
Rani mendapat banyak perhatian dari para sesepuh keluarga Raja malam itu. Dibalik rasa takutnya untuk mendapat penolakan dari keluarga suami melihat asal usulnya, Rani justru mendapat keluarga yang begitu menerimanya. Menyayanginya seperti anak sendiri. Menerimanya seperti keponakan dan sepupu kandung. Membuat Rani merasa bahwa ia bukan orang lain di dalam keluarga Raja.
"Permisi Tuan, Nyonya. Makan malam sudah siap." wanita paruh baya dengan santun menginterupsi perbincangan hangat mereka.
"Anak-anak dimana bi?" Pak Rasya berdiri dan mengajak mereka untuk makan malam. Menggandeng ibu Lintang dengan penuh kasih sayang.
"Tuan muda dan nona-nona sudah ada di meja makan, Tuan."
Rani menjadi yang terakhir sampai di ruang makan. Suaminya sudah menyambutnya dengan senyuman dan membukakan kursi untuknya duduk.
"Makasih mas." bisiknya.
Rani dibuat panik ketika ia sudah akan duduk, Raja mencuri cium di pipi. Sekelebat. Hanya kecupan yang bertahan satu detik.
Rani seketika menatap orang yang ada di meja makan. Takut ada yang melihat.
Dan benar saja. Mereka menatapnya dengan senyum menggoda. Karena tanpa Rani sadari, interaksinya dan sang suami sudah menjadi pusat perhatian keluarga.
"Tidak perlu malu, Ran. Kami mengerti." ujar mama mertuanya dengan kerlingan yang membuat pipi Rani terasa semakin menghangat.
"Kamu sih, mas." desis Rani ketika sang suami sudah duduk di sampingnya.
"Memangnya apa yang aku lakukan?" tanya Raja dengan wajah tak berdosa. Pria itu malah bergerak mengambilkan nasi kedalam piring milik Rani, juga ikan gurame yang sudah menarik perhatian Rani sejak ia mendekati meja makan.
"Rani bisa sendiri, mas." usahanya mengambil alih pirih di gagalkan dengan Raja yang menjauhkan piring itu dari jangkauannya.
"Duduk, diam dan makan dengan tenang."
Jika tak ingat ia sedang berada di tengah keluarga Raja. Rani pasti sudah berdecak keras dan melingkarkan bola matanya. Raja memberinya perhatian dengan kalimat dan nada suara yang terdengar menyebalkan.
Rani kembali dibuat kaget ketika sendok yang Raja pegang langsung menghalau sendok dan garpu milik Maina yang sudah akan mengambil gurame asam manis yang memang hanya ada satu. Tapi dengan porsi dan ukuran yang Rani rasa cukup untuk di makan oleh dua atau tiga orang. Karena banyak makanan pendamping lainnya.
"Iiih Kak Raja!"
"Mau apa kamu?"
"Ya mau makan, lah! kak Raja pikir aku mau debat dengan presiden?!" Maina membalas tatapan sengit kakak sepupunya.
"Aku memasaknya untuk istriku. Kamu di larang memakan ini!" Raja lebih ngotot menggser alat makan milik Maina yang diseberang Rani.
Sebagai gantinya, Raja mendekatkan mangkuk salad sayur kehadapan Maina. "Anak gadis harus bisa menjaga bentuk tubuhnya."
"Papiiii!" Maina langsung mengadu pada papinya-om Rafi yang hanya menggeleng dan terkekeh melihat anak dan keponakannya saling usil.
"Lagian kak Maina ngapain sih, gangguin orang bucin." ujar Bintang di sebelah kiri Rani. Menggeleng heran tingkah usil sepupu perempuannya itu. "Kalau memang kita di ijinkan makan masakan kak Raja, sudah dari dulu kali dia masak."
"Kalau Maina mau, ambil saja. Itu terlalu banyak untuk aku makan sendiri." ujar Rani merasa tidak enak hati.
Perdebatan masalah makan masih berlanjut hingga beberapa saat. Para orang tua hanya tersenyum dan menggeleng melihat tingkah anak-anak mereka. Sesekali ikut menimpali dan bergabung dalam keseruan.
Setelah suasana lebih kondusif dan fokus dengan makanan di piring masing-masing, Papa mertua Rani bertanya dengan serius pada Raja.
"Kamu mau hadiah apa untuk calon anakmu, Raja?"
Setahu Rani, setiap anak yang lahir memang langsung di warisi perusahaa. Seperti tante Selina yang memiliki saham terbesar di Ss.tv, Om Rafi pemilik saham terbesar Rr.tv, dan Raja yang mewarisi saham milik almarhum papinya yang memiliki saham terbesar di Jo.tv.
Begitu juga dengan Raja dan sepupu Raja yang lain. Raja mewarisi Shand Bank. Maina dia memiliki firma hukum besar yang sengaja di bangun dan dihadiahkan untuknya karena menolak mewarisi perusahaan. Maira yang mewarisi Shand Land-beberapa taman bermain yang tersebar di hampir seluruh Indonesia. Sedangkan Bintang sama seperti Maina. Bintang di bangunkan hotel dan Restoran yang memiliki beberapa cabang di pulau Jawa dan Bali.
Meskipun mereka sudah diwarisi perusahaan masing-masing, papa mertuanya tetap mewajibkan anak dan cucunya bekerja di kantor pusat. Karena papa mertuanya tidak ingin anak dan cucunya bersaing meraih kesuksesan. Tapi Pak Rasya ingin anak dan cucunya bekerja sama untuk meraih kesuksesan itu. Saling bahu membahu hingga Shandika corp bisa tetap jaya. Seperti itu kira-kira yang pernah Rani dengar dari Raja.
"Terserah papa saja." sahut Raja terlihat tidak berminat.
Raja memang tidak begitu tertarik dengan saham. Buktinya Raja hanya mengandalkan gajinya sebagai direktur operasional untuk kehidupannya selama ini. Tak sekalipun Raja menyentuh uang hasil deviden saham yang dimiliki.
"Dari Shand Finance, mana yang sedang berkembang?" pertanyaan Pak Rasya beralih pada Maira.
"Shand bank yang kak Raja miliki, Life Assurance dan e-money juga tidak kalah berkembang, Opa."
Rani akui, Maira lebih bisa serius dalam bekerja di banding saudari kembarnya. Tak heran Shand Finance berkembang pesat dibawah pimpinannya.
"Bagaimana Raja? kamu mau ambil yang mana?" tanya Pak Rasya sekali lagi. "Atau mau Shand Network. Karena kalau Shand Digital sepertinya devidennya tidak terlalu tinggi."
Rani melihat suaminya menarik napasnya dalam dan memejamkan matanya sejenak sebelum menatap Pak Rasya. "Anak Raja bahkan belum ada sebesar biji kacang. Jadi Raja rasa, kita belum perlu memikirkan hadiah untuknya."
Pak Rasya berdecak dan menatap tak suka. "Kenapa kamu selalu mengabaikan pemberian papa, Raja? kamu bahkan belum mengambil hasil deviden yang kamu terima satu sen pun sejak awal."
"Karena Raja belum membutuhkan itu, pah." jawab Raja. "Dan Raja rasa, anak Raja juga tidak membutuhkanya!" imbuh Raja tegas tanpa meninggikan suara.
"Sudah...Sudah.. Jangan membuat makan malam yang menyenangkan menjadi canggung." ibu Lintang melerai ketika di rasa baik pak Rasya dan Raja tidak akan ada yang mau mengalah. "Lebih baik kita lanjutkan makan malam. Masalah itu bisa kita bicarakan lagi nanti atau setelah anak Raja lahir."
Rani menatap sang suami dari samping. Entah apa yang membuat Raja terlihat sangat tidak suka. Tapi Rani juga tidak ingin ikut campur karena merasa itu bukanlah ranahnya. Bukan teritorinya.
Lagi pula Rani juga cukup terkejut ketika pak Rasya menanyakan ingin hadiah apa untuk anaknya. Terkejut karena yang ditawarkan bukanlah seperangkat perlengkapan bayi. Tapi perusahaan besar penuh tanggung jawab.
Rani sudah terkejut ketika Raja bercerita tentang saham keluarganya. Tapi tak mengira anaknya juga akan mendapatkan hal yang sama bahkan sebelum lahir.
*
*
*