
Tak hanya para asisten rumah tangga yang diliburkan. Tapi Rani juga tak diizinkan bekerja selama satu minggu.
Berpetualang dalam mencari pahala rumah tangga. Hal baru yang Rani rasakan.
Rani mengerti alasan para asisten rumah tangga mereka diliburkan. Ia juga mulai paham dengan kode yang suaminya berikan.
Ia harus paham ketika Raja mengatakan akan makan siang dirumah dan meminta Rani menyiapkan hidangan yang panas. Atau ketika Raja memintanya untuk menyiapkan bathtub dengan hangat ketika pria itu pulang bekerja. Atau ketika pagi hari Raja meminta memasak dengan mesra. Begitu juga dengan menonton, menyambut tamu dan yang paling membuat Rani malu adalah berenang. Rani takut ada yang melihat kegiatan mereka dalam air itu. Meski tak mungkin penjaga keamanan rumah mereka datang hingga kesana. Namun tetap saja Rani was-was, takut ada tamu tak diundang yang datang.
Raja tak melepaskannya begitu Rani mengatakan sudah tak sakit lagi. Ia hanya bisa beristirahat ketika Raja berada dikantor. Jika suaminya dirumah, Raja selalu saja mengajaknya berhubungan dengan dalih mencari pahala.
Siang itu ketika ia tengah bersantai menonton televisi dengan setengah mengantuk, bell rumah berbunyi.
Ia tahu itu bukan Raja. Karena pria itu belum lama berangkat ke kantor setelah mengambil hidangan makan siangnya. Dan tidak mungkin juga Raja membunyikan Bell saat pria itu memiliki kunci sendiri.
Dengan langkah kaki terseok, Rani menuju pintu depan yang terasa sangat jauh untuk tubuh lelah dan mengantuknya. Ia menyesali Raja membangun rumah luas seperti itu. Akan lebih mudah jika rumah mereka sederhana.
"Mama?" serunya begitu membuka pintu dan mendapati ibu Lintang berdiri dengan menenteng peperbag dengan nama restoran yang sering Raja kunjungi. Ia mengambil tangan kanan ibu Lintang dan menciumnya khidmat. "Mama kok tidak bilang mau kesini. Rani jadi tidak bisa menyiapkan apa-apa."
"Tidak apa sayang." wanita senja itu membelai kepalanya yang terbalut hijab instan yang langsung ia kenakan ketika mendengar Bell tadi. "Kemarin Maira main ke rumah. Dia bilang kamu sudah satu minggu tidak masuk kantor. Mama khawatir kamu diapa-apakan sama Raja."
Rani meringis dalam hati. Ia memang di apa-apakan oleh Raja. Tapi bedanya bukan dengan kekerasan yang ibu Lintang bayangkan. Ia disiksa dengan nikmat.
"Kak Raja baik kok mah, sama Rani." ia mengajak ibu mertuanya itu untuk masuk kedalam rumah. Mengajaknya duduk diruang keluarga.
"Tapi kamu jadi kurus begini? apa disini tidak ada asisten rumah tangga? apa Raja memaksa kamu membersihkan rumah sebesar ini sendiri? itu alasan kamu tidak masuk kantor?"
Rani genggam tangan hangat yang membelai pipinya itu. "Kak Raja bahkan tidak membiarkan Rani memasak. Jadi mana mungkin kak Raja membiarkan Rani membersihkan rumah ini sendiri."
Rani tidak bohong. Karena selama satu minggu ini, Raja selalu memesan makan mereka dari luar. Hanya dipagi hari saja terkadang Raja menginginkan masakannya. Selebihnya Raja selalu memesannya direstoran langganan. Tak mengizinkan Rani kelelahan kecuali dalam hal melayani pria itu.
Rani tak berani mengatakan alasannya tidak masuk kantor. Selain bingung bagaimana mengatakannya, ia juga merasa malu.
"Lalu dimana asisten rumah tangga kalian?"
"Mereka hanya bekerja pagi hingga sore. Tapi kebetulan mereka sedang cuti, mah."
"Cuti? semua?" Rani mengangguk. Mengiyakan. "Kenapa kamu izinkan mereka cuti bersama seperti itu? setidaknya sisakan satu atau dua untuk bersih-bersih."
"Kak Raja memanggil jasa kebersihan dua hari sekali mah."
Rani memakan semua dessert yang ibu Lintang bawa. Mereka mengobrol menghabiskan waktu siang itu dengan mendengarkan cerita ibu Lintang dalam berumah tangga.
Dari cerita sedih ketika ibu Lintang yang sudah sangat menantikan seorang buah hati tapi harus merelakan kehilangan calon bayinya karena kecerobohannya sendiri. Ibu Lintang bahkan menangis dan terlihat amat kesakitan. Seakan cerita itu baru terjadi kemarin.
Rani juga baru tahu kalau ibu Lintang pernah menikah dengan pria lain sebelum menikah dengan pak Rasya yang juga berstatus duda yang memiliki dua anak. Yang ternyata mantan kekasih masa remaja ibu Lintang.
Sesekali Rani tertawa ketika beliau menceritakan sikap manja suaminya. "Mas Rasya tuh dulu manja sekali dengan bundanya. Mungkin karena dia hanya hidup dengan orang tua tunggal dan tidak ada sosok ayah yang seharusnya mengajarkan jika seorang pria itu harus mandiri."
Rani sedikit banyak tahu kisah keluarga Shandika. Seorang penulis kenamaan menulis buku biografi keluarga Shandika. Yang tentu saja atas izin dari keluarga suaminya.
Buku yang berisi kisah Ibu Karina yang membesarkan ketiga anaknya tanpa seorang suami yang meninggal karena kecelakaan ketika wanita itu tengah hamil tua. Dan pak Rasya adalah anak bungsu yang terlahir setelah ayahnya meninggal.
"Kami bahkan putus dengan alasan mama manja dan tidak bisa memanjakan mas Rasya." ibu Lintang terlihat cantik saat tertawa dengan matanya yang membentuk bulan sabit. "Tapi setelah kami menikah, mas Rasya tuh suami yang baik banget. Tanggung jawabnya tidak perlu diragukan lagi. Amat menjaga kami bahkan terkesan over protektif."
Melihat dari interaksi ibu Lintang dan Pak Rasya saat ini pun, Rani masih bisa melihat keharmonisan keluarga mereka. Masih terlihat amat saling menyayangi.
"Dulu papinya Raja yang selalu berebut untuk tidur dipangkuan mama. Dan saat-saat seperti itu justru yang membuat mama merindukan papinya Raja."
Rani menghela napas ketika melihat ibu Lintang kembali menangis. Ia mendekat dan memeluk tubuh senja yang bergetar itu.
"Mama tahu, meski Raja tidak pernah menangis. Meski dia tidak pernah menanyakan kedua orang tuanya. Tapi dia pasti sangat merindukan mereka. Atau bahkan Raja masih kesakitan jika mengingatnya."
Setelah mendengar itu, bayangan Raja yang setiap malam bermimpi buruk terlintas. Apa mimpi yang Raja alami ada hubungannya dengan orang tua kandungnya itu?
Derap langkah kaki cepat yang terdengar membuat dua wanita yang masih saling berpelukan itu menoleh kesumber suara. Wajah semangat Raja yang beberapa hari ini Rani lihat menjadi tujuan mereka. Tapi seketika wajah itu berubah lesu dengan bahu yang melemas. Membuat Rani menahan tawanya mati-matian.
"Mama kenapa disini?" pria itu mengendurkan dasi yang masih dikenakan. Melepas jas dan menyampirkannya begitu saja dikepala sofa. Menjatuhkan diri disebelah Rani dan menjatuhkan dahi dibahu kecilnya. "Kenapa tidak bilang mama disini?" bisikan dari Raja membuat pertahanan Rani jebol dan tertawa.
Ia tahu apa yang dipikirkan suaminya. Raja memintanya untuk menyiapkan hidangan diruang keluarga. Tapi Rani bahkan lupa sejak kedatangan ibu Lintang dan mendengarkan wanita itu bercerita. Dan ia lupa memberi kabar pada suaminya.
*
*
*