You're My Antidote

You're My Antidote
Suasana Kantor



Kehadiran Rani di sambut riuh teman-teman staf sekretaris Raja. Raja memberi kecupan di dahi dan membiarkan Rani bergabung dengan Lura dan kawan-kawan. Membuat suasana semakin riuh dengan sikap manis bos mereka yang baru kali itu mereka lihat. Bahkan ada yang tercengang menatap punggung Raja dengan tidak percaya dan meminta teman disebelahnya untuk mencubit pipi.


"Kalian nggak salah lihat kok. Itu memang pak Raja. Si bos galak. Suamiku." ujar Rani semakin menambah keriuhan bagian staf sekretaris direktur operasional itu.


Mereka bahkan mendapat teguran langsung dari direktur legal Maina. "Nanti lagi ya, kangen-kangennannya. Kasihan yang lain lagi pada kerja."


Rani tersenyum kikuk pada sepupu iparnya itu. Begitu juga dengan yang lain yang langsung meminta maaf. "Maaf bu."


"Santai." Jawab Maina yang memang tengah melewati divisi mereka. "Cuma ditunda dulu. Oke?"


"Baik, bu."


Maina berlalu dengan gelengan kepala setelah sebelumnya mengerling kearah Rani.


"Nih oleh-oleh buat kalian." Rani meletakan dua paper bag besar di atas meja Lura setelah suasanya kondusif. Meskipun pada akhirnya ia harus memperingatkan lagi untuk tidak berisik ketika mereka kembali berseru heboh dan berebut memilih mana hadiah yang mereka inginkan.


Beruntung ia sudah menikah dengan Raja. Kalau tidak, mereka pasti sudah mendapatkan amukan bos mereka.


Rani baru menyadari ia merindukan suasana itu. Suasana kantor dengan segala keriuhan dan kesibukan yang ada. Ia juga merindukan teman mengobrol sesama wanita. Bukan mbak di rumah atau Ibu Lintang sebagai mertuanya. Ia membutuhkan obrolan sesama wanita yang meskipun kadang tidak penting hanya sekedar membahas mode terbaru atau gosip skandal artis.


Rasanya setengah bulan lebih tidak bertemu mereka, Rani merasa sudah seperti berbulan-bulan. Ia merasa seperti manusia primitif yang baru keluar dari hutan. Tidak tahu gosip terbaru di kantor maupun gosip dunia keartisan.


Suasana kantor itu pula yang menjadi salah satu alasan Rani menolak untuk berhenti bekerja. Karena ia pasti akan sangat kehilangan dunianya. Akan merasa bosan setengah mati hanya berdiam diri di rumah. Tidak tahu nanti kalau anak mereka sudah lahir.


Setelah memastikan setiap staf mendapat hadiah masing-masing, Rani berjalan ke arah mejanya. Tempat biasa ia kerja bersama Dini yang sudah melambai ke arahnya. Karena gadis itu tadi langsung di panggil Raja yang menanyakan jadwal Raja hari itu.


Harusnya semua yang berurusan dengan Raja akan melalui Rani. Tapi mungkin tadi Raja memberinya waktu untuk jumpa kangen dengan teman-teman kantornya.


Rani dan Dini berpelukan melepas rindu. Padahal mereka juga belum lama mengenal. Tapi sifat Dini yang ceria seperti dirinya, membuatnya lebih mudah akrab dengan asistennya itu.


"Tadi jadwal Pak Raja sudah di sampaikan semua?" tanya Rani yang menyimpan tas dan duduk di kursi yang juga ia rindukan. Meninggalkan kegiatan sehari-harinya memang tidaklah mudah. Akan penuh dengan kerinduan dan air mata nanti saat ia harus melepas itu semua.


"Sudah bu. Sudah saya email juga jadwal pak Raja ke email ibu. Dan ruangan ibu sekarang di dalam. Di ruangan pak Raja."


"Heh? sejak kapan ruanganku di dalam sana? dan pleasee Din, panggil kakak aja seperti biasa. Aku kok jadi nggak nyaman gitu ya kamu panggil ibu. Padahal pekerjaan kita sama. Kecuali aku juga jadi direktur, baru kamu panggil ibu." bisik Rani di kalimat terakhir.


"Sejak hari ini atas permintaan pak bos." jawab Dini dengan cengiran lebarnya. "Karena kursi yang ibu duduki sekarang sudah menjadi milik orang lain. Dan saya akan tetap memanggil bu Rani dengan ibu selama jam kantor sesuai perintah pak Raja."


Rani hanya bisa pasrah dan mengikuti. Asalkan Dini dan yang lainnya tidak berubah sungkan padanya. Itu sudah cukup.


"Maksud kamu milik orang lain siapa?" tanya Rani dengan penasaran pada poin yang ia lewati. Kenapa banyak perubahan yang terjadi di hari pertamanya masuk setelah cuti panjang.


"Pak Musa. Asisten pribadi pak bos. Sekarang beliau kerja di sini."


"Musa?"


Dini mengangguk dengan binar mata yang membuat Rani curiga.


Musa memang bukan nama baru. Pria yang belum pernah Rani temui itu adalah tangan kanan suaminya. Yang mengurus segala sesuatu untuk Raja. Juga membereskan segala kekacauan yang Raja perbuat.


"Jadi kamu mendepak saya setelah ada pengganti yang ganteng, gitu Din?"


"Hehe.. Ya enggak dong bu. Mana berani saya." jawab Dini cengengesan.


"Tapi saya nggak mau duduk di dalam." jawab Rani enggan. "Bosen lihat si bos mulu. Nggak di rumah nggak di kantor. Mending saya duduk di sini bareng kamu. Bisa ngerumpi."


Dini tergelak dan segera menutup mulutnya ketika sadar tawanya cukup keras. "Masa bosen sih bu, suaminya ganteng gitu. Kalau saya malah pengennya nempel mulu kali."


Rani berdecih dan memilih memasuki ruangan suaminya. Bukan untuk pindah ke dalam sana. Rani hanya akan mengajukan protes dan menolak pemindahan yang suaminya atur tanpa persetujuannya.


"Pagi pak." sapa Rani setelah mengetuk pintu dan memasuki ruangan suaminya. Menginterupsi Raja dan Musa yang tengah membahas tema meeting yang akan di adakan satu jam lagi.


"Kamu boleh keluar dulu, Sa." perintah Raja. "Nanti kabarin saya kalau meeting sudah siap."


"Baik pak." Musa menunduk hormat dan keluar dari ruangan setelah melakukan hal yang sama pada Rani.


Ternyata benar kata Dini, Musa cukup tampan juga. Meskipun di mata Rani, hanya suaminya pria tertampan.


"Mas. Rani tidak mau di pindah kesini. Rani mau di luar saja dengan Dini." tunjuk Rani kearah pintu.


"Kenapa? kamu bosan 24 jam dengan mas?"


Salah satunya. Jawab Rani dalam hati. Tapi tentu saja ia tidak akan berani mengatakannya. "Rani ingin di depan saja, mas. Rani kangen suasana kantor." bujuknya yang mendekati sang suami dan bersandar di meja kerja suaminya. Memudahkan Raja untuk memeluk pinggangnya.


"Mas tidak mau kamu lelah keluar masuk ruangan mas, sayang."


"Tapi apa gunanya Rani disini, mas? sedangkan apa yang mereka sampaikan pada Rani, mas juga dengar. Jadi tidak perlu lagi perantara. Mereka bisa melaporkannya langsung." Rani masih menekuk wajahnya.


"Kan kamu masih bisa memeriksa dokumen yang perlu mas tanda tangani dan mengurus pekerjaan lainnya."


"Tapi Rani tidak bisa bergosip disini, mas." ucap Rani mulai merajuk. "Pak Musa saja yang disini. Rani di luar."


"Mana bisa begitu! dan panggil dia Musa. Tidak perlu pakai pak."


Mereka cukup lama berdebat tanpa ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya Raja mengalah setelah Rani mengancam akan pindah divisi dan menjadi sekretaris Maina atau Maira saja. Atau kalau perlu menjadi staf sekretaris Om Rafi. Membuat Raja tak berkutik dan memberi Rani izin untuk duduk di depan. Karena pasti baik Om Rafi dan anak-anaknya akan menuruti keinginan Rani.


*


*


*


Kemarin oleh-oleh bulan madunya udah Rani kirim belum ya?


othor lupa.wkwkwk


Kadang baru di otak tapi ngerasanya udah di tulis. Atau sebaliknya. Jadi suka bingung.hihihi