You're My Antidote

You're My Antidote
Seorang Ibu



"Sayang.. Kenapa?" tanya Raja panik melihat istrinya menangis. Membawa dan mendudukannya di ranjang.


Bukan menjawab. Rani justru memeluk Raja erat dan menenggelemkan wajahnya di dada. Cukup lama Raja membiarkan istrinya menangis. Melampiaskan, meluapkan apa pun yang membuat istrinya resah.


Tak bertanya lagi. Raja hanya mendekap dan mengusap punggung istrinya lembut. Menyalurkan rasa kasih. Menegaskan bahwa Rani tidak sendiri. Ada dirinya yang akan selalu ada kapan pun istrinya membutuhkan.


Setelah dirasa Rani cukup tenang, Raja melepaskan diri untuk mengambil air minum untuk Rani.


"Sudah bisa cerita?" tanya Raja dengan lembut setelah istrinya menghabiskan setengah air dalam gelas.


Rani mengulurkan ponsel padanya. Raja menerima dan membuka isi yang di maksud sang istri. "Ini foto Raisa?" tanyanya ketika melihat chat dari Adit yang mengirim foto bayi perempuan.


Rani mengangguk dan melepas hijabnya. "Mas lihat tanda lahir ini." menunjukan tanda lahir yang sudah sangat Raja hafal tempat dan bentuknya. "Menurut mas, sama dengan milik Raisa tidak?"


Bola mata Raja membulat. Mengerti arah pembicaraan istrinya. Seketika tatapannya langsung beralih pada foto bayi mungil tadi. Menatap Raisa dan Rani bergantian dengan tidak percaya.


"Jadi.. Maksud kamu..?"


Rani menggeleng. "Rani tidak tahu. Mungkin hanya kebetulan. Termasuk selimut itu."


Raja kembali menatap layar ponsel di tangannya. Mengamati selimut yang membalut tubuh bayi merah dalam foto."R.A.D? Rani Ayudia Damayanti?"


Rani kembali menggeleng. "Itu hanya nama yang ibu panti berikan. Mengikuti inisial yang beliau lihat di selimut yang sama ketika Rani di temukan."


"Kamu ingin melakukan tes DNA untuk memastikan?"


Rani menjawab dengan anggukan. Raja meletakan benda persegi di tangannya sembarang. Membawa kembali istrinya dalam pelukan. "Kalau memang kamu Raisa yang di cari. Apa pun yang terjadi dengan orang tuamu, semua bukan kesalahanmu sayang." mengusap punggung Rani yang kembali bergetar mendengar apa yang ia ucapkan.


"Rani memang ingin tahu siapa orang tua Rani.." ucap Rani ditengah isak tangis dan membuat bicaranya tidak jelas. "Setidaknya hanya tahu. Meski mereka tidak mengharapkan kehadiran Rani, mas.. Tapi bukan seperti ini kenyataan yang ingin Rani dengar."


Raja menghela napas dan semakin mengusap punggung Rani intens. Ia sudah mengira Rani akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena ia pun pernah berada di posisi yang sama. Menyalahkan diri atas meninggalnya kedua orang tuanya.


"Rani akan lebih senang dengan fakta bahwa mereka membuang Rani untuk kebahagiaan mereka sendiri..."___"Setidaknya mereka hidup bahagia dengan mengorbankan Rani, mas. Tapi nyatanya Rani justru anak yang lahir dalam hubungan tidak normal. Anak yang lahir tanpa restu orang tua. Anak yang lahir dengan merusak kebahagiaan anak ayah Rani yang lain."


Raja bisa membayangkan betapa sakitnya ketika maminya dulu memberi papi kabar jika mami tengah hamil dengan pria lain. Wajah bahagia mami menyambut kehadiran anak keduanya, mengiris hari Raja yang tidak pernah di harapkan.


"Dan lebih kejamnya. Rani menjadi alasan ibu Rani meninggal..." Raja harus lebih erat memeluk istrinya yang mulai histeris. Membuatnya semakin khawatir. "Andai ibu tidak pernah mengandung dan melahirkan Rani. Mungkin ibu masih memiliki kesempatan untuk menemukan pria yang tepat yang bisa membuatnya bahagia. Bukan malah mempertahankan Rani. Yang membuat ibu harus meninggal tanpa sempat merasakan bahagia."


"Ssst... Sayang.... Tidak seperti itu." Raja memegang kedua bahu Rani dan menatapnya lekat. "Tenangin diri kamu! Dengarkan aku!" ucapnya tegas.


Meskipun Rani masih menangis. Tapi istrinya itu sudah tidak lagi meronta dan histeris.


"Semua ibu pasti akan mengorbankan segalanya untuk anak mereka." ucapnya dengan lembut. "Lihat Rere. Meskipun dia bukan wanita baik-baik. Tapi dia amat menyesal dengan kondisi putrinya. Bahkan aku yakin, Rere siap menukar nyawanya asal putri kecilnya sehat."


"Dan kamu." imbuh Raja. "Aku tidak pernah berharap kamu dan anak kita dalam bahaya sayang. Tapi kalau kamu berada di posisi ibu kamu saat itu, apa kamu akan menyesal melahirkan anak yang membuatmu pendarahan dan akhirnya meninggalkan dunia ini."


"Tidak ada ibu yang tidak ingin berkorban untuk anaknya, sayang. Bahkan mamiku yang tidak pernah menatap dan menganggapku ada. Aku yakin alasan beliau mempertahankanku dan rela berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkanku pun, karena beliau menyayangiku. Ingin memperjuangkan hakku untuk hidup. Meski mami sudah tahu resiko melahirkan yang mungkin akan merenggut nyawanya sendiri. Toh pada akhirnya, mami tetap memperjuangkanku untuk lahir."


"Tapi Rani tidak sempat melihat ibu Rani, mas." tangis Rani kembali memeluknya.


"Sembilan bulan yang kamu lalui didalam perutnya. Satu hari dimana ibu Shanala melihat, mendekap dan menciummu. Pasti itu sudah menjadi momen berarti untuk beliau. Dan begitupun kamu. Meskipun tidak ada memori tentang orang tuamu. Setidaknya disini.." Raja menyentuh hati Rani. "Kamu memiliki ikatan rasa bahagia yang sama. Karena seperti yang dokter Fani katakan. Bahwa bayi di dalam kandungan bisa merasakan perasaan yang di rasakan ibunya. Dan saat ibu Shanala mengandungmu, pasti beliau amat bahagia. Selayaknya kamu bahagia dengan mengandung anak kita."


Rani mengangguk dan mengusap perutnya yang merespon dengan tendangan kecil.


"Jangan menangis kalau kamu tidak ingin membuat anak kita sedih." ucap Raja ikut membelai perut sang istri. Membayangkan tengah membelai bayi mereka. "Kita harus membuatnya bahagia menyambut hari kelahiran bukan?"


Mereka kembali berpelukan. Setelah Rani benar-benar tenang, perempuan itu memutuskan untuk kembali melanjutkan niatnya di dapur.


Sedangkan Raja mengambil ponselnya dan menghubungi Adit. Jika benar Raisa itu Rani. Ada hal lain yang membuatnya khawatir. Orang-orang di pihak laki-laki yang menjadi sosok ayah Rani.


Jika memang Shanala menjalin hubungan tersembunyi dan mendapat tentangan dari dua keluarga. Kemungkinan ayah Rani juga bukan orang sembarangan. Atau lebih tepatnya bukan dari kalangan menengah kebawah.


Karena pria dari kalangan menengah kebawah tidak mungkin memiliki nyali menjadikan Shanala sebagai simpanan. Karena orang tua Shanala adalah orang berpengaruh pada masanya.


"Kenapa Ja. Gue masih ngantuk." sahut Adit diseberang.


"Maina kamu antar dengan utuh kan?"


Adit berdecak keras. "Lo ganggu tidur gue cuma buat nannyain Maina? kenapa nggak lo telfon sendiri sepupu lo itu kalau lo nggak percaya sama gue!"


Raja tersenyum tipis. Senang membuat Adit bersungut-sungut pagi-pagi.


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Kamu bisa ke rumah?"


Adit mengerang panjang. "Demi Tuhan Ja... Ini hari minggu. Gue pengen rebahan di rumah."


"Tapi ini menyangkut sepupumu."


"Sepupu gue? Raisa? lo sama Rani udah dapat informasinya?"


Raja yakin, Adit sudah sepenuhnya bangun dan langsung berjingkat duduk.


Raja harus memastikan satu hal sebelum Rani melakukan tes DNA dan mengetahui kebenarannya. Ia tidak ingin keluarga pihak ayah Rani memprsulit hidup Rani nantinya.


*


*


*