You're My Antidote

You're My Antidote
Honeymoon



Pukul setengah sembilan malam Raja dan Rani sudah kembali berada didalam pesawat setelah seharian berada dirumah sakit untuk melakukan serangkaian pemeriksaan.


Selama ini Raja dimata Rani selalu terlihat gagah dan percaya diri, tapi siang tadi ia bisa melihat kecemasan dalam diri suaminya itu saat mereka menunggu hasil pemeriksaan. Tangan yang tak berhenti saling meremas. Kaki yang tak berhenti bergerak dan tak fokus ketika diajak mengobrol.


Meski sudah berkali-kali ia meyakinkan suaminya untuk tenang, nyatanya Raja tak berhenti gelisah hingga mereka dipanggil kedalam ruang praktek dokter kenalan Raja.


Dan hasilnya sesuai yang mereka harapkan. Mani milik Raja sudah kembali mengandung sel-sel sp*rma. Kondisinya juga bagus dan siap untuk membuahi. Jadi Raja tak perlu lagi merasa bersalah jika sampai detik ini Rani belum juga hamil.


Kondisi Rani pun demikian. Rahim dan sel telurnya bagus. Jadi tidak ada lagi alasan untuk mereka merasa khawatir. Cukup nikmati saja masa-masa pernikahan mereka. Mungkin selama ini mereka hanya terlalu lelah hingga belum satu pun dari pembuahan yang mereka lakukan membuahkan hasil.


Dokter yang tahu mereka akan berbulan madu juga memberi semangat. "Pemilihan waktu bulan madu kalian tepat. Karena nyonya Rani tengah dalam masa subur. Jadi selamat bersenang-senang. Saya tunggu kabar baiknya." seraya menjabat tangan Raja sebelum mereka pamit undur diri.


Sekeluarnya mereka dari rumah sakit, senyum Raja masih belum pudar. Bukan senyum tipis seperti biasa. Tapi senyum yang amat merekah. Seperti saat mereka selesai melakukan malam pertama. Senyum yang Rani yakin belum ada yang pernah melihatnya.


Dan kini, Raja tengah menggenggam tangannya didalam pesawat. Kebahagiaan terpancar dari wajah tampannya. Menikmati perjalanan empat jam sebelum mereka mendarat di Male. Kira-kira mereka akan mendarat pukul sepuluh malam waktu setempat, karena perbedaan waktu 3 jam antara Maladewa dan Singapura.


"Mau pesan cemilan?" tawar Raja yang Rani balas dengan gelengan. Mereka sudah makan malam sebelumnya di lounge bandara. Jadi perutnya sudah kenyang dan tak menginginkan apa pun lagi.


"Kalau begitu tidurlah. Nanti kalau sudah mau landing, aku bangunkan."


Rani tak menolak. Rasa lelah hampir seharian dirumah sakit membuatnya tak membutuhkan waktu lama untuk terlelap. Hingga sayup-sayup Rani mendengar Raja membangunkannya dan mengatakan mereka sudah akan mendarat.


Ia menarik kakinya dengan malas karena masih mengantuk. Raja juga membantu merangkul bahunya agar tak jatuh tersandung. "Dasar kungkang." ejek Raja yang kemudian terkekeh ketika ia mengerang.


Kungkang adalah hewan yang paling banyak tidur di dunia. Kungkang bisa menghabiskan waktu hingga 20 jam untuk tidur. Menyebalkan! setelah sebelumnya Raja mengatainya babi, sekarang bahkan kungkan.


"Salah siapa, semalam Rani hanya tidur sebentar?! Padahal seharian kita harus dirumah sakit!" balas Rani tak terima. Suaranya hanya terdengar seperti gumaman. Padahal niat hati ingin terdengar galak. Membuat pria yang merangkulnya itu semakin tertawa.


Sampai dimobil, Rani kembali tertidur. Tak ingat bagaimana Raja membawanya masuk kedalam hotel. Tempat mereka menginap malam itu sebelum mereka menuju pulau kecil Maldives esok hari.


***


Cahaya matahari yang menelusup jendela kamar mereka membangunkan Rani dengan panik. "Aku belum sholat!" serunya terduduk dengan kepala berdenyut sakit karena bangun tiba-tiba.


"Aku bahkan mengira kamu pingsan." suaminya yang duduk memangku tablet kembali mengejek.


"Kenapa kak Raja tidak membangunkan Rani?" ia bertanya dengan cemberut ketika suaminya itu berjalan mendekat. Tak disangka Raja melompat menindihnya. Ia yang tak siap berteriak kaget.


"Kak Raja, iih!" ia pukul bahu suaminya yang berguncang karena tawa.


"Aku sudah membangunkanmu beberapa kali. Tapi kamu malah semakin meringkuk seperti bayi." pipinya digigit gemas oleh suaminya itu. "Sampai aku reschedule pesawat ampibi yang akan kita naiki."


"kalau kamu tidak ingin kita semakin siang mendapatkan pesawat, lebih baik kamu mandi sebelum aku jadikan sarapan."


Rani berdecak dan mendorong dada suaminya. Agara tubuh berat itu menyingkir dari atasnya. "Nggak sabaran banget sih, kak!" ia berdiri dan mengambil baju gantinya dalam koper. "Tunggu sampai nanti malam." imbuhnya malu-malu.


"Oke. Aku tunggu nanti malam."


Ucapan Raja membuat pipinya benar-benar panas. Menghindari untuk semakin terjebak rasa malu, Raja berlari menuju kamar mandi.


***


Menaiki pesawat ampibi adalah pengalaman pertama untuk Rani. Disana hanya ada mereka berdua selain awak pesawat.


Rasanya tak jauh berbeda dengan menaiki pesawat terbang biasa. Yang membedakan adalah ketika mereka mendarat. Guncangannya cukup terasa saat kaki pesawat menyentuh air. Ia yang kaget langsung memeluk Raja yang duduk disampingnya.


Pemandangan dari antas pesawat sangat indah. Terlalu sayang untuk Rani lewatkan. Ia mengabadikannya melalui kamera ponselnya. Hamparan laut dan pulau pasir putih yang terlihat sangat cantik. Terlihat menyejukan di cuaca yang cukup panas.


Setelah mendarat ditengah laut, mereka masih harus menaiki speadboat untuk mencapai daratan. Rani kira pesawat itu akan mendarat di bibir pantai. Tak mempertimbangkan beratnya pesawat yang tak mungkin bisa mendarat diatas air yang dangkal.


Mereka mendapat sambutan dan welcome dring sebelum mereka diantar dengan kendaraan- yang entah apa namanya Rani tidak tahu-menuju resort yang jika harus berjalan kaki Rani yakin bukannya bersenang-senang ia justru memilih tidur karena kakinya yang terasa pegal.


Penduduk disana 100% muslim. Bahkan tidak ada tempat seperti club malam dan makanan seperti daging babi yang di sediakan. Membuat Rani bersyukur tidak perlu bingung memilih makanan yang halal.


Resort mereka cukup luas. Resort yang terletak paling pinggir diantara jajaran resort lainnya. Ada ruang berisi sofa untuk bersantai dan meja makan juga selain kamar tidur. Dibagian belakang ada kolam renang pribadi. Meski dibawah mereka sudah laut dengan air sebening kristal yang tak terlalu dalam.


Sepertinya mereka akan menjadi manusia air untuk beberapa hari kedepan. Karena mereka memang dipulau kecil yang seluruh destinasinya adalah laut. Tapi Rani menyukainya. Ia lebih menyukai laut dari pada gunung. Ia rasa Raja juga menyukai hal yang sama dengannya.


"Apa kamu menyukainya?"


Rani tengah menatap hamparan laut dibelakang resort ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Hidung Raja sudah menyusuri lehernya yang tentu saja masih tertutup hijab.


"Suka bangeeettt." jawabnya semangat. "Terimakasih ya kak. Berkat kak Raja, Rani bisa sampai sini."


Mungkin jika bukan karena acara bulan madu ini. Jika ia belum menikah dengan Raja. Ia pasti akan kembali berpikir ribuan kali untuk berlibur mewah seperti saat ini.


*


*


*