
Sebenarnya Rani masih merasa penasaran sejak kapan Raja menyimpan barang-barang itu. Tapi sayangnya suaminya itu tidak mau mengatakannya.
"Menurutmu berapa lama mereka ada disana?" begitu jawaban Raja ketika mereka sudah kembali kedalam kamar setelah makan malam dan sedikit berbincang dengan orang tua Raja.
Kalau dipikir-pikir lagi, origami dan gelang buatannya itu sudah berusia belasan tahun. Jadi apa selama itu pula Raja menyimpannya?
Wajah Rani bersemu memikirkan kemungkinan Raja telah menyimpannya sejak awal. Rani cukup tersanjung. Bahkan rasa sukanya pada Raja yang ia kira sudah begitu besar pun, masih kalah dengan Raja yang menjaga kenangan mereka hingga bentuk terkecil.
"Jadi kita akan sampai kapan menginap disini, kak?" Rani merangkak keatas tempat tidur. Menyusul Raja yang sudah memangku macbooknya.
Tadi saat mereka makan malam, ibu Lintang memintanya untuk menginap lebih lama. Beliau berkata belum saatnya ia dan Raja tinggal terpisah dengan mereka. Atau lebih tepatnya, wanita senja itu belum siap berpisah dengan putra kesayangannya.
"Apa kamu tidak keberatan kalau kita tinggal disini sampai satu bulan kedepan?"
Tentu saja Rani tidak berani menolak. Meskipun mungkin kini Raja bisa saja menuruti permintaannya jika ia ingin mereka tinggal dirumah pribadi Raja saja.
Tapi Rani tak setega itu melihat sorot khawatir suaminya. Pria yang sangat mencintai ibunya itu. Terlebih nada memohon dari ibu Lintang yang ditujukan padanya.
"Rani tidak keberatan kok, tinggal disini." toh Rani pikir, dimanapun ia tinggal asal disitu ada Raja, ia tak masalah. Apalagi orang tua Raja bukan orang tua yang menyebalkan yang bisa membuatnya tidak nyaman untuk tinggal bersama.
"Terimakasih." Raja menangkup pipi kanan Rani dan mengusapnya. "Mudah-mudahan mama mengizinkan lebih cepat dari pada itu."
Raja sudah kembali sibuk dengan pekerjaannya. Padahal jam sudah menunjukan jika hari kian larut. Mata Rani juga sudah sangat mengantuk. Tapi ia menahannya dan menunggu hingga Raja selesai.
"Tadi kak Raja darimana?" tanyanya berusaha menghilangkan kantuk.
"Bertemu seseorang." jawab Raja pendek seperti biasa. Pria itu menoleh menatapnya yang tidur dengan posisi miring menghadap suaminya itu. "Tapi aku belum bisa menjelaskan siapa orangnya."
Rani menghela napas dan menggerutu. Yang ia yakin Raja masih bisa mendengar gerutuannya tentang bagaimana pria itu memiliki banyak rahasia yang disembunyikan darinya, seperti.. Mulai sejak kapan Raja menyukainya?
Apa hanya sekedar suka, atau sudah jatuh cinta padanya?
Senjak kapan benda-benda kenangan mereka Raja simpan? apa alasannya? dan sepenting itukah?
Kini bahkan Raja merahasiakan dengan siapa dia bertemu.
Bukan ingin menjadi istri posesif yang ingin tahu segala yang suaminya lakukan dan dengan siapa saja Raja bertemu. Hanya saja ia termasuk orang yang cukup penasaran. Dan akan terus memikirkannya hingga ia mendapatkan jawaban.
Lagi pula mereka tengah belajar untuk saling terbuka. Jadi kenapa Raja harus merahasiakan sesuatu darinya?
Atau Raja bertemu lagi dengan Rere dan masih menjalin hubungan terlarang itu? hingga harus merahasiakannya?
"Jangan berpikir yang macam-macam. Aku tidak menemui wanita diluar sana. Meski disana banyak wanita."
Rani membekap mulutnya dan menatap Raja dengan kaget. Padahal untuk kecurigaannya yang satu itu, tidak ia ucapkan secara lisan. Bagaimana suaminya bisa tahu?
"Ekspresimu menggambarkannya dengan jelas." lagi. Raja bisa tahu apa yang ia pikirkan. Apakah ia begitu tidak bisa mengontrol Ekspresi hingga semua orang bisa menebaknya?
***
Dirumah, mungkin Rani berperan sebagai istri bagi Raja. Tapi dikantor, ia tetaplah seorang sekretaris.
Bukan Raja yang memperlakukannya dengan berbeda. Tapi Rani sendiri yang membedakan bagaimana ia harus memposisikan diri dan bersikap profesional. Dan ia juga meminta Raja tetap memperlakukannya secara profesional. Tetap menegurnya jika ada kesalahan pada pekerjaannya.
"Tolong kosongkan jadwal saya satu minggu kedepan. Saya ada urusan di Singapura. Pesankan juga tiketnya untuk besok sore."
"Baik pak." Rani menjawab dan mencatat dibuku agenda miliknya dengan dahi terlipat penasaran. Pasalnya Raja tak pernah mengatakan apa pun padanya mengenai kepergiannya ke Singapura.
"Apa kamu tidak ingin tahu alasan saya pergi?"
Rani mengangkat pandangan dari buku ditangannya untuk menatap pria yang masih fokus pada ipad ditangan.
"Tapi saya tidak akan memberitahumu meskipun kita sudah dirumah nanti." balas Raja dengan menurunkan ipad dan membalas senyumnya. Tapi senyum Raja terlihat menyebalkan untuk Rani saat ini. Meskipun suaminya itu terlihat begitu tampan saat tersenyum.
"Kalau begitu kenapa tanya? dasar menyebalkan!" gerutunya.
"Ingat! ini dikantor, bukan dirumah. Kamu sekretarisku, bukan istriku."
Rani berdecak ketika Raja berucap demikian dengan nada menyindir. Karena apa yang Raja katakan adalah apa yang ia minta untuk pria itu lakukan.
"Kalau begitu jangan cium-cium saya juga!" Rani mengingat kejadian pagi tadi saat Raja memeluk dan menciumnya didalam ruangan ini. "Saya bisa melaporkan bapak dengan tuduhan pelecehan terhadap karyawan."
Rasanya Rani ingin tertawa ketika melihat bola mata Raja membulat. Sebelum kemudian pria itu bisa menormalkan ekspresinya dan kembali pada wajahnya yang selalu tenang.
"Silahkan. Laporkan saja." Raja berdiri dan mendekat kearahnya. Membuat Rani seketika memasang sikap defensif. "Tapi biarkan saya berbuat lebih dari pagi tadi. Agar tidak sia-sia kau melaporkanku."
"Eh?" dengan refleks Rani menyilangkan kedua tangannya didepan dada. "Jangan macam-macam ya kak!"
"Saya atasan kamu. Bukan suami apa lagi kakakmu." Raja kembali mengingatkan. Tersenyum licik dan terus mendekatinya.
"Saya teriak ya, pak!"
"Teriak saja." Raja menantangnya dengan alis terangkat. "Siapa yang berani menolongmu?"
Benar. Selain jabatan dan status Raja di perusahaan, ia dan Raja juga sudah menikah. Jadi siapa yang berani menolongnya. Pikir Rani.
"Kalau begitu, ayo kita lakukan!" tantang balik Rani.
"Lakukan apa?" Raja seperti tak menyangka dengan reaksinya.
"Ya, lakukan apa yang bapak inginkan." Rani balas mendekati Raja. Mempersempit jarak antara mereka.
"Apa kamu yakin?"
"Hmm." Rani mengangguk mantap meski dalam hatinya ragu.
Dan begitu Raja merengkuh dan menciumnya, Rani membulatkan matanya sempurna. Dan ketika tangan besar Raja menyentuh kencing teratas blus miliknya, Rani mendorong kuat dan berteriak.
"AKKHH.. KAK RAJA MESUM!!"
Rani berlari keluar ruangan. Menutup pintu dengan keras dan bersandar dibaliknya.
"Kak Raja, gila!" makinya memegang dada. Napasnya tak beraturan.
Rani bukan tidak ingin disentuh oleh Raja. Tapi ini kantor. Tak seharusnya Raja berbuat seperti itu.
"Kenapa, lo?"
Rani menoleh pada sumber suara. Mendapati Rere menatapnya tajam dengan tangan menenteng tas branded dan rok diatas lutut kekurangan bahan.
"Ada perlu apa ya, kak?" tanya Rani balik.
"Gue ada perlunya sama Raja. Bukan sama, lo. Minggir!"
Rani tersenyum berusaha bersikap profesional. Menyingkir dari pintu untuk memberi akses Rere masuk.
*
*
*