
Dani mengumpulkan semua anggota klub motor mereka untuk pesta malam ini. Tak ada yang berani absen karena pesta kali ini untuk Raja.
Sebenarnya Raja enggan membawa Rani ke pesta yang teman-temannya adakan. Minuman keras dan berada ditengah teman-temannya yang mabuk bukanlah pilihan baik untuk seorang wanita. Kecuali mereka siap melemparkan diri mereka ke atas tempat tidur.
Ia dan Rani sudah menikah. Jadi takan ia biarkan satu pria pun untuk menyentuh wanitanya. Secara naluri, ia menggenggam tangan Rani kemanapun ia melangkah. Sesekali merangkul dan menjauhkan Rani dari pria yang berniat kurang ajar.
Baru jalinan jemari mereka terlepas ketika Rani memasuki toilet dan mereka menuju lantai atas setelahnya.
Diatas Raja bisa lebih menurunkan kewaspadaannya. Karena yang berada disana hanya teman-teman yang bisa ia anggap dekat. Jadi ia tak perlu merasa khawatir mereka akan melewati batas pada Rani.
Tian adalah orang pertama yang menyambut Raja dan Rani dengan heboh. Mempersilahkan mereka duduk ditengah Adit dan Rere.
Diantara sofa yang ditata melingkar, hanya tempat itu yang kosong. Atau mungkin mereka memang sengaja?
Raja mendudukan Rani disebelah Rere. Ia disisi satunya bersebelahan dengan Adit.
Obrolan mereka berjalan ringan. Seputar jadwal balapan juga tour Jakarta-Bali yang mereka rencanakan sejak dua bulan lalu. Tapi semakin lama obrolan mereka semakin tidak mengenakan dan memojokan Rani.
"Gue masih penasaran, Ja. Alasan lo nikahin nyonya? bukannya lo doyannya tipe-tipe kayak Rere?"
Tubuh Rani memang tak berisi dibeberapa bagian seperti Rere. Rani tidak bisa disebut seksi meski tidak terlalu kurus juga.
Tapi Raja memilih diam dari pada menanggapi mereka. Tak ada untungnya bagi teman-temannya untuk mengetahui alasan dibalik ia menikahi Rani.
"Kalo lo, Ran? apa alasan lo nikah sama nih anak?" tanya temannya yang lain pada Rani yang pasti membuat gadis itu merasa tak nyaman.
"Apalagi alasan anak panti menikahi Raja kalau bukan masalah uang." celetuk temannya yang lain yang membuat Raja menggetarkan giginya.
Tahu apa, mereka tentang Rani? Mereka hanya sebatas pernah melihat tanpa pernah saling mengenal. Dan ia tidak suka ada orang lain merendahkan Rani.
Raja awalnya membiarkan saja teman-temannya berulah. Ingin tahu sampai mana Rani bisa membela diri. Namun nyatanya Rani hanya diam menunduk ketika direndahkan oleh mereka.
Kenapa Rani begitu berani melawannya? Begitu cerewet ketika berhadapan dengannya? Tapi begitu lemah dihadapkan dengan orang lain.
Raja mencekal tangan Adit yang akan berdiri. Tahu apa yang akan sahabatnya itu lakukan. Ia merasakan tubuh Adit yang menegang dan tangan mengepal ketika pembicaraan tentang Rani di mulai.
Sebagai gantinya ia yang berdiri dan menyentak Rani bersamanya.
"Kamu sudah menjadi nyonya Raja Adhitama Shandika. Berapa kali harus saya katakan! Angkat dagu kamu dan lawan mereka! jangan biarkan mereka semua merendahkan kamu!"
***
Rani sudah tidak nyaman sejak awal. Dan semakin tidak nyaman begitu tahu hubungan Raja dan Rere yang sesungguhnya. Bertambah tidak nyaman lagi begitu teman-teman Raja menuduhnya menginginkan harta Raja.
Apa mereka pikir ia bisa menolak pernikahan ini?
Apa mereka pikir hidupnya begitu mudah?
Dan karena hidupnya yang tak mudah itulah ia merasa biasa mendengar cemoohan mereka. Meski sakit tetap saja ada.
Sejak sekolah ia sudah terbiasa disebut anak haram. Anak yang dibuang dan sebagainya. Meski sakit, ia tetap berusaha membiasakan diri. Karena bisa apa lagi jika kenyataannya orang yang harus bertanggung jawab dan menjelaskan tentang kehadirannya didunia ini bahkan tak jelas keberadaannya.
Bukannya Rani tidak bisa membela diri seperti yang Raja katakan. Ia juga ingin meneriaki mereka dengan kata yang sama menyakitkan. Mengatakan mereka tidak tahu apa-apa tentang dirinya!
Rani tak menyangka Raja akan berada dipihaknya. Mengingat selama ini ia hanya dianggap gadis berisik dan pengganggu oleh Raja. Gadis yang tidak diinginkan untuk memasuki kehidupan pria itu.
"Suka atau tidak, Rani sekarang adalah istriku! Pendapat kalian tidak penting karena aku yang menjalaninya." Rani masih menatap Raja dari samping dengan tidak percaya. Sejak kapan pria disebelahnya ini peduli padanya?
"Dan jika kalian masih belum bisa menghargai keputusanku. Aku tidak akan bergabung disini lagi."
Banyak protes yang terdengar dari teman-teman Raja. Tapi diabaikan begitu saja karena Raja sudah menarik tangan Rani meninggalkan ruangan dan rumah itu.
"Aku bisa sendiri kak." cegahnya ketika mereka sampai disamping motor Raja dan pria itu berniat memasangkan helm kekepalanya.
"Pakai yang benar jika ingin selamat!"
Rani tak menyangkan ucapan Raja adalah peringatan untuk keselamatannya. Karena begitu ia naik keatas motor dan kuda besi itu dihidupkan, mereka melesat seperti panah angin.
Raja membawa motor besar itu dengan kecepatan gila-gilaan. Telinganya berdengung melihat pepohonan dan rumah-rumah melesat begitu cepat kebelakangnya.
Menahan rasa pusing, Rani memejamkan mata dan berdoa semoga ia masih diberi nyawa. Ia masih ingin membahagiakan ibu panti yang selama ini merawatnya.
Sebuah tangan besar menuntun tangannya yang mencengkeram erat pinggiran jaket Raja dengan kuat beralih melingkarkan tangannya ke perut pria yang tengah dikuasai emosi itu. Karena takut, Rani tak menolak dan justru semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala di punggung lebar milik Raja.
Rani tahu Raja penguasa jalanan. Raja trek-trekan dan balap liar yang kini sudah lebih taat peraturan dan memilih balapan disirkuit.
Tapi Rani tidak menyangka Raja segila ini. Ia bahkan merasa nyawanya tertinggal didepan rumah tempat pesta tadi. Kini yang tersisa hanya raga yang memeluk tubuh Raja dengan erat. Berharap bisa kembali berkumpul dengan nyawanya nanti.
"Mau sampai kapan kamu memeluk saya seperti ini?"
Rani membuka matanya secara perlahan begitu mendengar suara Raja yang amat jelas.
Ternyata mereka sudah berhenti entah sejak kapan.
Menatap sekitar, Rani menemukan sebuah rumah mewah meski tak sebesar kediaman keluarga Shandika. Tapi desain rumah itu langsung membuatnya jatuh cinta.
"Kita dimana kak?" tanyanya beranjak turun dan melepas helm.
"Rumah kita." Raja melakukan hal yang sama dan menyerahkan kunci motor pada penjaga rumah.
"Rumah kita?"
"Saya juga ingin memiliki rumah sendiri. Yang bisa ditinggali untuk saya sendiri." jelas Raja memasuki rumah dan mempersilakannya. "Rumah ini baru jadi beberapa minggu lalu sebelum kita dipaksa menikah."
"Kak Raja sudah tahu kita mau menikah?"
"Tidak." jawaban cepat Raja membuatnya mencebik. "Saya membangun rumah ini untuk diri saya sendiri. Dan hanya ada satu kamar dirumah ini karena saya tidak berniat menikah dan memiliki anak. Dan karena kita sudah menikah, maka rumah ini bukan hanya rumah saya. Tapi rumah kita."
*
*
*