
Raja tidak membenci teman-temannya. Tapi Raja juga belum memaafkan mereka yang sudah merendahkan Rani, bahkan dihadapannya.
Bagaimana pun Rani adalah harga dirinya setelah mereka menikah. Jadi siapa pun yang merendahkan Rani sama saja menginjak-injak harga dirinya.
Rere datang di waktu yang sangat ia tak suka. Raja sangat membenci seseorang yang mengganggu kesenangannya. Terlebih mengganggu momen spesial dalam hidupnya. Ciuman pertama.
Mungkin tak bisa disebut ciuman pertama karena entah sudah berapa wanita yang mencicipi bibirnya. Selama ini Raja membiarkan teman "tidur"nya melakukan apa yang mereka suka. Termasuk menciumnya di bibir. Tapi tak sekalipun Raja membuka bibirnya dan membalas ciuman mereka. Dengan Rani pertama kalinya ia aktif dalam ciuman. Dan Rere merusak kesenangannya.
Raja mengumpat ketika Rani mendorongnya menjauh. Tahu jika mereka tidak dapat melanjutkan kegiatan yang mendebarkan hati itu. Apa Rere tidak bisa memilih waktu lain untuk bertamu? dan darimana wanita itu tahu rumah barunya ini?
Rere melenggang tanpa rasa bersalah sama sekali. Pakaian wanita itu yang minim membuatnya melirik Rani yang duduk diam disebelahnya. Takut gadis disebelahnya tidak nyaman dan berpikir yang macam-macam. Karena Rani pasti sudah tahu bagaimana hubunganya dengan Rere. Yang belum Rani tahu adalah ia yang sudah mengakhiri semuanya sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Rere menyapa dengan senyum sumringah. Wanita itu sudah akan mendekatinya. Mungkin akan mencium pipinya seperti biasa. Tapi sebelum itu terjadi, beberapa langkah Rere mendekatinya, Raja menunjuk sofa single yang ada disana. "Duduk disana, Re."
Wanita itu mencebik dan mendelik ke arah Rani. Membuatnya menghela napas. "Ada apa, Re?"
"Apa harus ada apa dulu baru gue boleh nemuin lo?" Rere mencibir. "Jadi istri baru lo itu ngelarang lo buat ketemu gue? segitu cepetnya lo dihasut sama dia? bahkan lo nggak ngabarin kita-kita tentang rumah baru lo ini."
Bukan niatnya merahasiakan rumah ini dari teman-temannya. Raja akan mengundang mereka dengan mengadakan pesta kecil-kecilan setelah urusannya dan Rani selesai. Setelah ia dan Rani puas menghabiskan waktu berdua. Tak menyangka Rere akan secepat ini mendapatkan alamat barunya. "Darimana kamu tahu rumah ini?"
"Jadi lo beneran mau merahasiakan rumah ini?!" Rere mendelik tak percaya padanya.
"Ada waktu sendiri untuk kalian tahu nanti."
"Lo nggak lupa kan, kalau nanti malam ada pertandingan?" Rere mengingatkan tentang pertandingan balap motor yang mereka rencakan. Tapi sebelumnya ia sudah bilang tidak akan ikut karena dihari ini seharusnya ia tengah berbulan madu dengan Rani.
"Aku sudah bilang tidak ikut."
"Tapi itu kalau elo bulan madu! lo kan nggak kemana-mana. Jangan buang-buang waktu lo dirumah untuk hal yang nggak berguna!" sekali lagi Rere menyentuh titik kesabarannya. Wanita ini memang selalu seenaknya sendiri. "Gue tahu lo nggak mungkin ngelakuin itu sama istri lo itu."
"CUKUP RE! Kamu tidak perlu ikut campur dalam urusan rumahtanggaku."
Rere tak terlihat kaget ketika Raja bentak. Karena ini bukan pertama kalinya wanita itu mendengar nada tinggi darinya. "Tunggu disini. Aku akan berganti baju."
Menoleh pada Rani dan diberinya gadis itu tepukan lembut di kepala sebelum naik ke lantai atas untuk berganti pakaian.
***
Rere tersenyum penuh kemenangan ketika Raja menyuruh wanita itu menunggu.
Rani sedikit kecewa karena Raja memilih pergi dengan Wanita itu. Tapi ia juga tak bisa bersikap egois dengan menahan kebebasan Raja.
"Mau kemana lo? Ada tamu bukannya buatin minum!"
Rani yang sudah berdiri dan menghadapkan tubuhnya pada tangga, menghela napas dan berbalik menatap wanita yang tidak ada sopan santunnya sama sekali itu.
"Nanti si embak yang akan bikinkan minum."
Menghadapi orang seperti Rere memang membutuhkan hati yang lapang. Tak heran Raja dulu menyebalkan. Teman-temannya modelan Rere semua.
Rani mengangguk. "Kamu benar. Tapi saya khusus melayani SUAMI saya. Bukan melayani orang-orang seperti kamu." kini Rani berani membela diri seperti yang Raja katakan saat itu. Ia memiliki sedikit kepercayaan diri setelah Raja menyatakan isi hatinya. Ia percaya Raja akan membelanya.
"Jadi istri aja bangga!" dalam ejekan itu, Rani bisa melihat tatap iri dalam mata Rere. Sebenarnya ia cukup kasihan pada wanita itu. Hanya ditiduri tanpa Raja bertanggung jawab. "Apa sih yang lo bisa banggain? paling juga Raja nggak puas sama pelayanan lo diatas ranjang!"
Mulut Rani berkedut. Meringis ngeri dalam hati. Apa Rere tidak malu berbicara masalah ranjang seperti itu? atau orang-orang yang sudah biasa melakukan kegiatan panas akan terbiasa juga untuk membahasnya tanpa sungkan?
"Asal lo tahu, Raja lebih suka cewek aktif di ranjang! kalau lo diem aja, gue jamin dia nggak bakal puas."
Bulu-bulu Rani merinding mendengarnya. Hal seperti itu masih tabu untuknya. Ia masih merasa jijik mendengarnya. Tapi sepertinya wanita yang tengah membuka aib didepannya itu tidak merasa risi sama sekali.
"Atau lo mau gue ajarin gaya apa yang Raja suka?"
Rani menggeleng. Ia tahan lagi. Rasanya ingin muntah membayangkan Raja dan Rere melakukan...
"Terimakasih untuk perhatian kak Rere. Tapi kalau kak raja suka dengan semua yang ada pada saya, untuk apa saya harus belajar dari kakak." Rani langsung pergi begitu melihat wajah memerah Rere yang menahan marah. "Mbaak.. Tolong bikinin minim buat tamu!" teriaknya. Hal yang tak pernah Rani lakukan pada asisten rumah tangganya. Ia hanya tidak sabar untuk meninggalkan ruangan itu dan menyusul Raja kekamar.
"Kak Raja mau pergi kemana?" tanyanya saat masuk kamar dan menutup pintu dibelakang punggungnya.
Raja sudah siap dengan celana denim, kaos dan jaket kulit hitam. "Ke arena. Jangan menunggu. Kamu tidur saja dulu nanti malam." jawab pria itu dengan mengikat tali sepatu boots-nya.
Sebenarnya Rani ingin menawarkan diri untuk ikut. Tapi mengingat teman-teman Raja yang tidak menyukainya dan Raja yang terjun ke arena balap. Sepertinya bukan tempat yang aman untuknya berada disana.
"Kenapa?" Raja yang sudah siap, berdiri dan mendekat kearahnya yang hanya diam bersandar pada pintu.
"Tidak. Kak Raja hati-hati ya? jangan sampai jatuh dan terluka sedikitpun."
Pria itu tersenyum. Hal yang masih belum biasa untuk Rani. Dan masih saja mendebarkan hatinya.
"Baru kali ini saya didoakan selamat saat pamit akan balapan. Biasanya mama selalu marah dan melarang pergi."
"Memangnya kalau Rani larang, Kak Raja tidak pergi?" tantangnya sedikit mencibir. Karena tahu pasti Raja akan tetap pergi.
"Pergi dong." tuh kan. Sudah Rani duga. "Balapan adalah hobi buat saya. Tapi kamu tetap yang lebih penting."
Rani meruntuki wajahnya yang mudah sekali memanas mendengar kata seperti itu. "Sudah sana pergi!" membuka pintu dan mendorong Raja keluar kamar. Tak ingin Raja menyadari jika dirinya tersipu. "Pokoknya harus pulang dengan selamat!"
"Hm. Aku pergi." pamit Raja mengusap puncak kepalanya dan benar-benar pergi.
*
*
*