You're My Antidote

You're My Antidote
Hasil



Kehamilan masih menjadi sesuatu yang sensitif bagi rumah tangga Raja dan Rani. Bukan satu dua orang yang menanyakan apakah Rani sudah berbadan dua setiap kali bertemu. Entah mereka benar-benar peduli dan mengharapkan kebahagiaannya dan Raja, atau sekedar untuk mencari bahan gunjingan di belakangnya.


Rani bukannya tidak mengharapkan buah hati. Dia sama inginnya dengan sang suami. Tapi Rani tak pernah menunjukan rasa harapnya tiap bulan mendekati jadwal menstruasi. Sebaliknya, Rani akan bersikap biasa saja karena tak ingin membuat wajah Raja semakin sendu ketika kabar gembira itu tak kunjung datang.


Rani tidak ingin Raja semakin menyalahkan diri sendiri. Sudah banyak beban rasa bersalah yang Raja tanggung. Sudah banyak rasa sakit dan kecewa yang Raja terima. Jadi Rani tidak ingin semakin memperparah luka sang suami.


Masih dengan menutupi area atas miliknya, Rani turun dari pangkuan sang suami dan beralih untuk duduk bersisian.


Raja menyerongkan tubuh agar bisa menatapnya penuh. "Tamu bulanan kamu juga harusnya dua hari lalu kan, sayang?"


"Eh, iya? kok mas ingat? Rani malah lupa." tanya Rani dengan nada kaget. Sebenarnya ia ingat. Tapi bukankah itu baru dua hari? terlebih acara bulan madu, menjaga ibu Lintang di rumah sakit, ditambah dia sempat jatuh sakit dan berakhir menjaga Raja yang juga sempat demam. Semuanya cukup melelahkan. Dan kelelahan dan banyak pikiran juga bisa menjadi salah satu faktor menstruasinya terlambat.


"Kita kedokter ya?" ajak Raja antusias. Memang baru kali ini menstruasinya terlambat. Biasanya selalu rutin bahkan kadang maju satu hari.


Rani menggeleng. Bukan ingin mematahkan kebahagiaan Raja. Tapi Rani tidak ingin suaminya kecewa. "Bisa saja karena faktor lelah, mas. Dari bulan madu sampai kemarin cukup banyak yang kita lakukan dan pikirkan. Itu bisa mempengaruhi hormon."


Tak tega Rani melihat suaminya melemaskan bahu seperti itu. "Tapi apa salahnya kita coba sayang."


Tapi Rani tetap harus tegas jika tak ingin suaminya terluka. "Salah. Karena nanti mas terlalu berharap."


"Bukankah sudah ada tanda-tandanya? telat datang bulan, dada semakin besar."


Rani tetap menolak dan tidak ingin mereka berdebat. "Kita beli tespack aja dulu." ucapnya menengahi.


"Itu juga boleh" sahut Raja setuju.


"Tapi dengan syarat, mas tidak boleh terlalu berharap! Rani tidak ingin mas kecewa."


Raja mengangguk dengan senyum merekah dan membawanya kedalam pelukan. "Mas janji tidak akan kecewa kalaupun kali ini kita masih belum diberi kepercayaan."


Rani lega mendengarnya. Setidaknya dia tidak akan terlalu khawatir dengan kondisi Raja jika nanti hasilnya negatif.


Dengan penuh semangat, Raja berangkat sendiri ke apotek untuk membeli testpack. Memintanya menunggu di kamar dan dilarang untuk pergi kemana-mana hingga Raja kembali.


Rani hanya bisa menggeleng dan tersenyum melihat antusiasme sang suami. Berharap hasil yang mereka dapat tidak mengecewakan.


Ketika pintu kamar tertutup, tatapan Rani kebawah. Meraba dengan lembut perutnya yang masih rata. "Benarkah kamu sudah hadir di dalam sana, sayang?" monolognya.


****


Sesuai petujuk, seharusnya hasil sudah bisa didapat setelah satu hingga sepuluh menit. Karena Raja membeli beberapa yang memiliki waktu kerja berbeda-beda. Tapi sampai limabelas menit berlalu, Rani masih belum berani untuk melihat hasilnya.


Raja sudah beberapa kali mengetuk pintu toilet. Tak sabar untuk mengetahui hasilnya.


"Sayang.. Kenapa lama sekali?" suara Raja kembali terdengar. "Tadi petugas apoteknya bilang paling lama sepuluh menit. Dan ini sudah lebih dari itu."


Rani membereskan testpack tanpa melihat hasilnya. Biar nanti Raja saja yang melihat pertama kali.


"Kalau memang hasilnya negatif, tidak apa sayang. Aku tidak akan kecewa apa lagi marah. Kamu keluar saja. Pasti panas di dalam situ."


Rani keluar dari toilet dan membawa testpack di balik punggung. Dilorong kamar mandi dan toilet itu tidak ada orang lain selain mereka berdua.


"Kenapa tertawa? atau hasilnya positif?" semangat Raja kembali naik beberapa level.


Rani mengedikan kedua bahunya. "Rani belum lihat hasilnya." ia menyodorkan lima testpack di tangannya. "Mas saja dulu yang lihat."


Raja terlihat mengulurkan tangan dengan ragu. Mungkin Raja sama gugup, seperti Rani.


Raja terlihat tak percaya setelah melihat testpack pertama. Bergerak cepat melihat empat sisanya sebelum suaminya meluruh menumpukan tangan dan wajahnya di atas lutut.


"Mas. Kenapa?" tanyanya panik melihat Raja menangis sesenggukan. Ini kali keduanya melihat Raja menangis seperti itu. "Kan tadi mas yang bilang tidak apa kalau hasilnya masih negatif. Kenapa malah nangis begini."


Rani tak tega melihat suaminya menangis seperti itu. Ia berdiri di atas lutut dan memeluk suaminya yang masih belum mengucapkan kata apa pun.


"Tidak apa, mas. Mungkin ini belum waktu yang tepat untuk kita memiliki buah hati." hibunya menepuk lembut punggung suaminya berulang kali.


Setelah tangis Raja mereda, pria itu mengusap wajahnya dengan lengan jaket dan mengajaknya berdiri. Merangkul bahunya dan melangkah menuju kamar.


"Mas sudah tidak apa?" tanyanya masih khawatir setelah Raja menyuruhnya duduk di atas ranjang.


Raja mengangguk dan berdiri diatas lutut seperti yang tadi ia lakukan. Raja berdiri di antara kedua kaki Rani.


"Mas mau minum dulu?" tanyanya lagi karena Raja belum juga mengatakan apa pun.


Raja kembali hanya menggeleng dan mendekatkan wajah kearah perutnya. "Disini.." ucap Raja lirih dengan belaian lembut di perutnya. Nyaris berbisik. "Anak kita sedang tumbuh."


Rani membekap mulutnya tak percaya.


Jadi Raja menangis bukan karena hasilnya tidak sesuai harapan? Bukan karena Raja kecewa dan bersedih?


Tapi suaminya menangis karena bahagia setelah penantian berbulan-bulan. Setelah segala usaha yang mereka lakukan kini membuahkan hasil sesuai apa yang mereka harapkan?


Setetes air mata jatuh di pipinya. Disusul tetes lain yang semakin menderas. "Mas serius?"


Raja mengangguk dengan senyum lebar dan air mata yang kembali meluruh. Memberikan kembali alat tes kehamilan padanya. Dan pria itu memeluk pinggangnya dan melabuhkan ciuman diatas perutnya yang masih rata.


Rani tidak peduli lagi dengan apa yang tengah Raja lakukan di bawah sana. Kini ia tengah terpaku pada hasil yang ia lihat.


Rasa kagum, bangga, haru dan bahagia mewarnai hatinya. Debar jantungnya juga bertambah berkali lipat sampai ia merasa tak sanggup menahan rasa bahagia itu.


Tiga dari lima testpack menunjukan dua garis merah yang terlihat jelas. Sedangkan dua sisanya menunjukan satu garis merah jelas dan satu garis merah samar.


Masih ada sedikit rasa tak percaya bahwa ia tengah mengandung. Padahal ia sudah sering membayangkan momen seperti itu akan datang. Tapi rasanya tetap berbeda dengan kenyataan yang saat ini ia rasakan. Bahagianya begitu terasa nyata.


*


*


*