
Rani tengah dimarahi dengan lembut. Atau lebih tepatnya dinasehati masalah kecerobohannya berlari dan menubruk Raja tanpa memikirkan calon anak mereka dalam perut.
Tapi alih-alih takut melihat kekhawatiran dan ceramah Raja yang tidak kunjung berhenti. Rani lebih tertarik mengamati penampilan suaminya kali ini yang tidak seperti biasanya.
Raja menggunakan celana bahan model Cropped pants warna putih tulang dan kemeja putih kasul tanpa kerah bergaris biru dengan lengan digulung.
"Sayaaang... Apa kamu dengar apa yang baru saja aku katakan?" Raja bertanya dengan gemas.
Mereka duduk di sofa ruang kerja Raja dengan dua cangkir teh dan biskuit.
"Mas nggak kerja? mau kemana? kenapa bajunya seperti itu?" tanyanya bertubi-tubi tak memberi jeda untuk Raja menjawab. Kebiasaan lamanya jika bertanya pada Raja. Karena dulu jarang sekali Raja menjawab saat ia bertanya. Sehingga seakan menjadi kebiasaan untuknya melontarkan pertanyaan lain setelah pertanyaan pertama.
"Jalan." sahut Raja dengan senyum mengembang. Melupakan omelannya pada sang istri sebelumnya. "Yuk! aku sudah siapkan baju ganti untukmu."
Raja sudah mengaitkan jemari mereka untuk mengajaknya berdiri. Tapi Rani menarik genggaman tersebut hingga Raja yang sudah setengah berdiri, kembali duduk.
"Kemana? Mas nggak kerja? Kerjaan masih banyak yang sudah dekat deadline! aku nggak mau ya, kalau hari ini kita jalan, konsekuensinya mas harus lembur untuk beberapa hari kedepan!" omelnya.
Bukan Rani tidak suka di ajak jalan-jalan. Karena sejujurnya ia memang butuh sesuatu untuk menyegarkan mata dan pikirannya selama Raja sibuk di kantor. Tapi jika pergi jalan-jalan akan semakin membuat Raja sibuk, Rani lebih baik bosan melihat suaminya duduk di ruang kerja selama beberapa jam dari pada harus di tinggal lembur di kantor.
Bahkan tanpa acara jalan-jalan pun, pekerjaan Raja sangat padat. Dan beberapa tanggal sudah Rani lingkari dimana Raja akan bekerja lembur. Entah untuk meeting dengan klien, meeting dengan tim produksi dan lainnya.
"Cuti sehari tidak akan banyak perubahan dengan jadwalku." Rani menepis tangan Raja yang mencubit hidungnya. "Kita tidak pergi jauh. Dan besok sudah bisa pulang. Jadi pekerjaanku hari ini, sudah aku minta untuk di geser hari senin. Dan untuk berkas-berkas penting yang harus aku tanda tangani, aku sudah meminta Musa untuk mengantarnya ke rumah."
Rani lega mendengarnya. Kehadiran Musa cukup membantu Rani dalam menyusun jadwal sang suami. Meskipun Rani masih memegang kendali terbesar kedua setelah Raja.
Rani menyambar paper bag berisi baju ganti yang Raja katakan. Berpesan pada Raja untuk meminta tolong sopir pribadi mereka mengantar bunga-bunga pemberian Raja ke rumah. Agar asisten rumah tangga mereka bisa menempatkannya di vas agar tidak cepat layu.
Hanya butuh waktu kurang dari lima menit Rani selesai berganti pakaian. Dress yang serasi dengan warna pakaian yang Raja kenakan. Dress floral berwarna baby blue.
***
Raja yang masih merahasiakan kemana tujuan mereka membuat Rani penasaran setengah mati. Mereka meninggalkan kantor setelah memesan banyak makanan untuk seluruh staf Raja sebagai ucapan terimakasih telah membantu proses kejutan sekaligus traktiran untuk ulang tahun Rani.
Raja bahkan mengirimkan langsung bonus ke m-banking masing-masing termasuk Musa yang sudah banyak berkontribusi.
"Wow." Rani terkejut begitu Raja melewati mobil yang biasa mereka gunakan dan membukakan pintu sebuah van. "Kita mau kemana sih, mas?" tanyanya masih penasaran. Hanya Raja balas dengan senyum misterius.
Rani yang duduk di kursi penumpang di samping Raja, terkagum-kagum melihat interior mobil bagian belakang yang sudah dimodifikasi menjadi van camping super mewah. Dimana toilet dan dapur mini tersedia di dalamnya.
"Mas beli mobil baru?'" Rani menoleh pada Raja yang tengah memundurkan mobil untuk keluar parkir.
"Pinjam." sahut Raja tak kehilangan fokus. "Tapi jika kamu suka. Kita bisa membelinya nanti." imbuhnya sangat enteng.
Rani menggoyangkan kedua tangannya. "Nggak perlu mas. Aku bukan sedang ngidam yang harus langsung kamu turuti."
Raja menoleh padanya dan tersenyum. Sebelah tangan mengusap ujung kepala Rani. "Tidurlah. Perjalanan kita cukup panjang."
Dalam kondisi antusias dan penasaran akan tujuan mereka. Mana mungkin Rani bisa memejamkan mata.
"Jadi semuanya ide siapa?" tanya Rani kembali penasaran akan hal lain. Karena bukan suaminya sekali dengan segala kejutan yang ada.
"Pantes." gumam Rani yang langsung mendapat protes dari sang suami.
"Musa hanya memberi ide tentang meminta bantuan orang kantor untuk memberikanmu setangkai mawar tiap orang. Aku bahkan sampai mencari di internet tentang arti dan makna bunga mawar. Jadi perubahan itu, aku sendiri yang buat. Juga kata-kata yang tertulis bahkan aku menulisnya langsung dari hatiku."
Rani tergelak melihat suaminya bersungut-sunghut menjelaskan.
"Dan acara ini, aku sendiri yang berinisiatif. Karena aku ingat di salah satu bucket list di buku harianmu, ada salah satu point tentang merayakan ulang tahun dengan berkemah."
Bola mata Rani membulat. "Mas baca buku harian Rani!" serunya. Bukan marah. Hanya kaget dan tidak menyangka saja. Terlebih ia malu dengan isi di dalamnya.
"Tidak." jawab Raja. "Aku tahu itu privasimu yang tidak boleh aku lihat meskipun mungkin namaku ada di dalamnya." ujar Raja dengan lirikan menggoda yang membuat Rani mendengus.
"Lalu bagaimana mas bisa tahu!"
Raja mengedik dengan fokus ke jalanan yang terbilang ramai lancar. "Hanya tidak sengaja melihat.Dan.... Terimakasih." ucapnya sendu.
"Untuk?"
"Karena ada namaku di salah satu list hidupmu, sayang." tatapan Raja terlihat sangat lembut dengan sebelah tangan yang menangkup pipi Rani.
Harusnya Raja yang terharu, bukan? Tapi kenapa mata Rani yang memanas mendengar Raja mengucapkan terimakasih hanya untuk mengetahui ada nama Raja dalam bucket listnya.
"Karena mas pantas bahagia." ucapnya sebagai balasan.
Ya. Salah satu list dalam hidupnya adalah mengembalikan kebahagiaan Raja. Idola yang ia kenal sejak kecil dimana dalam tatap matanya hanya ada kesedihan, rasa sakit juga kehampaan. Hidup yang tak berjiwa itu pernah membuat Rani berkeinginan untuk kembali mengisi jiwa Raja. Dan siapa sangka, begitu mudah jalannya untuk masuk kedalam kehidupan pria yang sangat sulit untuk ia gapai.
Dan kini. Sedikit demi sedikit. Dengan pasti. Rani bisa membawa kembali jiwa Raja yang telah lama mati. Membawa bibir yang kini selalu memanggilnya dengan lembut itu merekahkan senyum. Membawa tawa yang terdengar merdu dan menentramkan hati Rani.
Dibalik usahanya membuat Raja bahagia. Rani justru mendapatkan balasan yang luar biasa. Kebahagiaan yang berlipat-lipat hingga ia merasa tidak pantas untuk menerimanya.
"Jadi kita mau camping, mas?"
"Hm."
"Tapi bukan camping seperti ini yang Rani bayangkan."
Karena dalam bayangnya, hanya sebuah kemah biasa. Mendirikan tenda kain. Tidur di matras tipis. Masak dengan peralatan seadanya dan mendirikan api unggun.
Yang Raja bawa justru tempat tidur-yang Rani jamin sangat empuk. Sofa, toilet, dapur mini lengkap dengan kompor dan alat masak. Bahkan Rani melihat kantong belanjaan yang diserakan begitu saja di kaki sofa dengan lebel sebuah swalayan ternama.
Jadi jelas. Kemah versinya dan versi Raja sangat jauh berbeda. Begitulah Raja.
*
*
*