
Ulang tahun, empat bulanan yang di rayakan dengan berdoa bersama keluarga dan anak-anak panti, ulang tahun pernikahan yang di balut acara adat untuk tujuh bulanan. Rasanya kebahagiaan Rani tiada habisnya. Mengucap syukur setiap waktu pun rasanya Rani masih kurang untuk menyampaikan betapa besar ia berterima kasih pada sang pencipta yang menyempurnakan hidupnya setelah pernikahan.
Rani bahkan merasa ia tidak menginginkan apa pun lagi. Karena ia telah mendapatkan hal terbesar yang sangat ingin ia dapatkan sedari kecil. Keluarga yang menyayanginya.
Menikah dengan Raja, membuatnya mendapatkan segalanya. Suami yang menyayangi dan meratukannya. Keluarga suami yang menerimanya seperti keluarga kandung. Dan anak dalam kandungannya yang hanya tinggal hitungan minggu ia bisa mencium dan menimangnya. Sungguh, Rani merasa hidupnya telah sempurna.
"Apa tidak sebaiknya kamu di rumah saja?"
Rani sudah sering mendengar kalimat itu keluar dari mulut sang suami sejak acara tujuh bulanan. Termasuk pagi ini ketika Raja memasangkan flat shoes di kedua kakinya.
Sebenarnya Rani bisa memakai sepatunya sendiri meskipun sulit untuk melihat ke bawah yang terhalang perut besarnya. Tapi model flat shoes tidak membuatnya kesulitan. Dan Raja tetap memaksa memakaikannya setiap hari.
"Sampai akhir bulan." tegas Rani. "Mas sudah janji aku boleh kerja sampai akhir bulan." Rani menatap Raja yang masih berlutut di depannya yang duduk di ranjang kamar mereka.
Rani masih tidak rela meninggalkan kantor. Karena ia tidak tahu kapan akan kembali pada rutinitasnya itu. Sedangkan setelah bayinya lahir nanti, ia pasti akan sibuk merawat dan menyayangi anaknya. Setidaknya sampai anak-anaknya mulai bersekolah dan memiliki kegiatan sendiri di luar rumah. Baru saat itu mungkin Rani bisa tenang meninggalkan anaknya. Itu pun jika Raja tidak lebih dulu menghamilinya kembali.
"Tapi sayaaang.. Kamu bahkan harus menggunakan penyangga perut untuk memudahkanmu berjalan."
Rani mengusap perutnya yang besar. Perut yang mulai membuatnya kewalahan saat berjalan. Tapi Rani menikmati setiap prosesnya. Termasuk rasa tidak nyaman dalam masa kehamilan.
"Tapi kami masih baik-baik saja, mas." ucapnya di imbuhi rengekan kali ini. "Lagi pula, aku masih harus mengajari Dini setelah serah terima tugas kemarin."
Minggu lalu, Raja resmi di angkat sebagai wakil direktur utama. Raja yang pindah tugas ke lantai atas, tapi Rani yang sedih berpisah dengan teman-teman staf skretaris Raja sebelumnya. Karena hanya Musa dan Dini yang mengikuti Raja pindah.
Sebenarnya Dini anak yang pintar dan cakap. Hanya saja, Dini baru beberapa bulan bekerja disana dan langsung pindah ke bagian lain. Jadi butuh waktu lagi untuk Dini menyesuaikan diri.
"Ada Musa, sayaaaang... Dia bisa menghendle semua pekerjaan kantor termasuk mengajari Dini."
Rani menggeleng dengan keras kepala. "Mas sudah janji sampai akhir bulan. Jadi tepati janji itu."
Raja menghela napas dan membantunya berdiri. Tidak ada waktu untuk melanjutkan perdebatan karena Rani tahu Raja ada rapat direksi yang rutin diadakan setiap bulan.
Beruntung Rani sudah bisa memakan apa saja setelah prosesi tujuh bulan kemarin. Jadi Raja tidak harus memasak ditengah kesibukan yang semakin bertambah. Terlebih napsu makan dan berat badannya bertambah banyak setelah masa ngidamnya usai. Jadi Rani tidak akan sabar menunggu Raja memasak untuknya. Yang ada dia dan anak mereka akan kelaparan.
Hanya di hari libur Raja tetap memasak. Selain asisten rumah tangga mereka yang libur, Raja berkata tidak ingin anak mereka merasa sedih karena perhatian Raja berkurang. Sedetail itu Raja memikirkan perasaan anak mereka yang masih dalam kandungan.
***
Ponsel Raja terus saja berdering mendekati jam pulang kantor. Dari nomor yang sama yang sudah beberapa bulan ini Raja abaikan.
"Angkat saja mas." titah Rani yang duduk di samping Raja. Di sofa ruangan suaminya karena pekerjaannya sudah selesai dari satu jam yang lalu. "Siapa tahu penting."
"Kamu tidak keberatan?" Raja bertanya ragu.
Rani tersenyum dan mengusap pipi sang suami. "Rani minta mas jaga jarak dari Rere. Bukan untuk memutuskan dilaturahmi kalian." sepertinya ia perlu menjelaskan sekali lagi. "Rani tahu kalian sudah berteman lama. Untuk itu, Rani hanya minta mas hargain hubungan kita. Ada atau tidak ada Rani di dekat mas. Mas harus bisa menjaga kepercayaan Rani. Meskipun kalian berteman, kalian tetap harus menjaga batasan yang ada. Apa lagi mas sudah menikah."
Raja memang semakin meninggalkan teman-temannya. Hampir tidak pernah keluar malam kecuali ada salah satu temannya yang berulang tahun atau ada jadwal tanding.
Selain itu, balap motor adalah hobi Raja sejak muda. Rani rasa, melakikan kegiatan yang kita sukai bisa mengurangi stres. Termasuk Raja yang sudah sangat di sibukan dengan pekerjaan. Balap motor bisa kembali menyegarkan pikiran suaminya itu.
Setelah ia memberi izin. Raja mengangkat panggilan dari Rere. Tetap duduk di samping Rani tanpa menyingkir atau menutupi apa pun yang mereka bicarakan.
"Hallo."
Entah apa yang Rere katakan karena Raja tidak menggunakan mode pengeras suara. Tapi Rani pikir itu hal yang penting melihat Raja yang mengerutkan alis.
"Kenapa?"
"....."
"Kerumah sakit sekarang atau kau bisa mati!"
Rani yang tengah membungkuk mengambil buah di atas meja, seketika menoleh dengan kaget. Apa yang terjadi dengan perempuan yang sangat tidak menyukainya itu hingga membahayakan nyawanya sendiri.
"Kamu gila, masih memikirkan reputasi!" suara Raja meninggi. Mungkin tak habis pikir dengan apa yang Rere lakukan.
"Oke. Aku kirim orangku ke sana." ucap Raja kemudian menyugar rambutnya. "Mendekatlah ke pintu agar kau bisa membukakan pintu untuk orang yang ku kirim."
"....."
"Banyak hal yang harus aku ingat, tanpa harus passcode rumahmu menambahnya." setelah mengucapkan itu Raja langsung memutuskan sambungan.
"Rere kenapa, mas?" tanya Rani setelah Raja menghubungi Musa untuk ke ruangan.
"Ada orang yang menaruh obat perangsang di minumannya. Sedangkan dia sedang hamil tujuh bulan."
Rani membekap mulutnya. Meski ia tidak bersahabat dengan obat-obatan itu, tapi Rani yakin itu bukan kabar baik dan akan membahayakan kehamilan.
Hal lain yang membuat Rani semakin syok adalah kabar kehamilan Rere yang usianya sama dengan kehamilannya.
Ia menatap curiga pada sang suami. Karena setahunya mereka sering melakukannya bersama sebelum ia dan Raja menikah.
"Bayi itu bukan milikku!" tegas Raja dengan ekspresi tidak terimanya. "Terakhir kali aku melakukan itu dengannya, beberapa minggu sebelum kita tunangan. Aku lupa kapannya, tapi yang jelas sebelum kita bertunangan." imbuh Raja menjelaskan.
"Mas masih ingat rasanya? adegannya?"
Raja terpaku. Bukan karena ia tengah membayangkan adegan ia berhubungan badan dengan Rere. Tapi pertanyaan dari Rani yang membuatnya tak mampu berkata-kata. Karena ia yakin apa pun jawaban yang ia berikan, pasti salah dan berakhir dengan Rani mendiamkannya. Seperti yang sudah-sudah.
*
*
*