You're My Antidote

You're My Antidote
Manja



Karena akhir pekan dan suaminya berada di rumah, Rani membatalkan niatnya untuk kembali menjenguk Haikal dirumah sakit.


Ia masih memerlukan waktu untuk menenangkan hati untuk tak lagi bersedih jika nanti kembali mendapat penolakan dari sahabatnya itu.


Dan hal yang paling penting adalah izin dari Raja. Apa lagi suaminya sudah dengan tegas mengatakan jika pria itu tidak suka.


Raja tetap sibuk dengan pekerjaannya meski akhir pekan. Kabiasaan suaminya belum keluar jika belum jam makan siang.


Untuk mengisi kesendiriannya, Rani memilih membaca buku yang ia bawa dari panti. Dia suka membaca, tapi belum memiliki waktu pergi ke toko buku untuk mencari bacaan yang baru. Jadi ia harus puas dengan buku yang sudah puluhan kali ia baca itu.


Duduk meluruskan kaki didekat kolam renang ditemani minuman dingin dan cemilan cukup menghibur akhir pekannya.


Jika sudah tenggelam dalam bacaan, Rani sering kali lupa daratan. Tidak sadar akan sekitar seperti saat ini. Hingga Raja menindih setengah tubuhnya dan meletakan kepala tepat diatas perutnya.


Rani hanya melirik kebawah dan tersenyum. Tangannya membelai rambut Raja yang terasa lembut. "Tumben manja." Rani meletakan buku di meja samping dan memfokuskan diri pada sang suami yang semakin menenggelamkan wajahnya pada perut rata miliknya.


Raja sedikit mendongak dan berucap. "Biarkan aku menikmati momen ini." ada rasa bahagia yang bisa Rani lihat dipancaran mata milik suaminya. Tapi ada pancaran sendu dan kerinduan juga yang terasa menyakitkan bahkan untuknya yang hanya bisa melihat.


"Karena ini pertama kalinya aku dimanja seperti ini." nada suara Raja terdengar getir dengan senyum mengejek diri sendiri. "Tidak ada tempat untukku bermanja sejak aku kecil."


Rani bingung bagaimana menanggapinya. Sedangkan Raja amat sensitif jika menyangkut orang tua kandungnya.


"Bukannya mama sangat sayang dan memanjakan kak Raja?"


"Hmm." Raja bergumam mengiyakan. "Tapi bukan manja yang seperti ini."


Rani semakin tidak mengerti. Ia kira hidup menyedihkan tanpa orang tua hanya akan dirasakan oleh orang-orang sepertinya yang berasal dari panti asuhan.


Meski ia tahu Raja sensitif jika tentang orang tua. Tapi ia rasa Raja tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kakek dan nenek yang sekarang berperan sebagai orang tuanya itu.


"Mama hanya sesekali memeluk atau mencium dahiku. Berusaha mengisi kekosongan yang aku rasakan. Padahal kekosongan itu selamanya tidak akan pernah terisi oleh siapa pun."


Meski suara Raja sedikit teredam karena pria itu kembali menyandarkan kepala di atas perutnya. Rani masih bisa mendengar dengan jelas suara yang terdengar berat saat bercerita itu.


"Papiku juga sibuk bekerja saat itu. Aku bahkan hampir tidak pernah melihatnya pulang. Kami hanya bertemu saat sarapan. Dan sejak kecil aku tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu. Apa lagi berharap bisa bermanja-manja seperti ini. " lagi-lagi Raja terkekeh mengejek dirinya sendiri. Hal yang Rani tak suka. "Aku juga tidak berani melakukan hal ini pada mama Lintang. Karena meskipun mama sangat menyayangiku, masih ada rasa sungkan mengingat statusku hanyalah cucu sambung. Apa lagi, aku sudah begitu banyak mengambil kasih sayang mama yang seharusnya juga dibagi untuk anak dan cucunya yang lain."


Rani cukup mengerti perasaan Raja. Sama sepertinya yang begitu disayang Ibu Lintang sejak kecil. Tapi tetap saja ada rasa sungkan karena dia bukanlah siapa-siapa. Meski seharusnya Raja tidak merasa seperti itu karena mereka masih memiliki ikatan kekeluargaan.


"Baiklah. Kalau begitu kak Raja boleh bermanja sama Rani. Lakukan apa yang ingin kak Raja lakukan sejak kecil."


"Janji tidak protes ya?" Raja mendongak dengan suara dan ekspresi yang lebih riang dari saat bercerita tadi.


"Iya. Bukannya kak Raja bilang mau membangun keluarga impian dengan Rani? jadi ayo kita lakukan hal yang ingin kita lakukan. Karena yang kak Raja rasakan, Rani juga lebih merasakannya." Rani tangkup wajah Raja dengan kedua telapak tangannya. Mengusap lembut disana.


"Itu hal yang paling aku takutkan saat memutuskan untuk menikah. Nasib anak-anak." sahut Raja.


"Untuk itu kita harus belajar menjadi orang tua yang baik. Jadikan pengalaman buruk kita tentang orang tua sebagai pelajaran."


Raja mengangguk dan mengusap perut Rani. "Apa anak kita sudah mulai tumbuh?"


"Entahlah." jawab Rani dengan malu. Ia malu karena Raja masih membelai dan mencium perut rata miliknya.


Lagipula mereka baru melakukannya beberapa minggu. Mana mungkin sudah ada janin yang tumbuh dalam perutnya.


"Aku khawatir operasinya tidak berhasil." suara Raja kembali terdengar sedih.


"Kalaupun tidak berhasil. Masih banyak anak panti yang membutuhkan orang tua seperti kita." balas Rani. Tidak ingin membuat Raja merasa bersalah. Karena keputusan Raja dimasa lalu, tidak untuk Rani persalahkan. "Tapi masih banyak waktu untuk kita berusaha mendapatkan anak kandung kita sendiri kan, kak?"


"Hmm. Aku akan lebih berusaha lagi membuatmu hamil. Nanti aku konsultasikan lagi dengan dokter kenalanku. Gaya seperti apa yang bisa cepat membuatmu hamil."


"Kaaak!" seru Rani. Tahu jika suaminya tengah menggoda dirinya. Karena tak lama setelahnya Raja tertawa melihat ekspresinya.


"Kita kan harus berusaha sayang.. Dan apa yang aku katakan tadi termasuk dalam usaha. Mempelajari dari ahlinya."


Rani berdecak dan menyingkirkan kepala Raja dari atas perutnya. "Kamu sudah berjanji untuk tidak protes!" tapi Raja justru memeluk pinggangnya erat.


"Apa yang kak Raja katakan tadi bukan berusaha agar aku cepat hamil! tapi berusaha mencari posisi yang pas untuk kakak sendiri." cebiknya kembali membiarkan posisi Raja.


"Bukannya kamu juga suka?" Raja menatapnya dengan senyum menggoda. Semakin tertawa saat ia berteriak kesal.


Raja sekarang berubah lebih menyebalkan dari sebelum menikah. Suaminya itu senang sekali menggoda dan membuat ia marah. Tapi Rani selalu suka melihat Raja yang tertawa usai berhasil membuatnya kesal.


Mungkin sudah hukum alam. Dia harus membayar untuk apa yang ia dapatkan. Seperti kasus kali ini. Rani harus membayar dengan keikhlasannya dibuat kesal demi bisa mendengar tawa renyah milik Raja. Jika begini, ia rela setiap saat dibuat kesal asal Raja selalu tertawa bersamanya.


Setelah puas bercanda bersama, pesanan Raja untuk makan siang sampai. Ditengah makan, Raja memberitahu jika sore ini Haikal sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Raja juga bertanya apa ia ingin datang menjemput.


"Memangnya boleh?" tanyanya ragu. Takut jika Raja marah.


"Aku hanya melarangmu untuk menangisi pria lain. Bukan melarangmu bertemu dengannya." Raja mengedik dan menyuap makanan kemulut. "Asal kamu tidak sembunyi-sembunyi untuk menemuinya."


*


*


*