mengikuti langkah wanita itu hingga memasuki ruangan atasan mereka.


"Mana berkas yang saya minta? jangan sampai salah lagi, atau kamu saya pecat!" Raja sudah langsung menyambut mereka dengan ancaman dan nada yang terkesan tak ramah.


Rani menatap Lura yang tersenyum sedih. Biasanya Raja akan bersikap seperti itu jika para staf tidak mengerti keinginannya. Termasuk dirinya yang juga sering mengalami hal serupa.


"I-ini ada Rani, pak." Lura berucap dengan takut-takut yang seketika mengalihkan perhatian Raja dari berkas yang ada dimeja kerja padanya. "Bisa bapak jelaskan dokumen yang mana yang bapak minta, biar Rani bisa membantu saya."


Tatapan Raja beralih dengan tajam pada Lura yang membuat wanita itu memundurkan langkah.


"Untuk apa saya menggaji kamu kalau kamu bahkan tidak tahu apa-apa?!" Rani menghela napas mendengar nada suara Raja yang semakin tegas.


"Ta-tapi itu bu-bukan dokumen yang saya kerjakan-"


Lura langsung membungkam mulutnya begitu Raja memukul meja dengan cukup keras.


"Biar saya yang bantu carikan, pak. Bapak butuh dokumen apa?" sela Rani merasa tidak tega pada seniornya yang merasa terintimidasi oleh atasan mereka itu.


"Bukannya kamu cuti?" nada suaranya sedikit melunak.


"Iya. Saya datang untuk mengambil barang saya yang tertinggal. Tapi saya bisa mencarikan dulu apa yang bapak butuhkan."


Raja hanya diam menatapnya cukup lama. Hingga pria itu menyebutkan berkas apa yang diperlukan.


Lura langsung bernapas lega ketika mereka keluar ruangan. "Untung lo datang. Kalau enggak, mati deh gue." keluhan berlebihan itu membuat Rani terkekeh. "Dari pagi si bos lagi sensi banget. Marah-marah mulu. Dia bahkan sampai lupa makan siang."


*


*


*