You're My Antidote

You're My Antidote
Rasen & Raisa



Anak kembar Raja dan Rani adalah cicit, cucu dan anak pertama dalam keluarga. Jadi acara pemberian nama sekaligus aqiqah di adakan cukup meriah.


Beberapa pemuka agama yang mengisi pengajian dan memipin doa. Hafidz dan hafidzah yang dengan merdu melantunkan ayah suci Al-Quran. Juga anak-anak panti dan sanak saudara juga kerabat dekat yang tak ketinggalan meramaikan acara.


Bayi kembar mereka juga bisa bekerja sama dengan tidak rewel selama acara. Bahkan terlihat lebih anteng dari biasanya.


Bayi kembar yang mereka beri nama Rasendria Adhitama Shandika yang dipanggil Rasen dan Raisa Alana Shandika.


Rani sudah cukup nyaman dengan nama yang disandangnya saat ini. Hingga nama yang sempat almarhum ibunya berikan untuknya, kini ia sematkan sebagai nama putri kecilnya.


Hampir tiga jam acara berlangsung hingga rumah benar-benar sepi dan hanya menyisakan keluarga dekat. Beruntung Raja memiliki ruang tamu dan keluarga yang cukup luas hingga tidak perlu malakukan acara syukuran di hotel. Kasihan anak-anak mereka jika harus di boyong-boyong.


"Minum dulu sayang." Raja memberikan gelas berisi susu untuk sang istri. Kedua anak mereka tentu saja tengah jadi bahan rebutan untuk di gendong keluarga. "Kalau kamu lelah. Istirahat saja di kamar. Biar aku yang menemani mereka."


Rani hanya menggeleng dan menghabiskan isi gelas yang Raja berikan. "Nggak enak mas. Lagian Rani masih kuat kok."


"Ya sudah. Kalau lelah, langsung ke kamar saja, ya? mas ke sana dulu." tunjuk Raja pada beberapa teman yang ia undang. Yang tengah berkumpul dengan Adit dan Rere yang datang seorang diri tanpa anaknya.


"Ada yang mau di buatkan apa, nggak mas? kopi atau apa?"


"Tidak usah. Biar nanti aku minta si mbak buatkan. Kamu temani keluarga kita saja."


Setelah Rani mengiyakan, Raja berlalu menuju teman-temannya berada. Dimana ia belum sempat menyapa lebih lama dari sekedar say hai.


"Waah nggak nyangka gue. Bapak Raja dan ibu Rere bakal punya anak seumuran. Padahal dulu gue kira kalian bakal punya anak barengan."


Raja hanya tersenyum miring. Tahu apa yang Dani maksud. Tidak ada gunanya menanggapi serius candaan mereka yang memang terkadang keterlaluan jika terdengar oleh Rani.


"Raja mana bisa bikin gue hamil." cibir Rere. "Dia mah nggak jago di atas ranjang."


Ucapan Rere sukses membuat semua terbahak. Tentu saja kecuali Raja yang bersikap acuh.


Mereka semua masih belum tahu jika Rani dan Rere kakak beradik. Raja jamin, mereka semakin senang menjadikannya bahan ledekan jika tahu akan hal tersebut.


"Karena bapak ibunya nggak jodoh. Gimana kalau anak-anaknya aja yang di jodohin?" usul Tian ngawur. "Anak lo cewek kan Re?"


"Cewek sih. Tapi bokapnya nggak akan ridho anaknya di jodoh-jodohin." jawab Rere santai seperti biasa.


"Kenapa? doi tahu ya kalau Raja teman ranjang lo?"


Decakan keras keluar dari mulut Rere. "Lo tanya Raja deh. Anak perempuan tuh cuma milik bokapnya. Nggak bakal rela anaknya di cap milik orang lain."


"Emang iya, Ja?"


Raja mengangguk. Mena mungkin ia rela Raisa di jodohkan saat gadis kecilnya bahkan belum tahu seperti apa dunia. Terlebih ia tidak tahu akan seperti apa anak laki-laki yang di jodohkan dengan Raisa ketika besar nanti. Belum tentu keluarganya baik dan anak itu akan tumbuh dengan perilaku yang baik. Jadi Raja tidak akan menjadikan kebahagiaan putrinya sebagai barang taruhan seperti itu.


Raja saja heran dengan orang yang menjodohkan anak mereka sejak balita hanya dengan alasan orang tuanya yang berteman baik, bersahabat, cinta yang terhalang jodoh, atau perjodohan bisnis. Dimana rasa kasih mereka sebagai orang tua?


***


"Kayaknya di bawah perlu dibikin ruang bermain deh, Ran." ide Maina. "Biar mainan-mainannya bisa disimpan di sana. Jadi kamar anak-anak nggak sempit."


"Iya. Lagian ruang keluarga masih luas banget gitu. Masih bisa lah di sekat buat ruang bermain." Maira menimpali.


"Benar juga sih. Nanti deh, aku obrolin sama papanya anak-anak."


"Cieee papanya anak-anak banget nih?" goda Maira yang membuat Rani terkekeh. Mau bagaimana. Sekarang Raja bukan hanya miliknya. Tapi juga milik anak-anak.


"Jadi pengen deh. Punya papanya anak-anak." Maina ikut menambahkan hingga ketiganya tergelak bersama.


"Kamu bukannya lagi sering jalan sama Adit belakangan?"


Rani yang tengah membuka kado langsung menoleh ke arah Maira. Memastikan apa yang ia dengar tidak salah.


Tapi Maina langsung menepis gosip yang saudari kembarnya tebar dengan decakan. "Apaan! orang Adit cuma butuh teman makan aja kok. Lagian dia kan udah di jodohin sama Nadin-Nadin itu." sanggah Maina. "Inget nggak Ran? Nadin yang datang pas kita makan malam di sana lho."


Rani mengangguk. Sebenarnya ia sudah tahu Adit di jodohkan dengan Nadin. Untuk itu tadi ia kaget saat mendengar Maina dekat dengan Adit. Rasanya tidak adil untuk Nadin. Meskipun mungkin dua-duanya belum memiliki rasa untuk satu sama lain.


"Stok laki-laki masih banyak, Mai. Jangan khawatir kekurangan stok." Rani mengusap lengan Maina yang langsung di tepis dengan wajah cemberut.


"Iya. Kamu pasang foto paling seksi di akun sosmed terus kasih caption SALE. Jamin deh bakal banyak yang replay."


Rani hanya tergelak melihat Maira menyerang Maira membabi buta. Maira yang meskipun meminta ampun tapi tawanya tetap terdengar.


Pemandangan itu terlihat indah. Ada kasih sayang di antara keduanya yang terlihat jelas.


Rani berharap ketika kelak kedua kembarnya besar dan tengkar, tetap ada sayang di antara keduanya. Tetap saling mengasihi dan menjaga satu sama lain.


"Kalian pikir kalian masih anak kecil!" Raja yang baru selesai berolah raga berkacak pinggang hingga Maina beranjak dari menindih tubuh Maira.


"Maira dulu tuh, kak! masa aku disuruh ngobral diri biar dapat jodoh! mentang-mentang bentar lagi merit!"


Raja menatap Maira tajam.


"Elah kak.. Aku cuma bercanda. Maina aja yang sensitif."


Maina melirik malas pada saudari kembarnya yang cengengesan.


Rani beranjak meraih lengan suaminya dan mengajaknya ke kamar. Sebelum Raja ikut campur pada candaan Maira dan Maina yang menginap di rumah mereka setelah acara syukuran kemarin.


"Namanya juga sudara. Berantem dikit wajar mas." ujar Rani ketika Raja menggerutu tentang tingkah Maina dan Maira yang seperti anak kecil. Padahal usia keduanya sudah lebih dari seperempat abad.


*


*


*