
Rani sudah berganti baju rumahan dan mengeluarkan bahan yang akan ia masak. Rambutnya yang masih sedikit basah tergerai tanpa penutup karena mereka hanya berdua didalam rumah itu.
"Mau masak apa?"
Suara Raja mengagetkan Rani yang masih memilah sayuran didalam kulkas.
"Kak Raja ngagetin saja!" omelnya. "Memangnya kak Raja hantu sampai tidak ada suara langkah kakinya?" Rani masih menggerutu dengan bibir yang tertekuk. Meletakan semua bahan diatas meja konter dapur. Siap untuk memulai proses memasak.
Tapi pria yang ia marahi hanya mengangkat sebelah alisnya dan kembali bertanya menu makan malam mereka.
"Rani mau masak capcai sama pesmol ikan gurame. Kebetulan tadi pagi si embak bawa ikan gurame dari pasar. Jadi kita makan ini aja ya, kak?"
Raja mengangguk dan mengambil alih pisau ditangannya. "Kamu duduk saja. Biar saya yang memasak."
"Lho jangan!" cegah Rani dengan berusaha merebut kembali pisau yang sudah berada dalam kekuasaan Raja. Pria itu bahkan dengan cekatan memotong ikan menjadi dua bagian dan membalurinya dengan perasan jeruk nipis dan garam. "Kan Rani sudah janji akan memasak makanan spesial buat kak Raja. Kalau kak Raja yang masak, Rani ingkar janji dong. Lagian sejak kapan kak Raja bisa masak?"
Bukannya menjawab, Raja malah mengambil penggorengan dan menuangkan minyak cukup banyak untuk menggoreng ikan.
Pria itu juga menggeser sayur dan udang untuk bahan capcai kehadapannya. "Kamu boleh masak yang itu." ucap Raja yang tengah memotong mentimun dan wortel. "Pastikan kamu memotong dan mencucinya dengan benar."
Rani berdecak tapi melakukan apa yang Raja suruh. "Kenapa jadi kak Raja yang masak sih?" gumamnya sendiri.
"Bukannya kamu mau memasak spesial?"
"Iya. Rani yang masak buat kak Raja! bukan kak Raja yang masak!"
"Bukankah jika saya yang masak lebih spesial? saya bahkan tidak pernah memasak makanan apa pun untuk orang lain. Dan kamu akan menjadi yang pertama."
Wajah Rani memerah. Tapi sebisa mungkin ia menutupinya dengan kembali bertanya.
"Berarti spesialnya buat Rani. Bukan untuk kak Raja! lagi pula sejak kapan kak Raja bisa masak?" melihat dari cara memegang pisau, terlihat jelas jika Raja biasa melakukannya.
"Spesial juga bagi saya. Karena akan ada orang lain yang mencoba apa yang saya masak." jawab pria itu dengan acuh. Tak merasa telah berhasil membuat hati Rani semakin gelisah. "Saya biasa masak kalau sedang stres atau banyak pikiran. Meski memasak sendiri dan dimakan sendiri. Tapi itu cukup jitu bagi saya untuk terapi emosional. Tak hanya ketika sedang banyak pikiran dan emosi tapi berhasil ketika sedih."
Dengan perasaan hangat, Rani terpaku menatap Raja. Untuk pertama kalinya Raja menceritakan tentang bagian dari hidup pria itu padanya. Hal yang biasanya hanya Rani sendiri yang bercerita tanpa ada balasan yang sama dari Raja.
Rani membuka semua rahasia dan cerita dalam hidupnya pada Raja. Tapi Raja bagikan brangkas yang terkunci dengan amat baik tanpa ada cela untuk ia melihat isi didalamnya.
"Tapi setiap orang memiliki caranya sendiri untuk menterapi diri. Dan saya lebih suka memasak. Dimana saya bisa fokus dan menikmati hasil tak hanya dimata tapi juga hati bahkan lambung saya ikut senang karena terisi dengan baik."
Rani tertawa mendengar lambung ikut terbawa dalam cerita Raja.
Entah apa yang terjadi pada pria yang kini bersetatus sebagai suaminya itu, hingga kini bisa membuka diri seperti ini.
Selanjutnya mereka kembali memasak. Raja menyelesaikan pesmolnya dan Rani juga melajukan hal yang sama dengan capcai.
Rani tetap seperti biasa. Menceritakan apa saja yang terjadi dalam harinya. Dan kini Raja tak hanya diam seribu bahasa. Pria itu sudah mulai sedikit menanggapi ceritanya meski masih terkesan acuh.
Acara makan malam mereka pun terasa cukup nyaman. Dan Rani tidak menyangka Raja tak hanya bisa memasak, tapi cukup pandai. Bahkan rasa masakan Raja terasa lebih enak dari masakannya yang seorang perempuan.
"Apa kamu menonton berita?"
Rani menghentikan gerakan sendoknya dan terdiam beberapa saat. Tahu kemana arah obrolan mereka selanjutnya.
Sejujurnya ia tak mengharapkan penjelasan apa pun dari Raja. Rani tak siap dengan sebuah kenyataan. Ia tak tahu harus menanggapi seperti apa jika apa yang Raja katakan itu tulus, tak hanya pura-pura. Tapi ia lebih tidak bisa menerima kenyataan jika Raja benar-benar hanya bersandiwara.
Rani yakin dengan perasaannya pada Raja. Ia mengagumi Raja. Menyukai setiap apa yang ada pada diri pria itu. Meski perasaannya hanya sebatas mengidolakan. Tapi rasa kecewa pasti tetap ada jika ia tahu Raja hanya bersandiwara didepan kamera. Karena sejujurnya ia juga ingin dicintai dan dilindungi seperti apa yang ia dengar dari Raja dalam konferensi pers itu.
"Bagaimana Rani bisa menonton berita kalau internet dan televisi semua tidak bisa Rani gunakan!" gerutunya kemudian.
"Jadi kamu belum menonton berita?"
Raja yang biasanya selalu terlihat tenang dalam segala situasi, kini Rani dapat melihat sedikit keresahan dimata Raja. Hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Mungkin Raja takut membuatnya terluka jika mengatakan yang sesungguhnya. Mungkin pria itu tengah menyusun kata yang tepat untuk menjelaskan agar ia tak salah paham.
Rani juga sadar diri untuk tidak serakah menginginkan hati Raja. "Sudah. Dipanti." jawabnya tak lagi berselera makan.
"Apa yang saya katakan-"
"Kak Raja tenang saja. Rani tahu itu demi kebaikan kita terlebih untuk Rani sendiri.." potongnya menatap Raja dengan senyum yang ia coba paksakan.
".. Rani tahu apa yang kak Raja katakan dan kak Raja rasakan itu berbanding terbalik." imbuhnya. "Jadi mari kita sama-sama anggap bahwa itu tidak pernah terjadi."
Raja menatapnya tak suka setelah ia selesai bicara. "Bagus kalau kamu tahu." pria itu meletakan sendok dan garpunya lalu berdiri. "Saya sudah selesai makan. Kamu tidur duluan saja. Ada yang perlu saya kerjakan."
Sikap Raja kembali dingin dan acuh. Meninggalkan Rani tanpa menoleh lagi.
Rani menurunkan bahunya. Menutup wajah dengan kedua tangan yang bertumpu diatas meja.
Mungkin ia memang salah tidak memberi kesempatan Raja untuk menjelaskan. Tak heran pria itu marah. Tapi ia juga belum siap dengan segala kemungkinan. Memilih menganggap apa yang Raja katakan tidak pernah ia dengar pun bukan hal yang mudah baginya.
Hati dan pikirannya kacau. Tapi akan lebih kacau lagi jika nanti ia tahu kebenarannya.
Acara masak dan makan yang sebelumnya terasa menyenangkan kini berubah drastis. Masakan yang terasa enak kini bahkan tak sanggup ia telan. Nasi dan lauk di piring Raja juga masih tersisa.
Tak sanggup melanjutkan makan, Rani membereskan meja dan membuang sisa makanan yang ada. Mencuci setiap piring dan peralatan yang kotor.
Rani menyalahkan dirinya sendiri hingga semua berakhir seperti ini.
*
*
*