
Ditengah makan malam, datang seorang gadis dengan penampilan yang berantakan namun terlihat akrab dalam keluarga Adit.
"Bundaaaa.... Nadin numpang mandi ya? Apart airnya lagi bermasalah. Semalam lembur kerjaan kantor terus baru bangun. Teman-temanku kan jauh-jauh. Cuma rumah bunda yang paling dekat." gadis itu berkedip lucu ke arah bunda Adit.
"Rumah nyokap lo cuma kehalang tembok di sebelah." cibir Adit mengalihkan atensi gadis yang tadi Rani dengar bernama Nadin itu.
"Adit!" tegur sang bunda.
"Eh. Lagi banyak tamu, ya? jadi mal---Ooo KAK RAJA!" pekik Nadin di akhir. Berjalan cepat ke arah Raja. Tak peduli dengan apa yang Adit katakan.
Jika benar orang tua gadis itu tinggal di rumah sebelah rumah Adit, Rani heran. Kenapa Nadian malah numpang mandi di rumah adit alih-alih pulang ke rumah orang tuanya sendiri.
"Jauh-jauh! kamu bau!" dorong Raja di dahi gadis itu dengan telunjuknya.
Nadin memanyunkan bibirnya. "Padahal aku tetep wangi lho kak, meskipun terakhir mandi kemarin pagi."
Rani meringis dan mengusap perutnya. Semoga anaknya tidak memiliki kebiasaan buruk seperti itu, kelak.
"Padahal aku kangen lho sama kak Raja. Kita kan terakhir ketemu sebelum aku ke LN." Nadin sudah akan memaksa memeluk Raja sebelum kemudian suara bunda Adit menginterupsi.
"Mandi dulu sayang.. Kamu bikin Raja dan yang lain tidak nyaman. Masuk kamar tamu. Baju-baju kamu di lemari."
"Makasih bunda.. Bunda emang terbaik." Nadia mengecup sebelah pipi bunda Adit dan menjulurkan lidah pada Adit, Nadia berlalu dari ruang makan.
"Maaf ya Rani.. Maina.. Nadia memang anak yang kelewat aktif." ucap Bunda Adit dengan sungkan. Dari cara bunda Adit meminta maaf hanya padanya dan Maina, semakin meyakinkan Rani jika Raja juga mengenal baik gadis yang baru saja berlalu itu.
Rani dan Maina sama-sama tersenyum mengangguk. Cara bunda Adit menyebut sikap Nadia dengan kelewat **a**ktif itu terdengar manis karena di ucap dengan penuh kasih sayang.
Makan malam kembali berlanjut dengan beberapa obrolan ringan hingga selesai dan bunda Adit pamit menemani Citra untuk tidur karena gadis cilik itu sudah menahan kantuk.
Adit mengajak yang lain untuk berpindah ke ruang keluarga. Setelah sebelumnya ayah dari pria itu juga pamit karena masih ada pekerjaan penting.
Ini adalah kali pertama Rani berkunjung ke rumah itu. Matanya memindai ruang keluarga yang banyak di gantung foto-foto keluarga dalam momen-momen spesial.
"Itu foto kak Adit waktu baru lahir?" tanya Rani menunjuk bayi merah yang tengkurap- membelakangi kamera-dalam dekapan bunda Adit dalam garis wajah yang terlihat lebih muda. Wajah penuh haru dan kebahagiaan yang pekat terasa.
"Sepupu gue."
"Sepupu?" tanya Rani bingung. Kalau begitu, apa Adit hanya anak sambung bundanya?
"Itu adik kembar bunda. Dan foto terakhir beliau sebelum meninggal karena pendarahan."
"Ooh.. Maaf kak." sesal Rani. Kali ini rasa ingin tahunya membuat ia merasa tidak enak hati.
"No problem. Mungkin lo juga harus tahu ini. Biar kalau suatu hari nanti lo dengar dari orang lain, kalian pihak panti nggak salah paham."
Rani mengerutkan dahi tidak paham. Apa hubungannya saudara kembar bunda Adit dengan panti.
Dan terbukalah alasan di balik niat bunda Adit mengadopsi Citra sebagai anak angkat.
"Adik bunda namanya Shanala.. Beliau menjadi istri simpanan kekasih pertamanya yang menikah karena sebuah perjodohan."
Rani berusaha keras menguasai ekspresinya. Tidak ingin Adit merasa tersinggung dengan respon terkejutnya.
Rani membekap mulutnya. Ternyata ada lagi kisah menyedihkan seorang ibu yang memperjuangakan anaknya selain Rere.
"Bunda sangat merasa bersalah pada tante Shan. Tapi meski Citra di adopsi sebagai penebus rasa bersalah bunda. Bunda tetap menyayangi Citra dengan tulus. Jadi kalian tidak perlu khawatir."
Rani mengangguk. Tak pernah meragukan kasih sayang bunda Adit untuk Citra.
"Awalnya bunda mau merawat anak itu dan mengakuinya sebagai anak kandungnya sendiri. Tapi kakek tidak mau mendengar. Dan siapa pun yang menolong anak itu akan di keluarkan juga dari daftar keluarga."
"Jadi anak itu masih hilang sampai sekarang?" Maina yang juga ikut mendengarkan mulai bertanya penasaran.
"Kakek meninggal beberapa tahun lalu. Jadi kami baru mengusahakan untuk mencarinya. Mencari hampir di seluruh kantor polisi dan rumah sakit, apa ada penemuan bayi di tahun itu."
"Dan belum ada hasil?"
Adit menatap Maina dan menggeleng. "Ada beberapa yang kami temukan. Tapi setelah kami melakukan tes DNA, nggak ada yang cocok."
"Kalau panti asuhan?" Rani ikut menyarankan. Sebagai anak yang di buang di panti, siapa tahu hal itu terjadi juga pada sepupu Adit.
"Kami pikir, kalau memang kakek membuang bayi itu di panti asuhan, pasti bukan panti yang dekat dari sini. Karena bagaimana pun ayah dari Raisa juga mencarinya."
"Tapi kadang, tempat yang teraman, justru di sarang musuh itu sendiri." Raja yang Rani yakin sudah mengetahui cerita ini pun ikut berkomentar. Rani mengangguk setuju. Tidak ada salahnya mereka mencari dari tempat terdekat.
"Setiap panti, biasanya mencatat hari dan tanggal anak yang mereka temukan atau sengaja di titipkan pada mereka. Bahkan foto pertama saat mereka datang sebagai penghuni panti pun ada. Sebagai dokumentasi atau jika suatu hari nanti ada orang mencari anaknya yang hilang."
"Benarkah?!" suara bunda Adit mengalihkan tatapan mereka semua. Disebelah bunda Adit, berjalan Nadia.
Rani mengangguk dan menambahkan. "Bahkan ada yang mencatat secara detail seperti panti tempat Rani di besarkan. Ibu panti mencatat detail cuaca hari itu dan bagaimana kondisi Rani dan yang lain saat di temukan."
"Apa kamu bisa membantu bunda untuk mencari Raisa, Nak?" bunda Adit duduk di sebelah Rani dan meremas tangannya erat. Sarat permohonan.
"Nanti coba Rani tanyakan di panti." jawab Rani. "Apa bunda ingat hari dan tanggal Raisa dibawa pergi?"
Bunda Adit balas dengan anggukan antusias. "Kejadiannya sudah 20 tahun lebih. Tapi bunda masih ingat karena itu tepat hari kematian saudari bunda."
Rani mengangguk. Akan mudah jika mereka mengetahui detailnya.
"Apa ada foto bayi Raisa yang lebih jelas? meskipun wajah bayi hampir semuanya sama. Tapi Rani rasa, pasti mereka memiliki hal istimewanya sendiri."
"Ada. Sebentar." bunda Adit sangat terlihat antusias dan berlalu memasuki kamarnya.
"Rani tidak menjanjikan apa pun, kak. Jadi tolong kak Adit juga bisa meyakinkan bunda untuk tidak kecewa apa pun hasilnya."
Adit hanya mengangguk.
*
*
*