
Raja masih duduk di atas motor besarnya. Tepat di depan tenda pedagang kali lima penjual bubur ayam yang Rani arahkan dalam perjalanan mereka tadi.
Raja masih ragu untuk turun dan makan di sana. Meskipun dari yang ia lihat, tempatnya cukup bersih. Dan hampir semua bangku yang ada, terisi. Cukup untuk menjelaskan jika makanan disana enak.
Tapi bagi Raja, debu yang berterbangan yang mungkin saja hinggap di makanan yang mereka makan, menyusutkan keberaniannya untuk mengikuti sang istri yang sudah lebih turun dan melepas helm. Berdiri di sampingnya dan menunggu.
"Ayoo mas. Rani sudah lapar." Rani terlihat tidak sabar.
"Kamu yakin mau makan di sini?"
Rani mengangguk dengan sabar.
"Tidak ingin di restoran Bintang saja?"
Rani menggeleng masih dengan sabar. Tak terlihat ekspresi kesal yang ia lihat di rumah ketika menawarkan pilihan lain.
"Atau dibungkus saja. Kita makan di panti." tawar Raja mencoba peruntungan terakhir. Setidaknya jika dibungkus, mereka tidak perlu makan di pinggir jalan seperti itu kan?
"Lebih enak makan disini, mas. Masih hangat." Rani masih tak terlihat tidak sabar. Sebaliknya, wanitanya itu meraih tangannya dan menarik pelan untuk turun. "Disini makanannya enak, bersih. Mas tidak akan menyesal." imbuh Rani dengan berbisik. Mungkin takut pemilik warung mendengar dan merasa tersinggung dengan keengganan yang Raja berikan.
Untuk menghargai pemilik warung karena ia sudah sampai disana, juga untuk menyenangkan sang istri, Raja turun dan mengikuti istrinya memasuki tenda.
"Mas duduk disana saja. Biar Rani yang pesan." Rani menunjuk dua kursi kosong di pojok tenda. "Buruan, mas. Nanti ada yang nempatin." mendorong punggungnya ke arah yang sebelumnya Rani tunjuk. Sedangkan wanita itu kembali mendekati gerobak penjual untuk memesan pesanan mereka.
Raja mengucapkan permisi pada beberapa orang untuk bisa mencapai kursi kosong di pojok. Dia duduk di bangku kedua dan menyisakan yang paling pinggir untuk sang istri.
Dari tempatnya duduk, Raja masih bisa mendengar suara istrinya dan si pedagang.
"Apa kabar neng? meni lama baru kelihatan."
"Iya mang. Sekarang tinggalnya jauh dari sini."
Dari interaksi keduanya, Raja dapat melihat keakraban. Sepertinya Rani memang sering makan disana. Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari panti.
"Ini pesanannya biasa kan, neng?"
"Iya mang. Biasa tanpa daun bawang. Sambelnya banyakin dikit. Sama satu lagi nggak pakai kacang dan sambalnya sedikiiit saja mang."
"Buat akang yang biasanya, neng? biasanya si akang kan suka pedas."
Dahi Raja mengerut. Akang? Akang siapa? jadi Rani juga sering datang dengan pria lain ke tempat ini? jadi dia bukan pria pertama yang diajak makan di sana?
Ada rasa tidak suka mendengar fakta satu itu. Mungkin terdengar kekanakan. Tapi itulah yang Raja rasakan.
Rani terlihat tertawa dan menyangkal. "Bukan, mang. Saya datang dengan suami saya. Dia tidak terlalu suka pedas."
Raja mendengus. Siapa bilang ia tidak suka pedas. Jika dipaksa, Raja bisa kok makan pedas. Biasanya dia juga makan pedas untuk makanan tertentu.
Hah.. Moodnya pagi-pagi sudah berantakan hanya gara-gara makan di pinggir jalan dimana Rani pernah makan dengan pria lain.
Raja mengalihkan tatapannya dari sang istri ketika suara kursi disebelahnya berderit karena ditari oleh seseorang. Ketika ia menoleh, wanita berusia awal dua puluhan duduk di sana tanpa permisi sudah lengkap dengan semangkuk bubur dan teh hangat yang diletakan di atas meja.
Raja menggaruk kepalanya bingung. Bagaimana caranya ia mengatakan bahwa kursi yang baru saja diduduki wanita itu sebenarnya sudah ditempari seseorang.
Dia tidak pernah makan di tempat seperti ini. Raja biasanya makan di restoran dan tak jarang memilih ruang privat. Jadi dia tidak pernah mengalami situasi seperti ini. Dia tidak pernah berebut bangku dengan pengunjung lain.
"Maaf, Kak. Itu kursi saya."
"Tadi kosong kok. Nggak ada tas mbaknya juga disini. Iya kan mas?" wanita itu menatap pada Raja. Raja menatap istrinya dan wanita itu bergantian.
"Iya, tidak ada tas-"
"Tuh kan." sela wanita di sebelahnya sebelum sempat Raja menyelesaikan apa yang akan ia ucapkan. "Mbak cari tempat duduk lain saja. Tuh. di sana masih ada satu yang kosong." wanita itu malah menunjuk kursi yang cukup jauh darinya dan ditengah-tengah para laki-laki.
"Mentang-mentang ada cowok ganteng." Raja mendengar wanita yang sudah kembali melahap buburnya itu menggerutu lirih.
"Kita makan di rumah saja, sayang." ajak Raja yang sudah akan beranjak. Yang memang sudah tidak nyaman makan di sana. Apa lagi mengingat Rani sering makan dengan pria lain.
Wanita yang sudah kembali fokus makan terlihat menoleh tak percaya ketika mendengar apa yang ia katakan.
"Tapi buburnya sudah jadi, maas." Rani menunjuk seseorang membawa baki berisi dua mangkuk bubur dan teh hangat.
Raja menghela napas. "Maaf mbak. Tas istri saya memang tidak di situ. Tapi bukan berarti tempat itu kosong dan mbak bisa duduk tanpa permisi." ucap Raja pada akhirnya.
Lagi pula, mana Raja tahu kalau harus menaruh tas di sana agar orang tahu bahwa tempat itu sudah ada yang punya.
Wanita di sebelahnya terlihat salah tingkah. "Eh maaf mas. Masnya sih tadi nggak bilang kalau itu istrinya."
Raja menatap wanita yang memboyong makanannya ke meja lain dengan kerutan di dahi lengkap dengan hati yang menggerutu. "Memangnya harus mengenalkan Rani pada semua pengunjung? untuk apa?"
"Lihatin aja terus." sindiran dari istrinya membuat Raja terkekeh dan kembali duduk setelah sang istri duduk dan makanan sudah tersaji di atas meja. "Masih kurang cantik istri masnya? sampai ngelirik wanita lain?"
Raja semakin tergelak mendengar istrinya yang terlihat cemburu. "Mas melihat dia karena heran saja, kenapa jadi mas yang disalahkan wanita itu."
Mereka langsung melahap buburnya tanpa perlu mengaduk. Ternyata ia dan Rani memiliki selera yang sama dalam cara memakan bubur. Dan Rasanya cukup enak. Mengesampingkan debu-debu yang berterbangan yang sempat Raja bayangkan sebelumnya.
"Ya emang mas salah. Harusnya mas taruh tas mas di sini."
"Mas kan tidak bawa tas, sayang." ia hanya perlu membawa kunci motor, handpone dan dompet. Jadi tidak pernah merasa perlu membawa tas.
"Oh iya."
Raja hanya menggeleng melihat istrinya merenges.
"Jadi... Siapa laki-laki yang suka makan bubur dengan sambal banyak itu?"
"Eh? mas denger?"
"Pendengaran mas masih baik."
Rani tergelak dan meneruskan makan. "Siapa lagi kalau bukan Haikal. Kan teman Rani hanya dia. Teman sekolah atau kuliah Rani, tidak ada yang dekat sini juga."
Raja mengangguk. Seharusnya ia sudah bisa menebak jika lelaki itu Haikal. Memangnya siapa lagi lelaki yang akan menempel pada istrinya seperti perangko jika bukan mantan sahabat sang istri itu.
Mereka melanjutkan makan sebelum hari semakin siang. Karena mereka perlu berburu hadiah untuk anak-anak panti.
*
*
*