
Rani tak lagi merasa pusing ketika bangun di pagi hari. Tubuhnya sudah lebih terasa segar meski masih menyisakan sedikit lemas. Dan Raja masih melarang keras untuknya berangkat kerja. Jadilah di jam tujuh itu, ia masih mengenakan piyama. Berniat turun kebawah membantu menyiapkan sarapan yang biasanya sudah siap dan tinggal ia pindahkan saja ke meja makan. Bukan Rani malas turun atau rasa lemasnya yang menghalangi. Tapi ia lebih dulu menyiapkan keperluan suaminya untuk bekerja.
Tangannya sudah memegang hendle pintu ketika suara Raja menginterupsinya. "Mau kemana?" Raja sudah rapi. Hanya tinggal memakai dasi, jas dan sepatu yang biasanya Raja lebih memilih memakainya seusai sarapan.
"Turun kak. Mau lihat mbak siapin sarapan. Janji tidak bantu masak."
Raja menggeleng dan menunjuk penampilannya dari atas hingga kebawah. Rani mengikuti arah yang Raja tunjuk dan merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.
Terdengar suara helaan Raja ketika ia tak juga menemukan maksud suaminya itu. "Kamu mau keluar tanpa kerudung?"
Rani menyentuh kepalanya masih tidak mengerti. Semua asisten rumah tangga mereka perempuan, dan satpam yang berjaga hampir tidak pernah berkeliaran didalam rumah. Karena tugas mereka menjaga dari luar. Jadi Rani tidak merasa perlu memakai hijab karena biasanya pun seperti itu.
"Dibawah ada Adit, sayang." Raja mengingatkannya tentang keberadaan sahabat suaminya itu yang semalam dibawa pulang kerumah itu juga.
"Ooh iya." Rani terkekeh malu. "Rani lupa." Ia masuk kedalam ruang ganti dan mengambil kerudung instan berwarna pastel serta cardigan berwarna coral.
Mereka turun bersama. Dibeberapa anak tangga terakhir, Rani melambatkan langkahnya ketika mendapati Adit yang masih tertidur diatas sofa.
"Kok kak Raja tega sih, temannya disuruh tidur disofa?" ucapnya pelan, takut membangunkan Adit. Berbanding terbalik dengan Raja yang justru mendekati sahabatnya dan berusaha membangunkan Adit karena ia sudah akan berangkat bekerja.
"Mau tidur dimana lagi, sayang? masa mau tidur dengan kita." kata-kata Raja belakangan ini sering membuatnya malu. Karena Raja lebih sering memanggilnya sayang yang lebih sering membuat jantungnya jumpalitan.
"Salah kak Raja. Kenapa tidak ada kamar tamu."
"Iya. Besok-besok aku hubungi saudaraku untuk mengurangi ruang tamu dan menambah kamar disana."
Rani terkekeh melihat wajah mengalah suaminya. Karena bukan kali ini saja ia melayangkan protes tentang desain rumah yang tidak memiliki kamar tamu itu. Padahal Ibu Lintang beberapa kali berkunjung dan berkata ingin menginap seandainya saja dirumah itu ada kamar lain selain kamar yang ia tempati dengan Raja.
"Aduuh kepala gue!" Adit yang beberapa kali dibangunkan-oleh Raja-mengerang dengan memegang kepalanya dan beranjak duduk.
"Tolong ambilkan teh hangat, yank. Tawar saja." pinta Raja padanya yang langsung Rani turuti dan menjauh dari dua bersahabat itu.
Samar Rani masih bisa mendengar suara keduanya. Adit yang bertanya ada dimana karena pria itu belum pernah berkunjung kerumah baru Raja itu, hingga menanyakan detail cerita bagaimana Raja bisa membawa Adit kerumah alih-alih meninggalkan di sebuah hotel seperti sebelumnya.
"Aku takut kamu berbuat yang tidak-tidak." suara Raja lebih jelas terdengar ketika ia kembali dengan membawa cangkir besar berisi teh tawar yang Raja minta.
"Sialan! emang gue, elo! kalo mabok bisa macem-macem." gerutu Adit tak terima dan melempar bantal sofa yang hampir saja mengenai Rani kalau saja tak Raja tangkap.
"Nih minum." Raja mengangsurkan teh untuk Adit yang langsung ia ambil darinya. "Biar otakmu lurus sedikit."
"Berengsek emang lo ya, Ja! pala gue udah pusing malah lo becandain." meski menggerutu, Adit tetap menyambar teh yang Raja angsurkan dan meminumnya hingga tandas.
Rani tidak mengerti, apa orang mabuk sehaus itu atau teh itu untuk mengurangi pusing yang Adit keluhkan tadi.
"Ehh.. Hai Rani.. Sori ya, bikin ribut pagi-pagi." sapa Adit yang baru sadar akan keberadaannya.
"Dia memang biang onar." dukung Raja.
Adit berdecak dan menatap Raja tajam. Rani yakin kalau Adit belum menyadari keberadaannya, pasti Adit masih akan memaki Raja dengan kata-kata kasar ala keduanya.
"Rani lama nggak ketemu, makin cantik saja deh." puji Adit dengan gaya tengilnya seperti biasa. Meski Rani sempat merasa kehilangan sosok tengil itu ketika ia bertunangan dengan Raja. Dan kini Adit yang ia kenal, kembali. "Sayang udah jadi istri orang."
"Dia semakin cantik karena aura bahagia pernikahan." sahut Raja tak mau kalah. "Meskipun sudah cantik sejak dulu."
Adit langsung menegakkan duduknya. Bahkan pria itu menggosok matanya beberapa kali dengan menatap Raja horor. "Itu tadi beneran lo yang ngomong, Ja? atau kuping gue yang salah dengar?"
Rani tergelak sedangkan Raja mencebikan bibirnya. Memang, siapa pun tidak akan percaya Raja akan memuji wanita dengan kata-kata manis dan lembut seperti itu. Apa lagi padanya yang hampir semua orang juga tahu jika Raja selalu antipati terhadap kehadirannya sejak dulu.
"Wahhh kesambet apa lo, Ja? atau jangan-jangan bukan gue yang mabok, tapi elo?"
Raja memutar bola mata terlihat malas dan memilih merangkulnya meninggalkan Adit. "Lebih baik kita sarapan dari pada mengurusi manusia tidak tahu terimakasih itu." tapi Adit mengejar mereka ke meja makan.
Sarapan pagi itu lebih ramai dari biasanya. Maki-makian Adit ketika Raja meledek tentang perjodohan yang orang tua Adit lakukan. Godaan-godaan Adit padanya yang sering membuat Raja kesal dan camburu. Dan ia yang hanya bisa tertawa menyaksikan kedua pria dewasa yang tengah bertingkah seperti anak-anak itu.
"Ooh iya. Bunda ngundang kalian berdua buat makan malam dirumah." ucap Adit ditengah sarapan. "Semalam pas gue pamit mau ketemu lo, bunda titip pesan gitu. Katanya bunda hutang makan malam sama kalian."
Rani ingat bunda Adit yang mengajak mereka makan malam sebagai ganti karena tidak bisa hadir di pesta pernikahan mereka. Dan karena kesibukan masing-masing, mereka belum merealisasikan rencana tersebut.
"Kapan?" tanya Raja.
"Kapan saja kalian ada waktu. Kabarin aja katanya. Nanti bunda siapin makan malamnya. Bunda ngikut jadwal kalian aja, kapan free."
Raja mengangguk dan menatapnya. "Kapan, yank?"
"Lusa aja gimana, kak? jumat malam? biar weekend kita bisa ditempat mama."
Raja mengangguk setuju. Begitu juga dengan Adit yang siap menyampaikan pada ibunya.
"Salah tempat kayaknya gue dari tadi.. Gini bener jadi jomlo." rengek Adit memegang dadanya ketika Raja mencium dahinya saat akan berangkat kerja.
Mungkin Adit memperhatian gerakan-gerakan kecil Raja padanya seperti membersihkan sudut bibirnya dari sisa makanan. Mengambilkan minum saat gelasnya mulai kosong. Atau saat ia membantu Raja memakai dasi dan jas.
"Beruntung aku tidak mencium bibir istriku didepanmu."
*
*
*