
Melihat wanita yang dicinta bersedih untuk laki-laki lain, siapa yang tidak kesal. Tidak cemburu.
Beberapa hari ini Raja hanya berusaha mengerti perasaan sang istri. Tahu seperti apa hubungan Rani dan Haikal selama ini. Meski ia tak suka dengan fakta Haikal menyukai istrinya. Bahkan sampai jatuh sakit setelah Rani menikah dengannya.
Tapi melihat bekas air mata di wajah sang istri yang selalu menyambutnya pulang dengan sebuah senyuman, membuat Raja tidak dapat lagi menolerir Haikal. Karena ia yakin alasan istrinya menangis adalah Haikal. Dan kini ia sangat ingin mengahajar Haikal yang sudah membuat Raninya meneteskan air mata. Sayang pria yang sangat ingin ia buat babak belur itu tengah terbaring tak berdaya diatas brangkar rumah sakit.
Bukan niatnya untuk mengawasi Rani. Ia hanya meminta salah satu orang kepercayaannya menjaga istrinya itu. Karena Raja sadar memiliki banyak musuh baik bisnis maupun wanita-wanita yang merasa dia sakiti.
Dari orang kepercayaannya itu Raja tahu jika Haikal sudah sadar dan menolak kehadiran Rani dan membuat istrinya itu pulang dengan bersedih.
"Kenapa tidak bilang pulang secepat itu? kan aku bisa jemput."
Rani yang berada dalam pelukannya menggeleng dan menjawab. "Kak Raja pasti sibuk di kantor. Lagian Rani bisa pulang naik taxi."
Rani membantu melepas jas dan dasi yang kenakannya. Dan bertanya saat dia menolak diajak kekamar seperti biasa. "Tidak mandi dulu kak?" tanya sang istri ketika ia menggulung lengan kemejanya.
"Kamu mau makan apa? biar aku masakin."
Mungkin memasak cukup mengalihkan pikiran Raja. Meski tidak untuk Rani. Tapi Raja harap dengan masakan yang ia buat, bisa sedikit menghibur istrinya.
Senyum dari sang istri semakin membuatnya semangat untuk memasak. Tapi ia tidak bisa memasak apa yang istrinya inginkan karena bahannya yang tidak ada. Jadilah ia mengolah bahan yang ada didalam kulkas.
"Sepertinya si mbak belum belanja. Masak pasta tidak apa-apa kan? atau kamu mau menungguku berbelanja dulu?"
Lagi-lagi istrinya tersenyum. Kali ini dengan sebuah pelukan hangat yang jarang sekali istrinya inisiatif untuk melakukannya.
"Pasta juga cukup, kak. Biar Rani bantu." Tapi tentu saja Raja menolak. Dia ingin menghibur istrinya dengan masakan yang ia buat. Bukan memasak bersama.
Setelah meminta Rani untuk duduk diseberang konter, Raja mulai menggerakkan tangannya untuk memasak sebuah pasta menjadi lebih spesial.
Tak butuh waktu lama hingga pasta dengan toping udang dan brokoli tersaji dihadapan sang istri. Dengan sausnya yang krimi.
"Makan yang banyak." ucapnya menyentuh rambut sang istri yang tak terbalut hijab. Terlihat lahap memakan pasta yang masih mengepulkan asap. Sesekali menyelipkan rambut yang jatuh melewati bahu saat istrinya itu menunduk. Sesekali juga melempar senyum manis untuknya.
"Makan yang benar." ucapnya lagi menyeka saus pasta yang ada di ujung bibir Rani. Merasa senang istrinya kembali tersenyum. Mengingat raut wajah Rani saat ia pulang tadi, membuatnya berubah serius. "Cukup kali ini saja kamu menangisi pria lain. Jangan pernah lagi." ucapnya dengan lembut tapi tegas.
***
Rani memang cukup sedih dengan Haikal yang terlihat marah padanya. Atau bahkan pria itu membencinya.
Waktu yang mereka habiskan bersama selama puluhan tahun membuatnya tidak bisa menerima akhir yang seperti itu.
Rani sudah menganggap dan menyayangi Haikal sebagai teman, sahabat bahkan saudara. Tidak pernah sedikitpun ia mengira hubungannya dengan Haikal akan berakhir dengan buruk.
Raja juga masih tak bertanya apa pun ketika sampai dirumah. Padahal Rani yakin mata dan hidungnya masih merah setelah tak kuasa menahan air mata dan menangis seorang diri.
Raja malah menawari untuk memasak. Membuat perutnya yang hanya terisi sedikit makanan sebelum berangkat kerumah sakit kini terasa lapar dan tak menolak tawaran suaminya. Meski tawaran untuk membantu ditolak begitu saja oleh Raja.
Masakan Raja tak pernah membuatnya kecewa. Hanya mencium aromanya saja sudah membuat perutnya keroncongan. Entah dimana pria itu belajar masak. Sisi lain yang berbanding terbalik dengan yang ia ketahui sebelum menikah.
Raja mengusap rambutnya dan memintanya makan yang banyak. Mungkin suaminya itu bisa melihat dia yang kelaparan dari caranya makan. Dan perkataan Raja selanjutnya membuat ia membeku dan merasa bersalah.
"Cukup kali ini saja kamu menangisi pria lain. Jangan pernah lagi."
Ia angkat perlahan wajahnya dan menoleh menatap sang suami yang kali ini menampilkan Ekspresi tegas. Bahkan otot rahangnya terlihat mengetat.
"Aku tidak melarangmu berteman dengan Haikal. Tapi karena sekarang kamu sudah menjadi istriku, maka bertemanlah sewajarnya."
"Maaf kak." cicitnya takut. Menelan pasta terakhir dalam mulut.
"Tidak perlu meminta maaf. Kamu hanya perlu tahu kalau suamimu pencemburu." Raja mengusap kelopak matanya yang seketika terpejam mendapat sentuhan lembut itu. "Aku tidak suka berbagi. Termasuk sekecil apa pun perasaanmu."
Raja berdiri dan membereskan piring kosong mereka. "Kamu bisa tegas dengan perasaanmu sendiri." Rani menatap punggung lebar yang tengah mencuci piring itu. "Kalau kamu masih merasa sedih untuk pria lain. Aku bisa melepaskanmu meski tak ingin."
"KAK!" serunya tak terima dengan apa yang suaminya katakan. Bagaimana bisa Raja dengan mudahnya berkata seperti itu.
"Aku hanya tidak ingin kamu bersedih." sahut Raja berbalik menatapnya. Melepas sarung tangan mencuci dan meletakannya sembarangan. "Jika berada disisiku membuat kamu menangisi pria lain. Aku bisa membebaskanmu dari rasa sedih itu."
Rani sudah akan membantah, tapi langsung disela Raja yang menumpukan tangannya diatas konter dan mencondongkan tubuh kearahnya. "Untuk itu, jangan pernah menangisi pria lain. Tunjukkan padaku kalau kau bahagia berada disisiku." tatapan pria itu tajam menghujam pandangannya.
Tak tahan, Rani beranjak dari duduknya dan memutari konter untuk dapat memeluk sang suami dan menangis disana. Bersandar didada bidang yang menjadi tempat ternyamannya setelah menikah.
"Maaf kak. Rani janji tidak akan menangis untuk pria lain lagi. Rani akan lebih sedih tanpa kak Raja. Kak Raja tidak boleh berkata seperti itu lagi."
Raja membalas pelukannya dengan hangat. Mengusap punggungnya naik turun. "Aku hanya takut membuatmu sedih dan kehilanganmu." bisik Raja ditelinganya.
Cukup lama mereka saling berpelukan, hingga entah bagaimana bibir mereka sudah saling bertaut. Hanya suara dari decapan bibir mereka yang terdengar diruangan itu. Ciuman menenangkan yang berubah semakin panas.
Dan dengan mudah Raja mengangkat tubuh Rani dan mendudukannya diatas konter. Meminta penuntasan untuk apa yang sudah mereka mulai dihari yang masih sore.
*
*
*