
"Aku pergi dulu."
Rani menatap kepergian Raja yang meninggalkan usapan lembut di kepalanya yang terbalut hijab. Suaminya itu sudah mengosongkan jadwal sejak jam tiga sore. Dan baru jam setengah empat ketika pria itu pergi dengan terburu-buru.
Sepenting apakah orang yang Raja temui hingga membuat pria itu begitu khawatir untuk terlambat? Yang jelas, Raja pergi bukan untuk urusan bisnis. Karena pasti akan melibatkannya jika itu urusan pekerjaan.
Raja juga sudah menyuruhnya untuk langsung ke kediaman Shandika. Tidak perlu menunggu jam kantor habis. Tapi ia merasa tidak enak dengan yang lain.
Seperti yang Raja katakan pagi tadi, bukan berarti ia istri dari seorang direktur membuatnya bisa seenaknya saja dalam bekerja.
"Pak bos mau kemana, buru-buru banget? kok elo nggak ikut?" Lura meletakan hasil laporan rapat untuk diserahkan pada Raja esok.
"Ada urusan." jawab Rani mengalihkan perhatian dari Lura pada dokumen yang seniornya itu bawa. Tidak ingin Lura menggali informasi lebih yang ia sendiri tidak tahu. Ia tidak ingin Lura berpikir yang macam-macam karena tidak tahu kemana suaminya pergi. Meskipun ia yakin Lura bukan wanita yang seperti itu.
"Elo baik-baik aja kan, Ran? nggak ada yang gangguin lo lagi?"
Rani menggeleng tersenyum. Seperti yang Lura katakan, orang-orang dikantor tidak ada lagi yang mengosipinya. Entah takut pada Raja atau apa, yang jelas Rani merasa lega dan bersyukur. Apa yang Raja katakan benar. Semua akan baik-baik saja.
Wanita yang menyebar luaskan identitas Rani, telah dipecat. Wanita itu iri melihat Rani. Sudah lama bekerja di perusahaan dan menjadi staf sekretaris direktur lain. Begitu Raja masuk dan mencari sekretaris, wanita itu langsung melamar. Tapi sayang usahanya berakhir sia-sia karena Rani yang lolos seleksi. Anak baru lulus dan belum memiliki pengalaman apa pun.
Dan dari cerita Lura, Rani tahu kalau wanita itu juga masuk dalam daftar blacklist dibeberapa perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Shandika.
"Kasihan sih, tuh anak. Tapi etikanya nggak bisa bikin orang kasihan." gerutu Lura yang membuat Rani terkekeh. Wanita dan gosip memang sulit dilepaskan. "Pulang sana! udah nggak ada kerjaan kan, lo?" usir Lura seakan tahu kegelisahannya.
"Memangnya tidak papa ya kak, kalau Rani pulang?"
"Emangnya kenapa kalau lo pulang? kerjaan udah beres. Bos udah pergi. Jadi ya pulang aja."
"Rani takut digosipin lagi." menunjukan deretan gigi-giginya. "Nanti pasti ada gosip baru tentang istri baru direktur yang kerja seenaknya."
"Peduli amat! kalau ada yang berani ngatain lo kayak gitu, lo bales aja. Kalau pengen, nikah aja sama direktu! gampang kan?"
Rani hanya tersenyum. Mengikuti saran Lura dan mulai mengemas barang-barangnya. "Sebenarnya Rani diundang ke rumah sama Ibu Lintang. Makanya Rani ingin cepat pulang."
Lura membulatkan matanya dan membantunya berkemas. "Kenapa nggak bilang dari tadi!" omelnya. "Selain beliau istri pemilik perusahaan, beliau juga mertua lo. Jadi jangan sampai buat ibu Lintang nungguin, lo."
Lura bahkan sampai mendorongnya kearah lift berada. Padahal Rani yang akan pergi kerumah mertua, tapi Lura yang panik takut dipecat jadi menantu.
***
Setelah mampir membeli beberapa buah tangan, Rani kembali melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Shandika dengan diantar sopir kantor yang sudah Raja siapkan.
Karena belum memasuki jam pulang kerja, jadi jalanan tidak begitu padat. Membuat Rani sampai di kediaman Shandika sebelum petang.
Raja memang mengajaknya turun bersama. Tapi Rani menolak karena masih menunggu laporan hasil rapat dari Lura. "Maaf, mah. Tadi masih ada beberapa pekerjaan."
"Iya tidak apa-apa."
Rani kira ibu Lintang akan marah seperti dugaannya ditelepon pagi tadi. Tapi wanita yang masih cantik diusianya itu justru tak terlihat sedikitpun kemarahan dalam wajahnya.
"Kamu tunggu dikamar Raja saja ya? kamu pasti lelah. Istirahat saja dulu disana. Raja bilang dia ada urusan dulu ya, tadi?"
Rani diantar ke lantai dua. Tepat dikamar Raja yang bersebelahan dengan balkon depan. Lagi-lagi ruangan dengan nuansa abu-abu seperti rumah yang ia dan Raja tempati.
"Kamu istirahat saja. Nanti kalau makan malam sudah siap, mama panggil."
"Iya mah." jawabnya sungkan. Ia memang sudah wara-wiri datang kerumah ini. Bertemu dengan seluruh anggota keluarga. Sebelumnya Rani merasa biasa saja. Merasa akrab dengan mereka semua. Tapi entah kenapa sejak menyandang status sebagai menantu dalam keluarga ini, ia merasakan sedikit rasa sungkan dalam hatinya. Takut salah bertindak dan sebagainya. Perbedaan status sosial diantara mereka masih membuat Rani tidak percaya diri.
"Kalau mau mandi, di ruang ganti ada baju-baju untuk kamu yang sudah Raja siapkan." imbuh ibu Lintang mengantarnya masuk kedalam kamar. "Dan kalau perlu apa-apa, panggil saja bibi ya?" mengusap lengan Rani lembut dan pamit kembali kebawah.
Setelah mandi dan melaksanakan kewajibannya pada sang pencipta, Rani menatap penuh minat kamar Raja yang baru pertama kali Rani masuki. Tempat pribadi Raja, dimana pria itu banyak menghabiskan waktu dimalam hari.
Meja kerja, ranjang dengan ukuran king size dan segala perintilannya yang tak berbeda dengan kamar-kamar lainnya. Yang menarik perhatian Rani sejak masuk adalah satu lemari kaca yang berisi penuh dengan acrion figure. Rani baru tahu Raja menyukai hal-hal seperti itu. Ternyata suaminya masih manusiawi.
Ia amati satu persatu mainan dengan harga yang pasti membuatnya berpikir berkali-kali untuk membelinya. Dahinya terlipat menatap beberapa benda yang tidak sesuai dengan koleksi yang berada didalamnya.
Ada plester luka bekas pakai yang terleminating. Ada jepit rambut kecil berbentuk kupu-kupu yang terbingkai indah dalam kotak. Beberapa buah permen coklat chwey yang sudah tidak beredar dalam bingkai yang lain.
Yang membuat Rani terkejut adalah gelang manik-manik yang sangat ia kenali. Dengan manik berwarna biru dan tertera dua huruf R. Itu gelang pemberiannya saat usianya sepuluh tahun.
Dulu ada donatur yang datang ke panti dan membawa manik-manik untuk mereka bermain bersama, Rani terpikir membuat gelang untuk Raja. Untuk teman yang selalu terlihat sedih.
Tapi saat ia memberikannya, Raja menolak dengan melempar gelang itu. Raja bilang dia bukan anak perempuan yang memakai gelang seperti itu.
Rani langsung menangis, tentu saja. Mencari benda itu yang Raja lempar kesemak-semak. Tapi hingga sore gelang yang ia buat dengan sepenuh hati dan berharap bisa menghibur Raja itu tak kunjung ketemu. Remaja tanggung itu bahkan hanya berdiri diam melihatnya mencari gelang itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir.
Menyerah. Rani berdiri dan menatap Raja tajam."Rani benci kak Raja! kak Raja jahat!" untuk pertama kalinya ia marah pada Raja. Ia langsung berlari dan meninggalkan Raja begitu saja. Hingga beberapa kali Raja datang ke panti, Rani selalu menghindarinya. Tak pernah lagi mau menemui Raja.
Tak Rani sangka, benda itu ternyata berada disini. Masih dalam bentuk yang sama meski belasan tahun berlalu.
*
*
*