
Raja hanya bisa menyaksikan dari jauh tubuh istrinya yang berjongkok disis makam salah satu dari orang tuanya. Meletakan mawar putih di atas pusara mami dan mawar merah di pusara papi sesuai apa yang Raja minta.
Raja memberi maminya mawar putih karena ia tak pernah merasakan cinta dari sang mami. Seperti arti bunga itu sendiri. Mawar putih yang berarti hati yang tak mengenal cinta. Seperti ia yang tak mengenal sosok mami apa lagi cinta dari beliau.
Sedangkan untuk papi, Raja tidak akan pernah melupakan besarnya cinta pria itu padanya. Pada anak yang lahir dari sebuah kesalahan. Tapi papi selalu berusaha menebus kesalahan yang sudah beliau perbuat dengan cara memberikan cinta sebanyak mungkin untuknya.
Rani terlihat menunduk dalam dan berdoa. Berdoa untuk orang yang tak Rani kenal. Orang yang belum pernah Rani temui dan bahkan tidak tahu siapa Rani.
Tapi ia sebagai anak, justru hanya melihat itu dari jauh. Tak bisa melakukan apa yang Rani lakukan saat ini. Tubuhnya tak bisa ia bawa mendekat. Ia masih belum mampu.
Tapi bahkan, meski bukan di dekat pusara langsung pun, ia tidak pernah mengirim doa untuk keduanya.
Ia mungkin bukan anak yang berbakti. Ia terlalu menyesali kedua orang tuanya yang telah meninggalkannya sendiri. Ia terlalu kecewa pada takdir. Dan ia terlalu banyak dosa untuk berani meminta pada Tuhan.
Ia bahkan tak yakin, apa Tuhan mau mendengar doa dari seorang pendosa sepertinya. Yang sudah berpaling begitu lama akibat rasa kecewanya.
Dan ketika Rani mengajaknya kembali mendekat pada sang pencipta, ia sungguh malu melakukannya. Raja malu pada Tuhan atas kesombongan yang ia lakukan beberapa tahun kebelakang. Begitu percaya diri bahwa ia tak membutuhkan keberadaan Tuhan. Ia sudah tersesat terlalu jauh. Ia tak yakin apa ia bisa kembali. Dan jalan mana yang bisa membawanya kembali.
"Kak Raja baik-baik saja?" suara Rani menariknya dari segala yang berkecamuk dalam kepalanya. Istrinya itu sudah berdiri diatas lutut tepat di hadapannya yang masih duduk diatas kursi.
Tatapan mata Rani terlihat sangat khawatir. Padahal ia sudah merasa lebih baik. Meski butuh beberapa saat untuk menghilangkan gambaran-gambaran dan suara yang membuatnya takut.
"Sudah lebih baik."
"Kalau begitu kita pulang?" tawar Rani yang terlihat ragu dan ingin memintanya kembali mencoba.
"Aku..... Biar aku mencobanya sekali lagi." putus Raja. "Kalau memang aku tidak kuat, kita langsung pulang."
"Kak Raja yakin?"
Tentu saja tidak. Baru berniat saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan. Tapi ia harus mencobanya. Menguji seberapa kuat dirinya bertahan. Jika ia belum sembuh, bagaimana bisa ia melindungi Rani dan berani memimpikan anak.
Raja menatap kebawah. Pada jari mereka yang bertautan erat ketika ia dan Rani sudah berdiri bersisian.
"Mas pasti bisa." bisik Rani lirih dengan panggilan barunya. Rani bahkan terlihat menyembunyikan wajah setelah memberinya semangat.
Raja cukup terkejut dengan panggilan Rani yang berubah. Tapi ia tak memiliki energi lebih untuk menggoda istrinya itu. Karena energinya tengah ia kumpulkan untuk memberanikan diri melangkahkan kaki menuju dua makam bersisian yang belum lama Rani sambangi.
Tersenyum dan mengangguk setelah menarik napas dalam, Raja mulai melangkahkan kaki. Terasa berat untuk beranjak. Keringat dingin kembali bermunculan saat malam gelap itu kembali muncul dalam pikirannya.
Teriak pertengkaran orang tuanya. Bisik-bisik orang-orang yang mengasihaninya ketika kedua orang tuanya di makamkan. Semua kembali berkelebat seperti film dalam kepalanya.
Hatinya menghangat mendengar bagaimana Rani mengalihkan pikirannya. Mungkin jika orang lain hanya akan mendorongnya dengan kata-kata penyemangat atau bersimpati dan mengajaknya pulang. Tapi Rani lebih memilih menguasai apa yang tengah berkecamuk dalam pikirannya.
"Perasaan Rani bukan lagi suka seperti fans pada idolanya. Meskipun selamanya kak Raja tetap idoa Rani." Rani mengayunkan tautan tangan mereka kedepan dan belakang dengan ceria. Berbanding terbalik dengan perasaannya yang suram. "Tapi idola yang berhasil Rani miliki."
Rani tersenyum lebar kearahnya. "Keren kan Rani?"
Untuk kali pertama setelah menginjakkan kaki di makam, Raja bisa terkekeh. "Iya. Kamu kere" Raja bahkan tak sadar ketika langkahnya tak lagi terasa seberat sebelumnya. Langkahnya lebih ringan meski makam kedua orang tuanya semakin dekat.
"Jelas dong." Rani bergaya seolah mengibaskan rambut dengan tangan kirinya yang kosong. Padahal istrinya itu kini berhijab yang semakin membuat istrinya terlihat teduh dan semakin anggun. Kalau cantik, dalam keadaan apa pun dan apa pun yang istrinya kenakan, akan tetap terlihat cantik bagi Raja. "Mana ada coba yang seberuntung Rani."
"Jadi... Cinta?"
Rani mengangguk dengan senyumnya yang tak pernah membuat Raja bosan. Senyum yang selalu mampu membuatnya terpesona.
"Sejak kak Raja menawarkan keluarga idaman untuk Rani. Sejak saat itu Rani membiarkan hati Rani untuk jatuh cinta pada kak Raja." Rani menggigit bibir bawahnya dengan malu. "Rani tidak lagi menahannya seperti belasan tahun yang sudah berlalu. Rani selalu memasang dinding tinggi untuk mencegah hati Rani jatuh pada kak Raja. Rani membiarkan hati Rani bertindak semaunya. Dan bukan hal yang sulit untuk jatuh cinta pada kak Raja."
"Bukannya aku pria brengsek yang suka bergonta ganti teman tidur?"
Rani mengedik seolah tak peduli. "Aku tahu kak Raja melakukan itu karena kak Raja merasa sepi. Karena kak Raja butuh teman atau pelampiasan atas kekecewaan yang kak Raja alami."
"Bukan." tolak Raja dengan asumsi Rani. "Meski tak sepenuhnya salah. Tapi alasan utama aku bermain perempuan itu kamu."
"Rani?"
"Iya. Karena aku ingin kamu menjauh dan jijik padaku. Agar aku memiliki alasan untuk menjauh darimu. Karena aku tidak bisa menawarkan masa depan yang mungkin kamu inginkan saat itu."
"Jadi...." Rani terlihat syok dan tidak menyangka alasan yang ia miliki selama ini sebagian besar adalah wanitanya itu.
"Kita bahas nanti. Dan aku ingin kamu membiasakan diri untuk memanggilku mas seperti yang kamu gunakan tadi saat memberiku semangat. Bukan hanya ketika kamu membujukku saja."
Rani terlihat salah tingakah. Tapi tidak memberikan bantahan apa pun karena kini mereka sudah berada di depan makan orang tuanya. Dimana disana tertera tanggal kematian yang artinya tanggal saat kejadian itu terjadi.
Melihat makam orang tuanya, Raja merasa kejadian belasan tahun silam itu semakin nyata adanya. Karena bukti dan sisa dari kejadian mengerikan yang ia saksikan adalah makam kedua orang tuanya itu. Sisa dari rasa trauma yang ia rasakan.
*
*
*