
Rani merasa linglung saat memasuki ruang rawat Haikal. Sudah berapa lama mereka tidak bertemu?
Terakhir kali bertemu dengan Haikal adalah tepat dihari pertunangannya. Bahkan sejak hari itu Haikal sangat susah dihubungi. Nomernya sering tidak aktif dan seperti menghilang. Pesan terakhir yang dikirim pria itu adalah hari dimana ia menikah dengan Raja. Pesan berisi ucapan selamat dan doa.
Dan kini bahkan ia hampir tak mengenali sahabat yang selalu menemaninya disaat apa pun.
Haikal begitu kurus dan tampak berantakan. Wajah tak terawat dengan bulu-bulu halus yang tak dicukur. Ada kantung mata dan lingkaran hitam disekitar sana.
"Haikal." gumamnya lirih masih tak percaya.
Wanita paruh baya dengan mata sembab mendekatinya. Memeluk dan meminta maaf padanya. Wanita yang dulu sangat menentang Haikal untuk bertemu dan bermain dengannya.
"Ibu tidak tahu jika kamu begitu berarti untuk Haikal." tangis ibu angkat Haikal. "Jika tahu akan seperti ini. Ibu tidak akan melarang saat dia meminta izin melamarmu dua tahun lalu."
Rani semakin menghela napas berat. Kenapa Haikal begitu bodoh mengharapkannya ketika bahkan sahabatnya itu tahu bahwa ia sangat mengagumi Raja.
Ia tahu Haikal menyukainya. Tapi ia tidak pernah berpikir Haikal akan melamarnya suatu hari nanti. Ia pikir Haikal akan memendam perasaannya hingga akhir. Hingga pria itu menemukan pengganti yang juga membalas perasaan sahabatnya itu.
Menikah dengan Haikal tidak pernah masuk dalam daftar keinginannya. Rani lebih ingin menikah dengan orang yang tidak hadir dari masa lalunya. Orang baru yang mampu membuat hatinya bergetar mengganti getarannya untuk Raja. Meskipun takdir kini berkata lain.
"Demam Haikal masih tinggi. Dia belum juga sadar sejak kemarin." ibu Haikal memberinya informasi ketika ia mendekat dan menggenggam tangan yang dulu selalu membantunya berdiri ketika jatuh.
"Kenapa bisa sampai seperti ini, bodoh?!" makinya dengan mata memanas. Bagaimana pun Haikal cukup dekat dengannya. Orang yang selalu mengkhawatirkannya. Dan kini justru membuatnya khawatir.
"Masih banyak wanita baik diluar sana, Kal. Kenapa malah seperti ini?" bisiknya yang sudah duduk di bangku samping brangkar tempat Haikal terbaring.
Tangan yang dulu kekar dan terlihat kuat, kini bahkan terasa sangat lemah saat ia genggam.
Sampai Raja datang menjemput, Haikal masih belum juga sadarkan diri. Tapi setidaknya demam pria itu sudah sedikit berkurang. Haikal juga tak lagi mengigau dan lebih tenang. Membuat Rani tak begitu berat meninggalkan sahabatnya itu pulang.
"Dia akan baik-baik saja." usapan lembut dikepala dan ucapan Raja membuat Rani sadar dirinya melamun.
"Apa kak Raja pernah seperti Haikal? Mabuk sampai tak sadarkan diri?"
Pria yang sudah kembali fokus pada kemudi itu mengangguk santai. "Tapi tidak separah itu. Paling hanya hangover dan pingsan saat malam dan sudah sadar pagi harinya."
Jawaban Raja semakin membuat Rani sedih. Membuatnya membayangkan berapa banyak minuman beralkohol yang Haikal minum hingga bisa membuat sahabatnya itu tidak sadarkan diri begitu lama.
Rani merasa bersalah. Kenapa ia tak menegaskan perasaannya pada Haikal dan membiarkan perasaan Haikal untuknya tumbuh sebesar saat ini.
Jika saja sejak ia sadar Haikal menyukainya, ia menegaskan bahwa mereka hanya sebatas sahabat dan tidak akan pernah menjadi lebih. Rani yakin ia bisa memupuskan harapan Haikal sebelum perasaan pria itu semakin berkembang.
"Kenapa kamu terus memikirkan lelaki lain bahkan didepan suamimu?" Raja kembali menegurnya ketika Rani kembali diam dan merenung.
"Ma-af kak." sesal Rani. Memang tak baik memikirkan pria lain setelah statusnya berubah menjadi seorang istri.
Tapi Rani tidak bisa untuk tidak memikirkan Haikal. bagaimana pun Haikal bisa seperti itu, tidak langsung karena dirinya.
"Haikal akan baik-baik saja. Percaya padaku."
Rani tersenyum menanggapi usaha Raja untuk meyakinkannya.
***
Melihat istrinya yang terlihat resah dan tidak fokus sejak mereka pulang dari rumah sakit, membuat Raja memutuskan untuk kembali melarang sang istri untuk bekerja.
"Kamu istirahat lagi saja. Nanti siang, kamu boleh ke rumah sakit lagi." semalam istrinya hampir tidak bisa tidur bahkan setelah mereka melakukan kegiatan favorit mereka diatas ranjang. Mata istrinya terpejam. Namun wanita itu bergerak gelisah mencari posisi yang pas.
Raja mengangguk. "Tapi kamu tidur dulu. Semalam kamu kurang tidur." ia belai pipi sang istri dan mengusap lingkaran hitam dibawah mata. "Aku tidak ingin kamu sakit. Atau mama akan semakin curiga aku menyiksamu."
Akhirnya setelah semalaman Rani terlihat murung, wanitanya itu bisa kembali tertawa.
"Aku berangkat dulu. Jangan lupa istirahat."
Setelah mengecup puncak kepala istrinya. Raja keluar kamar dan berharap Rani bisa beristirahat dengan baik.
***
Setelah makan siang, Rani berangkat ke rumah sakit seperti kemarin. Tentu saja sopir selalu bersiap mengantarnya sesuai instruksi Raja.
Senyum Rani mengembang mendapati Haikal sudah membuka matanya dan tengah duduk bersandar di atas brangkar. Berbanding terbalik dengan ibu angkat Raja yang masih terlihat sedih.
"Hai.." sapa Rani dengan ceria seperti biasa. Wajah ceritanya berubah sendu, tak menyangka Haikal akan memalingkan wajah dan mengacuhkannya. Membuat dadanya terasa teremas.
Berusaha mempertahankan senyumnya, Rani meletakan buah yang ia beli dijalan sebelum datang ke rumah sakit diatas meja dan duduk ditempat yang ia duduki kemari.
"Bagaimana keadaanmu, Kal?"
Haikal masih tak mau menatapnya. Memalingkan wajah kesisi lain Rani duduk. "Mau apa kesini?"
Pertanyaan Haikal membuat Rani tersenyum getir. Apa harus seperti ini akhir hubungan mereka? apakah tidak bisa jika mereka masih berteman seperti dulu?
"Tidak baik seorang istri menemui laki-laki lain. Bahkan jika aku memiliki istri, tidak akan aku biarkan dia menemui pria lain tanpa aku."
Rani menelan ludah membasahi tenggorokannya. "Kak Raja kasih izin kok buat kesini."
Rani dapat mendengar dengusan Haikal yang terdengar mengejek. Membuat Rani semakin sedih melihat sahabatnya sekarang membencinya.
"Pasti suamimu sedang menertawakanku. Mengizinkanmu datang hanya untuk mengejekku yang kalah dengannya."
Rani berusaha menenangkan diri. Berusaha untuk tidak menangisi perubahan sikap Haikal padanya. Sahabat yang dulu sangat menyayangi dan peduli padanya.
"Tidak ada yang menang atau kalah, Kal. Kamu sudah aku anggap sebagai kakak sejak kita masih tinggal bersama di panti. Bukan takdir kita untuk bersatu."
Haikal tertawa sarkas. "Andai kamu tidak begitu mengagumi Raja yang tampan dan kaya. Pasti kamu bisa sedikit membuka hatimu untukku. Kamu bisa sedikit melihat kearahku. Tidak selalu menjadikan Raja pusat dunia yang kamu lihat."
Rani diam membiarkan Haikal mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya. Tapi Haikal justru ikut diam dan merebahkan dirinya. Tidur memunggungi Rani.
"Lebih baik kamu pulang. Aku ingin istirahat."
"Kamu bisa istirahat. Aku akan tetap disini." Sampai kak Raja menjemput. Imbuh Rani dalam hati.
Haikal begitu keukeuh mengusirnya. Meminta bantuan ibu angkat dan mengancam memanggil keamanan jika Rani tidak juga pergi.
"Nak Rani, maaf. Sebaiknya kamu pulang dulu. Biarkan Haikal menenangkan diri dan menerima apa yang terjadi."
Sekali lagi Rani menatap punggung Haikal dengan sedih. Hari ini ia akan mengalah menuruti permintaan Haikal. Tapi besok ia berjanji akan datang lagi.
*
*
*