
Diusianya yang sudah menginjak seperempat abad, tentu saja sebuah pernikahan pernah terlintas dibenaknya.
Tak jarang ia merasa iri setiap kali ia menghadiri pernikahan teman sekolah, kuliah atau teman kerja.
Membayangkan betapa bahagianya mereka dapat bersanding dengan orang yang mereka cintai. Saling tatap penuh damba dan aura kebahagiaan yang terpancar begitu kuat.
Rani juga menginginkan sebuah pernikahan dikehidupannya.
Menemukan pria yang tepat. Pria yang ia cintai dan juga mencintainya. Pria yang akan memperlakukannya dengan baik di sepanjang kehidupan rumah tangga mereka. Membangun sebuah keluarga yang tak pernah ia miliki.
Tak perlu pria tampan dengan wajah supermodel. Tak perlu jutawan dengan segudang aset. Ia hanya menginginkan lelaki biasa yang dapat menerima ia apa adanya. Mau berjuang bersama dan dapat menjadi partner hidup yang baik.
Tapi ketika hari ini tiba, ia justru tak merasakan kebahagiaan yang selama ini ia bayangkan akan dirasakan setiap mempelai.
Hari ini ia akan menikah dengan Raja yang memiliki wajah supermodel dengan kekayaan yang tak akan pernah dapat untuk dibandingkan dengan dirinya.
Pernikahan yang melebihi ekspetasinya.
Tapi hatinya tak merasa berbunga-bunga karena mereka tidak saling mencintai. Meski ia akui jantungnya tak berhenti berdebar kencang sejak ia terbangun sebelum subuh tadi.
Semalaman ia tak bisa tidur nyenyak memikirkan hari ini. Ia takut semua tidak akan berjalan dengan baik. Terutama setelah pernikahan.
Ia takut Raja akan menyesal telah menikahinya yang jelas-jelas jauh dari wanita idaman seorang Raja.
Terutama, ia takut akan terluka jika sampai hatinya jatuh pada Raja.
"Cantiknya." puji Maira-sepupu Raja-yang akan menjadi pendampingnya menuju ballroom tempat ijab kabul di adakan sekaligus resepsi.
Disaat-saat seperti ini, Rani merindukan memiliki keluarga.
Alangkah senangnya seandainya ibu kandungnya bisa menemani ia disaat seperti ini. Menyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja. Menyakinkan dirinya bahwa ia akan bahagia dengan pilihannya ini.
Seandainya ayahnya yang akan menjabat tangan Raja secara langsung.
Seandainya ibu yang akan menuntunnya menuju pelaminan.
Tapi lagi-lagi ia hanya bisa menerima takdir hidupnya. Karena tidak ada gunanya membayangkan kata 'seandainya'.
Karena tak ada ibu ataupun ayah dalam hidupnya.
"Dijamin kak Raja nggak akan melepaskan kamu malam ini." timpal Maina. "Apa lagi setelah kemarin kita spa. Aku yakin kak Raja akan semakin lengket." imbuh Maina mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Maira juga menyetujui perkataan kembarannya itu.
Kemarin pagi Rani memang dijemput dua saudari kembar itu untuk melakukan spa khusus pengantin. Dari pagi hingga sore mereka habiskan disalon kecantikan untuk memanjakan diri.
Perawatan super mewah yang tak mungkin bisa Rani nikmati dengan gajinya sendiri. Karena ia merasa sayang jika gaji yang ia dapatkan dengan susah payah setelah berhari-hari memeras tenaga dan pikiran dihamburkan untuk hal semacam itu. Lebih baik ia gunakan untuk menyenangkan adik-adik pantinya.
Tapi bukan pertama kali pula ia datang ketempat spa dan menikmati perawatan yang ada.
Beberapa kali Raja memberinya voucher spa gratis yang setiap bulan atau bahkan dua minggu sekali pria itu dapat dengan cuma-cuma dari temannya yang merupakan owner tempat spa itu sendiri.
Tak hanya satu voucher. Terkadang dua atau tiga voucher sehingga ia bisa mengajak teman kantornya yang lain.
"Kalian terlalu berlebihan." tolaknya dengan pendapat kedua kembar itu. "Kalian bahkan lebih cantik." balasnya memuji.
Maira dan Maina memang dua tahun diatasnya. Tapi Maina menolak dipanggil kakak ketika pertama kali mereka kenal dulu. Dan diikuti Maira yang juga berkata akan lebih akrab jika mereka saling memanggil nama.
Ketika mereka masih memperdebatkan siapa yang lebih cantik diantara mereka, ibu dari si kembar masuk keruang make-up dan mengajak mereka keluar.
Mereka keluar dari ruang make-up menuju pintu besar menuju ballroom.
Dari layar LCD TV besar yang terpasang disebelah pintu, Rani bisa melihat Raja dan seorang penghulu saling berjabat tangan.
Ia juga dapat mendengar dengan jelas ijab kabul yang terjadi didalam sana.
Jantungnya yang ia rasa sudah berdetak kencang, kini semakin kuat hingga ia rasa akan meledak. Hatinya berdesir hangat mendengar Raja menyebut namanya dalam ijab kabul dalam satu tarikan napas.
Benarkah kini ia sudah resmi menjadi istri seorang Raja Adhitama Shandika?
Pria yang selalu ia kagumi tapi tak pernah berani ia impikan?
Tangannya begitu berkeringat. Ia merasa dadanya sesak seakan tak dialiri oksigen dengan baik meski gaun yang ia kenakan tidak begitu ketat. Bahan yang digunakan pun tidak berat dan nyaman untuk dikenakan dalam waktu yang lama. Jadi jelas, yang bermasalah adalah dirinya.
"Barnapas, sayang." ibu Maira dan Maina mengingatkannya. Ia baru sadar ternyata ia menahan napas selama ijab kabul berlangsung. Pantas saja ia merasa sesak. "Tante juga dulu seperti kamu." imbuh wanita itu dengan senyum menggoda kearahnya.
"Kak Raja keren banget, sih." Maira terkagum-kagum dengan Raja yang baru selesai melakukan ijab kabul dan berdoa yang dipimpin penghulu. "Zain nanti pasti lebih keren."
Rani terkekeh ketika Maina mendorong kepala saudaranya sendiri.
"Makanya kalian juga cepat menikah. Jangan kerja terus. Mami kan juga ingin cucu."
Rani semakin terkekeh ketika baik Maina dan Maira sama-sama memalingkan wajah mendengar gerutuan ibu mereka.
Pembawa acara memerintahkan Rani untuk memasuki ballroom. "Ayo sayang." ajakan ibu sikembar kembali membuat jantungnya yang tadi mulai berdetak normal, kini kembali berdetak semakin kuat.
Rani tak berani mengangkat tatapannya. Ia hanya berjalan mengikuti Maina dan Maira yang mengamit lengannya.
Langkah demi langkah semakin menambah cepat dekat jantungnya. Membuatnya khawatir dengan kondisi jantungnya yang begitu bekerja keras.
Sesampainya di samping meja yang digunakan untuk ijab kabul, Raja menarik kursi untuk ia duduki.
Mereka menandatangani berkas-berkas pernikahan dan saling menukar cincin.
Ia masih belum berani mengangkat tatapannya. Pun saat ia diminta mencium punggung tangan Raja oleh penghulu.
Baru ketika penghulu meminta Raja mencium keningnya, ia mengangkat tatapan dengan kaget dan pandangan mereka bertemu.
Dalam mata yang selalu terlihat kelam itu, Rani melihat ada yang berbeda. Meski ia tak tahu apa artinya. Karena Rani yakin itu bukan sorot bahagia. Mana mungkin Raja bahagia dengan pernikahan ini.
Semakin Raja mendekatkan wajahnya, perlahan Rani menutup mata. Ia meyakinkan diri bahwa Raja melakukannya hanya untuk formalitas. Mencegah hatinya untuk terbawa perasaan.
Bibir Raja yang terasa dingin menempel sempurnya didahinya. Bibir yang terasa lembut dan berangsur menghangat.
Waktu seakan berhenti berputar.
Kecupan yang hanya terjadi beberapa detik itu terasa sangat lama bagi Rani. Dan bisikan dari Raja membuat jantungnya meloncat terjun keperut. "Assalamu'alaikum istriku."
*
*
*