You're My Antidote

You're My Antidote
Kritis



Rani menolak pulang dan ikut menunggu di rumah sakit. Padahal Raja sudah berkata akan menyerahkan semuanya pada Musa dan Adit. Tapi justru Rani yang kekeh berada di sana. Setidaknya hingga mereka bisa memastikan kondisi Rere.


Selain takut istrinya kelelahan, Raja juga takut istrinya nantinya trauma melihat bagaimana kondisi Rere tadi. Ia takut akan berdampak tidak baik untuk kedepannya.


Tapi sisi keras kepala Rani yang satu itu sulit untuk Raja tolak. Terlebih jika mata sang istri yang sudah berkaca-kaca. Hingga Raja hanya bisa duduk merengkuh istrinya dari samping.


Rere menjalani operasi kelahiran prematur. Raja dan Radit sibuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa Rere juga bayi dalam kandungan teman mereka itu.


"Kamu yakin tidak tahu ayah dari bayi itu?" tanya Raja pada Adit yang berjalan hilir mudik di depan pintu ruang operasi. Terlihat khawatir dan tidak tenang menunggu pintu ruangan itu terbuka.


"Lo tahu sendiri, Rere susah di hubungi dan nggak pernah ikut kumpul lagi beberapa bulan ini. Hanya untuk nyembunyiin kehamilannya itu."


Memang mereka tidak ada yang tahu tentang kehamilan Rere. Jika bukan karena Adit yang memaksa masuk ke dalam apartemen Rere bulan lalu, mungkin hingga hari ini baik Raja dan Adit tidak akan tahu.


"Lalu yang menaruh obat dalam minuman itu?"


Adit berhenti dan menatap Raja tajam. "Lo yang dihubungin duluan sama Rere aja nggak tahu, gimana gue bisa tahu, Nyet!"


Mereka sama-sama diam dan memikirkan siapa orang terdekat Rere selama ini. Karena tak biasanya Rere menyembunyikan hubungan yang tengah di jalinnya itu.


Ditengah keheningan itu, ponsel Rere yang berada dalam genggaman Adit berdering.


"Malvin?" gumam Adit menunjukan layar ponsel yang berkedip itu.


Raja memintanya untuk mengangkat panggilan itu dan mengeraskan suaranya.


"Ta! kamu dimana?" terdengar suara bas yang mendesak dan sarat kekhawatiran di seberang. "Ke-kenapa ada darah di kamar?"


"Lo orang yang bertanggung jawab dengan apa yang terjadi dengan Rere atau orang yang bertanggung jawab dengan kehamilannya?" suara Adit penuh penekannan. Rahangnya memgetat.


Raja tahun betapa marahnya Adit tentang apa yang menimpa teman mereka itu. Bahkan Adit sampai mengamuk saat tahu Rere hamil bulan lalu.


Hidup Rere tidak pernah mudah. Hingga perempuan itu bisa keluar dari rumah dan memiliki pekerjaannya sendiri. Selama ini hanya ia dan Adit yang Rere miliki. Dan Adit yang selalu mati-matian melindungi Rere. Sedangkan Raja hanya mengikuti temannya saja. Itu pun sudah tidak lagi setelah ia menikah. Karena ia memiliki hati yang harus ia jaga.


"Renata kenapa? saya yang bertanggung jawab atas kehamilannya."


"Datang ke rumah sakit Harapan Ibu. Rere lagi berjuang ngelahirin anak lo!" tanpa menunggu jawaban dari orang bernama Malvin, Adit langsung memutuskan sambungan.


***


Malvin Sanjaya?


Raja dan Adit tidak pernah menyangka Rere berhungan dengan pria seperti Malvin. Apa lagi sampai hamil.


Siapa yang tidak tahu Malvin. Pemilik saham terbesar di salah satu perusahaan jasa keuangan terbesar. Yang menduduki perusahaan terbesar pertama di Indonesia.


Dan yang Raja tahu, Malvin sendiri sudah memiliki istri. Bahkan pernikahan Malvin beberapa tahun lalu menjadi berita hangat di setiap media. Tak terkecuali di semua stasiun televisi yang keluarga Raja miliki. Pernikahan bisnis yang di dengungkan menjadi pernikahan paling serasi sepanjang tahun.


"Pak Raja?" Malvin yang mendekat dengan langkah mantap dan stelan kerja yang masih rapi itu menyapa Raja dengan terlihat bingung.


"Saya teman Rere dan ini Adit. Teman Rere juga yang membawanya kemari." Raja beberapa kali bertemu Malvin di jamuan bisnis.


Malvin menyalami Raja dan Adit bergantian. Bertanya dengan tidak sabar. "Apa yang terjadi dengan Renata? dan kenapa dia melahirkan? bahkan usia kandungannya masih tujuh bulan."


"Rere pendarahan setelah ada orang jahat yang memasukan obat perangsang di minumannya." jawab Adit yang masih belum menunjukan sikap ramahnya. Terlebih saat tahu pria yang bertanggung jawab atas kehamilan Rere adalah pria beristri.


"Apa?! si-siapa yang melakukannya?"


"Kami masih belum mengetahuinya. Tapi orang-orang saya tengah menyelidikinya." karena Rere tidak mau mengatakan siapa orang yang telah mencelakainya.


"Anda siapanya pasien?" tanya dokter pada Malvin.


"Saya ayah dari bayi itu, dok. Bagaimana keadaan ibu dan bayinya?"


"Bayinya berhasil diselamatkan. Tapi karena ini kelahiran prematur jadi harus dilakukan perawatan khusus hingga dia bisa bertahan mandiri. Dan untuk ibunya masih dalam masa kritis."


Malvin terlihat kalut dan melemas rambut kepalanya. "Boleh saya menemui mereka, dok?"


"Untuk bayinya boleh. Untuk ibunya akan kami pindah ke ruang ICU dulu."


Tak berselang lama, brangkar berisi Rere yang tidak sadarkan diri dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya di dorong keluar dan di pindahkan ke ruang ICU.


Rani yang tak tega menenggelamkan wajahnya di dada Raja. Istrinya itu menangis dalam diam.


"Kita pulang ya?" bisik Raja. Tangannya tak berhenti mengusap punggung sang istri.


"Rani mau lihat bayinya dulu, mas." Rani menjauhkan wajah dan menatap Raja. Memohon.


Raja ragu. Ia takut istrinya semakin kepikiran. "Kita pulang saja ya? kita bisa datang menjenguk mereka lain kali."


Rani menggeleng tegas. "Rani mau lihat bayi itu dulu maaas."


Raja mengalah dan membawa Rani dengan kursi roda yang ia pinjam. Tak ingin sang istri semakin kelelahan.


Mereka hanya bisa melihat dari dinding kaca. Dalam inkubator, bayi perempuan yang masih sangat renta itu terlelap dengan banyak kabel yang menempel pada tubuhnya. Tubuh yang hanya di balut popok.


Rani kembali menangis. Menangis tergugu.


Mungkin sebagai seorang ibu, perasaan Rani ikut hancur melihat bayi yang begitu kecil harus menderita rasa sakit.


"Kita pulang ya?" bujuk Raja lagi. "Kamu juga butuh istirahat sayang."


"Tapi bayi itu, mas." Rani menunjuk anak Rere dengan tangis yang tak kunjung berhenti.


"Sudah ada tim medis yang akan menjaganya, sayang. Kita disini pun tidak bisa melakukan apa pun."


Setelah Rani setuju, Raja menghubungi Musa untuk menyiapkan mobil. Raja menodorong kursi roda sang istri menuju pintu keluar.


"Doain Rani bisa mempertahankan anak kita hingga waktu yang pas ya, mas."


"Pasti, sayang. Mas selalu mendoakan kalian."


Jika ia berada di posisi Malvin, ia pasti akan merasa sangat hancur. Dan ia janji akan menjaga anak dan istrinya itu dengan baik.


"Dan kamu juga tidak boleh egois. Jangan memaksakan diri untuk terus bekerja. Kasian yang di dalam sini." Raja mengusap perut besar istrinya.


"Iya, mas. Hanya sampai akhir minggu ini dan Rani akan berpamitan dengan orang-orang kantor."


"Janji?" Raja mengulurkan jari kelingkingnya yang Rani sambut dengan hal yang sama dan mengaitkannya.


"Janji."


*


*


*